#"Rapopo Sis" Tumblr posts

  • newsindonesiacoid
    21.10.2021 - 1 mont ago

    Wujudkan Pelayanan Informasi Masyarakat, Kapolresta Malang Kota Dirikan Podcast "Rapopo Sis"

    Wujudkan Pelayanan Informasi Masyarakat, Kapolresta Malang Kota Dirikan Podcast “Rapopo Sis”

    MALANG, (News Indonesia) – Setelah sukses meluncurkan Dispenser Masker yang merupakan kali pertama di Indonesia dengan menggandeng Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, kali ini Polresta Malang Kota kembali berinovasi meluncurkan salah satu program inovatif sebagai wadah berkomunikasi antara Polresta Malang Kota dengan masyarakat. Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto, mengatakan…

    View On WordPress

    #"Rapopo Sis" #Kapolresta Malang Kota Dirikan Podcast #Malang #Wujudkan Pelayanan Informasi Masyarakat
    View Full
  • detikkota
    16.10.2021 - 1 mont ago

    Kembali Berinovasi Polresta Malang Kota Launching Podcast RAPOPO SIS

    Kembali Berinovasi Polresta Malang Kota Launching Podcast RAPOPO SIS

    MALANG, detikkota.com – Setelah sukses meluncurkan Dispenser Masker yang merupakan kali pertama di Indonesia dengan menggandeng Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, kali ini Polresta Malang Kota kembali berinovasi meluncurkan salah satu program inovatif sebagai wadah berkomunikasi antara Polresta Malang Kota dengan masyarakat. Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto, S.I.K., M.Si,…

    View On WordPress

    #Launching Podcast RAPOPO SIS #Podcast rapopo sis #Polresta Malang Kota
    View Full
  • memorandumcoid
    17.10.2021 - 1 mont ago

    Tampil di Podcast Rapopo Sis, Gus Miftah Ajak Dukung Polisi Percepatan Vaksinasi

    Tampil di Podcast Rapopo Sis, Gus Miftah Ajak Dukung Polisi Percepatan Vaksinasi

    Gus Miftah di Podcast Rapopo Sis bersama Kapolresta Malang Kota Malang, Memorandum.co.id – Gus Miftah menjadi pengisi pertama di Podcast Rapopo Sis, (Arema Police Podcast Presisi), Polresta Malang Kota, Sabtu (15/10/2021). Tidak hanya itu, yang menjadi host adalah Kapolresta Malang Kota Akbp Budi Hermanto, sendiri. Selaku host, Kapolresta Makota, memberikan beberapa pertanyaan kepada Gus Miftah.…

    View On WordPress

    #polresta malang kota
    View Full
  • lintasbataspasuruan
    16.10.2021 - 1 mont ago

    Wujudkan Pelayanan Informasi Masyarakat, Kapolresta Malang Kota Dirikan Podcast RAPOPO SIS

    Wujudkan Pelayanan Informasi Masyarakat, Kapolresta Malang Kota Dirikan Podcast RAPOPO SIS

    MALANG  – Setelah sukses meluncurkan Dispenser Masker yang merupakan kali pertama di Indonesia dengan menggandeng Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, kali ini Polresta Malang Kota kembali berinovasi meluncurkan salah satu program inovatif sebagai wadah berkomunikasi antara Polresta Malang Kota dengan masyarakat.  Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto, S.I.K., M.Si, mengatakan…

    View On WordPress

    View Full
  • lintasbatasindonesia
    16.10.2021 - 1 mont ago

    Kembali Berinovasi Polresta Malang Kota Launching Podcast RAPOPO SIS ( Arema Police Podcast Presisi)

    Kembali Berinovasi Polresta Malang Kota Launching Podcast RAPOPO SIS ( Arema Police Podcast Presisi)

    MALANG  – Setelah sukses meluncurkan Dispenser Masker yang merupakan kali pertama di Indonesia dengan menggandeng Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, kali ini Polresta Malang Kota kembali berinovasi meluncurkan salah satu program inovatif sebagai wadah berkomunikasi antara Polresta Malang Kota dengan masyarakat.  Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto, S.I.K., M.Si, mengatakan…

    View On WordPress

    View Full
  • lintasbatasindonesia
    16.10.2021 - 1 mont ago

    Kembali Berinovasi Polresta Malang Kota Launching Podcast RAPOPO SIS ( Arema Police Podcast Presisi)

    Kembali Berinovasi Polresta Malang Kota Launching Podcast RAPOPO SIS ( Arema Police Podcast Presisi)

    MALANG  – Setelah sukses meluncurkan Dispenser Masker yang merupakan kali pertama di Indonesia dengan menggandeng Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, kali ini Polresta Malang Kota kembali berinovasi meluncurkan salah satu program inovatif sebagai wadah berkomunikasi antara Polresta Malang Kota dengan masyarakat.  Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto, S.I.K., M.Si, mengatakan…

    View On WordPress

    View Full
  • haloadenium
    26.07.2021 - 4 monts ago

    26721

    Untuk ar 10 tahun yg akan datang

    Hai ar 32 tahun, apakah masih hidup?

    Kalau kita masih hidup kita hebat

    Kita sudah melalui kiamat 2012 dan pandemi covid 2020, entah apa yang akan terjadi selama 10 tahun ke depan, mungkin akan ada serangan zombi, serangan alien, kecelakaan, krbakaran, bencana alam atau hal2 buruk lainnya

    Semoga kita tetap berjuang apapun kondisinya dan yang aku harapkan kamu masih bernapas dengan bebas di usia 32 tahun

    Tua juga ya. Aku penasaran di usia itu kamu seperti apa

    Aku 22 tahun masih sibuk revisi ga kelar2, kabur dari dosbing, guling2 di kosan, maki2 songkang dan jodante. Masih ingat kan?

    Kalau kamu bagaimana? Masih tinggal di rumah orang tua atau sudah tinggal sendiri? Sudah punya pekerjaan? Sudah punya pasangan? Masih berhubungan baik dengan teman dekat? Penampilanmu bagaimana? Apakah rambutmu berwarna merah? Apakah sudah terbiasa pakai heels walaupun cuma ke alfa? Bisa makan makanan enak? Apakah sudah punya keriput?

    It's ok kalau kamu masih tinggal di rumah oramg tua karena belum punya rumah sendiri atau ada alasan lain. It's ok kalau kamu saat sedang tidak punya pekerjaan atau pekerjaan kamu sekarang tidak menghasilkan banyak uang. It's ok kalau kamu masih belum punya pasangan atau kamu sedang patah hati ditinggal orang yang cinta. It's ok kalau teman2 kamu sudah sulit untuk dihubungi atau kamu yang sengaja menarik diri dari mereka. It's ok kalau penampilan kamu bukannya glow up malah glow down. It's ok kalau kamu masih belum sempat cat rambut kamu. It's ok kalau sekarang kamu pumya keriput. It's ok kalau kamu cuma bisa makan enak setiap ada promo aja.

    It's ok, jangan merasa bersalah dengan aku di 22 karena ga berhasil untuk mewujudkan harapan2 kecil itu. Kamu masih hidup aja itu sudah bagus, apalagi kalau benar2 di masa2 itu ada serangan zombi, wow you are alice now, keren banget berasa masuk ke dunia residen evil ya

    Intinya, tolongan ingat ini baik2. Bagaimana pun kamu saat itu, kamu sudah melakukan yang terbaik. Ga perlu banding2in sama kehidupam oarang lain, kamu udah keren banget. Ga kebayang gimana cantiknya kamu di usia dewasa, mungkin mirip artis2 di film holywood.

    Oh iya, ada pesan penting buat kamu. Jangan lupa pakai suncream, jangan lupa pakai eyescream, jangan lupa pakai skincare anti aging. Jangan makan indomi sering2. Jangan nangis kelamaan. Jangan lupa modol setiap hari. Jangan lupa olahraga. Jangan overthingking selebum tidur. Jangan malas.

    Semoga kamu ga jadi mba2 norak di sosmed yang hobinya komen2 hate ke artis atau selebgram.

    Btw kalau kamu saat itu ternyata jadi ukhti2 syar'i entah karena ikut2 temen, ikut2 tren atau dari hati. Aku mau bilang.. Widiiih keren banget sis, PANUTAAAN

    Kalo masih masih jadi mba2 asal pake yang penting nyaman, ya rapopo. Kita pasti tetep keren

    I love you so much, tetep kuat, tetep jadi orang baik, tetep folow lambe turah 👍

    View Full
  • innaramadani
    20.05.2021 - 6 monts ago

    Lebaran Pertama yang Paling Aku Benci

    Tulisan ini, aku tulis tepat saat Lebaran. Hanya saja, aku baru sempat mempostingnya. Kalau sempat juga, aku ingin tulis semua kenangan terakhirku dengan Bapakku atau biasa aku memanggilnya dengan Babe. Ya, Babeku baru saja pergi meninggalkan aku, Ibu, dan Masku untuk selamanya.

    Aku tulis hanya sebagai pengingat saja, takutnya lupa. Ya walaupun aku yakin kejadian-kejadian ini tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Bahkan sampai hari inipun, aku masih ingat setiap jam hingga menit semua kejadiaan yang terjadi.

    Jadi akan menjadi tulisan yang sangat panjang dan melelahkan untuk dibaca. Tapi tak apa, biar jadi kenanganku saja.

    -----

    Lebaran pertama tanpa Babeku.

    Kalau dibilang sedih, tidak. Kalau dibilang bahagia, juga tidak.

    Sulit sekali menggambarkan perasaanku kali ini. Tapi kalau harus menggambarkan rasanya kosong saja. Kosong.

    Seusai shalat subuh di masjid, aku tidak tidur lagi. Aku pulang kerumah dengan perasaan amburadul. Lalu aku pandangi foto wisudaku di ruang tamu. Foto dimana Babe masih ada dalam satu frame saat itu.

    "Assalamuaikum, Be. Iki wes Lebaran loh, cepeteeee. Ngaturaken sugeng riyadi ya," batinku. Aku berlagak seperti biasanya aku berbicara dengan Babeku, aku tahu fisik Babe sudah tiada tetapi aku yakin jiwa (anggap saja jin qorin) Babe masih ada. Ada dengan segala aktivitas dan inderanya yang masih lengkap.

    Keluar rumah untuk bersiap shalat Ied, hanya kami berdua, aku dan ibu yang berjalan ke masjid untuk melaksanakan Shalat Ied. Orang-orang yang berpapasan dengan kami, entah aku yang terlalu sensitif atau apa, rasanya mereka memandang dengan tatapan "berbeda". Sedikit melankolis, pikirku.

    Setiap aku mendengar takbir berkumandang, bagai tersetrum rasa-rasanya seluruh badanku bergetar. Shalat Ied ditempat dimana Babe biasa melaksanakan shalat lima waktu setiap hari. Seolah melihat Babe memasuki masjid dengan menggeser pintunya sambil berjalan tergopoh-gopoh dengan kaki yang sedikit pincang. Ia kemudian berdiri di shaf paling depan, membelakangiku dengan punggung mungil dan badan yang sulit tegak lurus.

    Aku berusaha menahan haru dengan bayangan-bayangan seperti itu, sampai aku melihat ibu yang duduk disampingku sudah terisak tangis. Aku pegang tangannya saja sambil aku berbisik di telinganya,"Istigfar, Buk." Aku sangat tenang, tak menangis sedikitpun. Hanya dzikir, berpasrah. Hanya itu yang aku bisa karena kalau mau jujur, aku benci suasana seperti ini.

    Sepulang dari masjid, Mas Agus datang kerumah dengan terburu-buru lalu memeluk Ibu. Keduanya menangis keras dibawah pajangan foto Babe saat wisudaku dulu. Yah, Babe seperti melihat adegan demi adegan yang sedang terjadi. Babe tokoh utama disini, namun anehnya raganya tak mungkin bisa "in frame" disini.

    Menyebalkan.

    Lagi-lagi, aku benci suasana ini.

    Masku terus-menerus mengutuk dirinya sendiri. Kepergiaan Babe sangat mendadak, bagai petir di siang bolong. Jadi maklumi saja betapa kagetnya keluargaku, termasuk aku. Meskipun jauh-jauh hari sebelum Babe meninggal, aku sudah merasa "tidak enak". Kejadian-kejadian yang aku alami, yang awalnya seperti kebetulan, ternyata memang sudah benar-benar diatur Allah sebagai pertanda akan adanya kehilangan. Tapi jangan menyebutnya firasat, aku tak suka frasa itu.

    Kemudian aku bilang,"Uwes, meh ditangisi, dicegat kaya opo yen dalanne semene, yowes. Dewe wes usaha, yen Allah berkehendak e ngene yowes ditompo. Dewe raiso opo-opo. Sing uwes, yowes."

    Terdengar sangat klise, kan? Entah dapat wangsit darimana aku bisa bicara seperti itu pada anak tertua yang biasanya sangat sangar. Masku seperti singa yang berubah menjadi anak kucing, mengeong-ngeong mencari ayahnya yang sudah tidak ada.

    Aku hanya tidak suka melihat kejadian menyebalkan yang diulang terus-menerus. Semakin diulang, semakin menyesakkan.

    Kemudian, aku mengajak Ibu membeli bunga untuk "nyekar". Daripada menangisi, bukankah lebih baik mengirim doa?

    Toh, mau menangis berminggu-minggu hingga air mata kering berganti darah sekalipun, Babe juga tidak akan kembali. Lalu untuk apa meratapi "banget-banget"?

    Setelah "nyekar", para tetangga berbondong-bondong silih-berganti berdatangan. Padahal aku sedang bersiap untuk mudik. Yasudah, lagi-lagi kejadiaan yang sama terulang. Ibuku memeluk orang-orang itu dengan tangisan. Mereka semua sama-sama menangis. Sepertinya hanya tangisan yang menjadi nyanyian wajib Lebaran tahun ini. Atau mungkin ini pertanda bahwa banyak sekali orang yang merasa kehilangan Babe? Hingga tangis pecah begitu berisiknya sekalipun, kita tetap sama-sama merasa kosong.

    Selepas siang, aku bersiap mudik. Sesampainya di kampung halaman ternyata keadaan sama saja. Mbah Kakung mencari dan memelukku sambil menangis.

    "Koe kok sempet-sempet men gawa oleh-oleh semene akeh e toh," kata Mbah mulai terisak.

    "Kan wes biasane ngene, nggo dibagike," kataku.

    Setiap Lebaran, menjadi kebiasaan keluargaku membawa banyak oleh-oleh ke rumah Mbah. Satu kulkas, mungkin. Literally, sebanyak itu saking banyaknya untuk dibagikan baik saudara atau tetangga. Bahkan Lebaran kali ini, (menurut mereka) aku sedang berduka tetapi masih menyempatkan diri menyiapkan semuanya.

    "Koe apik e kaya ngene kok yo durung rabi-rabi nganti Bapakmu ora enek," lanjut Mbahku.

    Deggg. Dihujam pisau saja mungkin rasanya tak sesakit ini.

    "Lah rapopo loh Mbah, ora oleh ngomong ngono, ora apik," kataku menyudahi pelukan. Biar tidak berlarut-larut dan mengulang adegan yang sama lagi.

    Aku benci suasana Lebaran kali ini. Benar-benar membencinya.

    Hampir semua orang yang aku temui hari ini, menatap dengan tatapan melankolis. Ya, wajar saja. Mereka ikut berempati terhadapku. Mungkin mereka mencoba membayangkan menjadi aku, yang tiba-tiba kehilangan Bapaknya disaat aku si anak bontot, perempuan satu-satunya bahkan belum menikah. Hah, semakin dipikir semakin aku membencinya.

    Tapi lagi-lagi, entah dapat kekuatan darimana aku tidak menangis sedikitpun. Iya, sejak Babe kritis hingga saat ini, aku akui aku cukup tegar. Seingatku, aku hanya menangis kala shalat jenazah dan shalat Subuh sehari setelah Babe pergi. Mungkin saja, Allah "kasihan" padaku hingga akhirnya memberi sedikit kekuatan-Nya padaku. Iya, rasanya ujianku sudah bertubi-tubi hingga aku sudah terbiasa dengan rasa sakit apapun wujudnya.

    Banyak yang bilang,"Mba Inna kok isoh teteg banget?" Sampai-sampai ada yang berceletuk,"Wingi Bapakmu tenanan ora enek kan?" Kalimat-kalimat tersebut muncul akibat setelah pemakaman aku tampak biasa saja dan (mencoba) bersendau gurau seolah tidak terjadi apa-apa, dibandingkan dengan Ibu yang sampai pingsan dan Mas Agus yang terus-menerus menangis hingga mata memerah saking sembabnya.

    Aku kembali menilik diriku sendiri, aku memang tak punya apa-apa. Bahkan Babeku juga bukan punyaku. Lalu apa yang harus aku tangisi?

    Hak Allah untuk mengambil apa yang menjadi hak-Nya dan kewajibanku untuk mengembalikan kepada Rabb-Nya. Semakin aku meratapi, semakin menunjukkan ketidak-ikhasanku pada kehendak Allah. Semakin pula menunjukkan bahwa aku tidak tahu diri. Tidak punya apa-apa, diberi pinjaman, lalu jatuh tempo ya harus dikembalikan. Kalau malah tidak terima dan ngambek kan tidak tahu diri namanya.

    Innalillahi wa innalillahi Raji'un. Semua milik Allah, maka kepada-Nya lah semuanya dikembalikan. Mau kemana lagi kita?

    Apalagi Babe pergi di Bulan paling baik dan dalam keadaan paling baik pula. Semua pas dan tepat menurut Allah. Alhamdulillah aku masih bersyukur diberi kesempatan 10 hari Ramadhan bersama, 10 hari Ramadhan kehilangan, dan 10 hari Ramadhan belajar mengikhlaskan.

    Saat hari raya ini pun, Babe tidak mewariskan harta, THR kali ini hanya berupa sandal jepit buluk yang selalu dipakai ke masjid dan Al Qur'an dengan lembaran terlipat tanda tak henti-hentinya dibaca. Banyaknya shaf shalat jenazah menunjukkan betapa Allah jauh lebih mencintai Babe hingga menggerakkan hati orang-orang berkumpul kala pandemi hanya untuk mengantarkan Babe ke tempat terakhirnya. Padahal aku menyimpan semuanya sendiri, tetapi Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan menghadirkan orang-orang yang aku sendiri tak pikirkan bisa datang. Setidaknya melipur lara, mungkin. Teman yang sudah lama tak pernah berhubungan pun entah tahu darimana bisa datang jauh-jauh melayat. Alhamdulillah...

    Setelah ini, aku hanya bisa mendoakan dan melanjutkan kebiasaan-kebiasaan baik Babeku. Ambil yang baik, buang yang buruk. InShaa Allah aku ikhlas.

    Aku selalu hanya minta Allah untuk jaga Babeku, mengampuni segala salah dan dosanya. Menerima segala amal-amalnya. Menempatkan Babe di tempat yang paling sejuk, nyaman, dan jangan biarkan satu cambuk siksaan apapun menyentuh kulitnya hingga mengusik tidurnya. Biar Babeku menunggu dengan sabar sampai kita sekeluarga bisa berkumpul kembali nanti di surga. Aminn.

    Allah jauh lebih besar dari segala masalahku. Jauh lebih kuat hingga mampu menutupi kelemahanku. Jauh lebih paham apa yang baik dalam setiap perjalanan hidupku. Serahkan semua pada Allah, biar Allah yang atur. Aku mah ngikut aja dengan keyakinan yang tak akan pernah habis meskipun diberi ujian berkali-kali.

    Oiya, tak lupa juga aku minta pada Allah, kalau-kalau aku kangen sekali, tolong izinkan aku bertemu dengan Babeku di mimpi. Itu saja cukup kok.

    Siapapun yang membaca tulisanku, minta tolong baca Al Fatihah untuk Babeku. Satu surah saja bisa menjadi tameng Babeku dari siksa kubur. Semoga Allah membalas satu kiriman surat Al Fatihah dengan kebaikan berlipat-ganda.

    Jadzakallah.

    View Full
  • sevenwooden
    02.04.2021 - 7 monts ago

    random krn pengen sambat jdnya. temenku P kapan itu be like: "suuu ngopi yuk, anu jak en pisan." aku: "wes putus su matane ngejak2 i." P: "matane wis putus i. yo rapopo to dijak." aku: "nesu karo aku" P: "lho nyapo?" aku: "yo gak ngerti. lek aku ngerti yo gak dinesoni." temenku P lagi (dia lagi di sby) ceritane LdR wpng jki. "suu aku kencan dong." aku: "ancok malah kencan i." P: "arep tak gae story apik ra poto ki." aku: "asline b aja, tp yo rapopolah." P nih emg tak kasih tau siapa2 aku deketnya. tp ya gak semua diceritain. trs dulu pernah ya, tp bukan P. orang lain gt. ngeselin bgt, sok iya. emang dia siapa aku harus cerita? lol pacar jg bukan. masalahnya ya, kalo w punya pacar atau gebetan, atau tmn deket, org itu tak prioritasiin buat aku cerita. walaupun kaya trauma atau apa aku masih kesulitan krn emg gak biasa cerita. lah dia siapa jg. enak aja. kalo pacar masih w coba buat cerita. temen deket jg bukan dan gak w ceritain, malah dia sok ngulik hidup orang lol. trs aku plg gak suka kalo org yang aku sayang diejek. trs aku dlm hati, emgnya sayang org lihat apanya? harus pake patokan standar? gak. w punya prinsip sendiri. misal nih w suka bibirnya, gak ada arti seksual, disitu misalnya w pikir bibir bagus. yaudh begitu doang. masalahnya prinsipku soal doi, "aku sayang dia krn itu dia. luka2 dia, marahnya, senengnya apapun itu bikin sayang." karena yang w lihat itu sisi baiknya, w jg bukan gapeka. w paham kok kenapa si itu begitu. makanya sayang. dan krn hal itu, mnrrku org itu bisa sgt hot bukan krn tubuh seksi tp misalnya cuma duduk doang kek preman bisa jd hot. plg gemes lihat cewek belajar, makan, milih buku, udh itu bikin terpukau. prinsip w satu lagi, misal doi aku komen org lain "wah si itu cantik/ganteng" ya gapapa. tp klo bilang sayang org lain atau naksir, cinta apelah baru deh itu masalah. kalo memuji biasa mah ya wajar aja sih, kek kitanya juga suka lihat org good looking kan. tp sayagnya ttp ke satu org

    View Full
  • innaramadani
    27.12.2020 - 11 monts ago

    Andin Ikatan Cinta

    Beberapa waktu lalu, aku potong rambut.

    Setelah sekian abad karena takut corona, aku mengabaikan rambut panjangku (yang sebenarnya pun kalau kata Balqis, rambutku ya nggak panjang-panjang amat).

    Mau gimana lagi, seumur hidup jarang banget atau malah nggak pernah memanjangkan rambut. Powwl paling seleher, itupun menurutku sudah terlalu panjang.

    Aku tipe cewek yang males ribet dan bagiku rambut panjang salah satu dari sumber keribetan dunia.

    Mesti butuh perawatan khusus, rajin keramas, kalau nggak bisa lepek dan apek. Belum lagi kalau keringat mengucur deras, haduh membayangkannya saja sudah risih.

    Benar-benar risih. Ditambah kulitku sensitif (elah) kalau sudah berkeringat terus-terusan gampang gatal, terutama bagian leher. Jadi mending, botak sajalah.

    Pernah saking nggak mau ribetnya, aku bilang ke Ibuk,"Buk, kalau aku botak boleh nggak? Kan jilbaban, nggak kelihatan juga."

    Jawabnya,"Ra sisan ganti kelamin?"

    Sial.

    Back to topic.

    Akhirnya aku potong rambut didekat rumah, anggap saja tetangga. Dengan riangnya si tukang cukur, yang kebetulan aku kenal juga, panggil saja Bude Sutini.

    Beliau menyambutku dengan senyum selebar buah semangka. Seperti telah ada chemistry yang mengikat Romeo dan Juliet dalam sekali pandang, tanpa aku bicara panjang-lebar maksud kedatanganku, beliau tampaknya paham.

    "Mau potong rambut to? Tak model Andin Ikatan Cinta wae ya."

    "Niku sinten?" Jawabku sopan dong.

    "Haduh, sing lagi tren kui loh. Wes pokoke jos."

    "Yawes, manut aja." Jawabku sekenanya karena lagi-lagi malas ribet. Yaampun.

    Beliau memotong rambut sambil mengajak bergosip seolah-olah aku peduli dengan berita-berita sekitar. Alhamdulillah, pernah kuliah di Komunikasi jadi paham betul bagaimana cara membangun komunikasi yang baik. Dari bicara tentang isu berat Corona sampai sereceh senam aerobik kampung yang berisi Ibuk-Ibuk penuh kewibawaan.

    Meskipun harus dengan kepura-puraan. Berlagak antusias saja.

    "Uwes selesai, apik to?"

    Aku yang menatap kaca sambil mengernyitkan dahi. Sedikit syok.

    "Kayake sing jenenge Andin i anake Alam Mbah Dukun," bantinku.

    Aku tersenyum lalu menjawab,"Josss!" Dengan tangan mengepal penuh tekanan kuat, mirip-mirip caleg lagi orasi visi-misi sambil bagi sembako.

    Aku pamit dan tak lupa aku bayar dong.

    Sesampainya dirumah. Hal pertama yang aku lakukan adalah browsing.

    Who is Andin Ikatan Cinta?

    And the answer is...

    Woalah koe toh Din Andin, jebul modelanmu kaya ngono.

    Sampai aku save di galeri HP untuk kenang-kenangan.

    Mana mirip?

    Bude budeee Sutinii, bar delok raiku sing bar potong rambut neng pikiranku malah ora kaya Andin Ikatan Cinta. Neng luweh mirip Alam Penyanyi Dangdut.

    Mari aku beri petunjuk dengan ini...

    Aku juga save screenshoot-nya.

    Lebih jelasnya. Mari kita sandingkan dan lihat perbedaannya...

    Maunya sumpah serapah, tapi percuma, sudah terlajur. Jadi bawa santai aja. Toh, aku pakai jilbab. Mau rambut kaya Alam Penyanyi Dangdut atau alam ghaib juga nggak masalah.

    Menurutku, tapi...

    Lain dengan Ibuku. Ngomel-ngomel hampir 2x24 jam dibahas terus, layaknya malaikat Atid yang mencatat sebuah dosa besar tak terampuni. Kaya o anake dadi koruptor wae.

    Aku malah menganggap ini sebuah lelucon. Sesantai itu akutu. Apa-apa ngga mau ribet, yang sudah terjadi yasudah.

    Btw aku cerita ini ke teman-temanku di group whatsapp, lalu reaksine luweh gapleki.

    Segaple opo? Iki jawabane...

    Sempet-sempete dieditke merga aku wegah ngirim foto rambut anyarku. Alangkah gaplekinya.

    Sudah cukup rasa sakitnya, diguyoni wae.

    Terima kasih, akhir tahun rambutku baru!

    Ora kudu kaya Andin Ikatan Cinta, wes tak terimo kaya Alam Penyanyi Dangdut yo rapopo.

    Aku posting semua saja. Tanpa rasa malu. Sebagai kenangan kalau aku pernah segoblok ini di akhir tahun 2020.

    Tanpa tahu siapa modelnya, yayo-yayo wae.

    Setidaknya sekarang pengetahuanku bertambah, aku jadi tahu siapa itu Andin Ikatan Cinta. Pelajaran baru di akhir tahun.

    Saatnya menyambut tahun baru dengan penuh harap dan semangat menggebu sebagai Alam Penyanyi Dangdut!!!

    Bruuurrrr!

    NB:

    Kata Mba Tiwik (setelah kerumahmu dan melihat rambut baruku), model rambutku nggak mirip-mirip banget Alam sih, mungkin aku yang terlalu mendramatisir. Ya, karena aku cuma tahu model rambut Bob seperti itu ya cuma punya Alam Penyanyi Dangdut.

    View Full
  • taceporusmp
    26.09.2020 - 1 year ago

    #10 Belajar dari Jimin, Semua Orang Pasti Lelah, Tapi Esensinya Beda-Beda

    Sudah tiba diakhir pekan lagi. Tapi, kembali untuk mengenyam nikmatnya kasur terpaksa ditahan dulu hingga petang nanti. Ya, lagi-lagi kewajiban buat menulis berita jadi alasannya.

    Kadang sering mikir sih. Aku ini sibuk atau produktif. Aku ini sok sibuk atau sok produktif, hehe. Ya, wajarlah ya aku mikir begini karena ketika temen-temenku yang lainnya bisa having fun menikmati akhir pekan. Aku hanya bisa duduk di depan laptop sambil menyimak jalannya webinar.

    Ternyata menjadi lelah itu bisa dimaknai dari berbagai sudut pandang. Kalo bicara soal lelahnya fisik ya kita dituntut untuk istirahat. Daripada masuk RS, opname, terus pulang ke rumah Bapa, kan mending istirahat. Tapi, pernah aku mikir lelahku ini buka lelah yang sia-sia. Dalam artian, banyak aktivitas yang aku lakuin, itu bukan cuma buat aku sendiri tapi juga buat orang lain.

    Baru aja kemarin aku beli cimol di depan PN Surakarta. Pandangan mataku tertuju ke seorang anak yang masih belia. Di bajunya namanya "Jimin". Ya, Jimin. Bukan Jimin yang personil BTS itu. Tapi ini, Jimin si penjual cimol.

    Waktu aku datengpun, jujur aku beli cimolnya dia karena kasihan. Aku mengeluarkan uang 5 ribu yang aku belikan 2 tahu da lainnya cimol. Dia begitu telaten bahkan menanyaiku denga seksama aku mau pakai cabe, kecap, atau bumbu asin.

    Dari caranya menawariku, aku hanya bisa terheran-heran begitu lembut dia berbicara dan dengan nada yang tak menunjukkan rasa malu. Walau aku yakin usianya belum ada 11-12 tahun.

    Kemudian, setelah meyerakan seungkus cimol padaku dia segera berlalu dan berbincang dengan penjual dawet di sebelahnya. Dia bilang,"Kesel yo mas, tapi rapopo."

    Sebuah ucapan dari anak kecil yang seharusnya enggak dia katakan di usianya. Kala teman-teman sebayanya beranjak dewasa dengan kasih sayang dan manja kepada orang tua. Si Jimin penjual cimol ini sudah merasakan getirnya jalanan kota mengadu nasib.

    Ternyat, kembali ke topik lelah yang aku singgung di awal tadi. Esensi dari rasa lelah itu tiap orangnya beda-beda. Ada yang lelah nungguin pacarnya dandan sampe lelah membanting tulang demi anak dan istri di rumah.

    Lelah itu sebenarnya perlu dimaknai dengan rasa syukur. Ketika orang-orang di sekitar kita lelah menunggu lamaran pekerjaannya diterima di perusahaan, kita sudah bisa lelah bekerja dan mengkaryakan diri kita bagi diri sendiri dan masyarakat.

    Lelahnya aku dan kamu pun, juga bukan lelah yang kebanyakan dolan ataupun asyik gojekan. Lelahnya diusia kita saat ini harus dimaknai sebagai tangga menuju masa depan. Lelah sambil belajar dan lelah sambil berusaha.

    Belajar dari Jimin penjual cimol tadi, lelahnya dia beda. Dia terbentuk dari lelah yang membuatnya dewasa dan bijaksana. Sekali lagi bijaksana.

    Kalau kamu masih bingung mencari kelelahan dan mengejek teman-temanmu yang sibuk sebagai orang yang sok/ ga ada waktu ya silakan. Tapi perlu dicatat, teman-temanmu sibuk karena ingin mengupgrade kapabilitas dirinya untuk masa depan. Tidak untuk Youtube-an atau tinder-an.

    View Full
  • pangpingpong
    01.09.2020 - 1 year ago

    When other people mocked you

    Semalam gue sekeluarga makan di sebuah spot pinggir sungai, soalnya emak pengen makan ikan bakar dan jarang-jarang complete team keluar gini. Sebulan ga mesti ada waktu meski gue udah WFH dari Maret. Pas lagi nunggu makanannya datang, emang gue sekeluarga pake masker terus and cuma buka masker waktu mau makan dan pas udah kelar makan ya pake masker lagi. 

    Kami duduknya di meja panjang, sisi satunya. Di sisi meja panjang yang lain ada mba-mba dua orang, hadap-hadapan. Dari tempat gue duduk, gue bisa lihat jelas ekspresi wajahnya meski ga jelas banget mereka ngomong apaan, tapi waktu lihat kami kompak pake masker semua, si mba yang duduknya di seberang kiri gue, ngomong ke temannya dan gue menebak dari gerak bibirnya itu kurang lebih bilang “Peng*c*t”. Someword like “being coward”. 

    Entah apakah efek malam itu settingan baju gue terlalu keren (gue sih ngerasa settingan head to toe gue terlalu keren -Oke gue kayanya agak halu hahaha), atau muka gue yang resting b*tch face banget atau efek sekeluarga gue pake masker sambil nunggu makanan dateng, meanwhile (setelah gue amati), mereka berdua ga pakai masker (I dont know, gue bahkan ga berminat mau konfirmasi ke mbanya). 

    Awalnya gue shock, kaget. Tapi masih denial (biasa), terus biasa aja. Sempet-sempetnya kirim selfie ke Kukuh. Terus emang masih gue liatin aja mereka sambil ngebatin, which is ngebatinnya ga baik sih. hahaha. 

    Terus dipikir-pikir daripada gue kepikiran dan I think I need to let it out, so it didnt stay as unconscious memory, kayanya gue harus spit it out. Semoga kalian ga ngalamin yang sama. 

    Gue punya hak untuk marah atau kecewa sih kalau bener apa yang gue duga. Karena menurut gue personally, pakai masker is a way to prevent covid-19 infection dan cara menghargai orang lain juga yang terpenting ngelindungin orang yang kita sayang. Jadi, kalau pun mereka ga setuju sama gue yang pakai masker karena ngerasa takut (Zuzur eike masih insekyur kalau makan di luar, jadi I dont need your understanding for what I believe), ya rapopo. Kalau mereka ngeremehin orang yang pakai masker, jujur itu salah sih. Karena emang pandemi masih terjadi dan kasus per harinya masih bertambah. Puncak kurvanya aja belum ketemu dimana. 

    Bukan berarti gue udah paling hebat, cuma ya, as a human being, belittling atau meremehkan orang lain itu bukan hal mulia. Mungkin gue kecewa karena gue ngerasa benar, di satu sisi. Tapi, gue hanya berusaha menaati aturan dan menyayangi diri gue sendiri dan keluarga gue (terutama). 

    Bener sih, masa pandemi ini di satu sisi bikin orang jadi punya mindset “Selamatin diri lu aja, ga usah peduliin orang lain”. Which is ga humanly, menurut gue. Gue pakai masker yang diem-diem bae aja dinyinyirin begini ya -_-”

    Jangan sampe kejadian kaya di Korsel yang baru-baru ini viral, ada bapak-bapak ga pake masker di subway terus diingetin and ending with a messy fight. Ga tau akibat ego, akibat ga mau tau, atau entahlah. Semoga makin banyak yang sadar buat pakai masker. Aamiin. 

    View Full
  • anisyasays
    03.07.2020 - 1 year ago

    Diplomasi Pertama (1.2)

    Masuklah kami balik ke dalam karena waktu takeoff makin mepet. Segala ribet bawa laptop gara gara takut ada tugas dadakan yg gak bisa dikerjain lewat hengpon huhu ribet banget. Padahal mah gapernah ngerjain tugas selama di sana, ada kuis aja aku gatauuuu e tapi sempet ngerjain dikiiitttt karena tugas kelompok. Maaf ya temanku.

    Dah kami masuk ruang tunggu gada 30 menit ada yg suruh install zenly buat jaga jaga kalauuu besok di sana ada yg nyazar wkwk emang lah hobinya nyasar di Jogja aja nyasar gimana di Korea ya kan

    Deg degan pollll selama nunggu. Heh ini bukan mau nampil lho, cuma mau naik pesawat ke negeri orang. Ndeso tenan ncen aku ki. Wis rapopo, akhirnya kami coba review gerakan buat nampil nanti. Di kursi tunggu, pelan pelan. Ya kalo tepok beneran dan pake rapa'i seisi bandara heran dong nanti malah suruh keluar gak jadi berangkat kan repot ya..

    Dan tadaaa akhirnya kami barislah ke pintu keluar sampe naik pesawat kami ikut arahan dari abang akak official.

    Berangkat dari Jogja ke Seoul aku duduk bertiga dengan urutan, Naya-Buibu-aku. Hee tak kasih tau, Buibunya gatau kenapa kaya nesu nesu sendiri gitu kan aku bingung kalo mau ngobrol sama Naya. Yowis kami cuma ngobrol seperlunya dan berani tukeran tempat duduk pas si ibu pergi ke toilet.

    OIYAAAAAA... Ada yg nangis pas takeoff karena terharu. Aku jg sih sebenernya, tapi cuma tak batin aja. Bersyukur dalam dalam ke Allah udah kasih nikmat sebegitu besarnya ke aku dan teman teman di tim buat bisa rasain Diplomasi ke Korea saat itu.

    View Full
  • srpules02
    30.04.2020 - 1 year ago

    Pada suatu hari saya menyadari. Apakah saya salah menulis, menulis suatu hal yang sebenarnya melemahkan hati atau sebagai upaya untuk tetap mewaraskan diri.

    Pernah saya bertanya kepada rekan saya

    “ aku iki salah ga si nulis, opo berhenti aja ya nulis. Soalnya tulisan ku ga ceto i, dari dulu yo aku suka sastra tapi kebanyakan tulisan ku romenc i. Apa puji berhenti aja ya.”

    -lalu

    “ ra yo, rapopo menurut ku. Iku hobby mu, ra ngerugine wong liyo to. Ikukan cuma tulisan seng penting nyatane kowe ra bucen to.”

    View Full
  • tesyeuxworld
    21.03.2020 - 1 year ago

    HOAX?

    Sehari kemarin, lewat chat WA tersebar sebuah "mandat" yang katanya dari beliau untuk masak sayur lodeh 7 warna: Kluwih, Terong, Waluh (labu), Tempe, Kacang Gleyor (kacang panjang), Kulit Mlinjo (lapisan pembungkus biji yang dibuat emping) dan Godhong so (daunnya mlinjo yang dibuat emping).

    Kaya gini penampakannya:

    Karena chat itu hanya bersifat dari tangan ke tangan karena ngga dibicarakan jadi ngga dari mulut ke telinga lalu mulut ke telinga yang lain. Jadi aku memutuskan buat tanya ke salah satu orang dalem yang kebetulan aku kenal. Kata beliau itu hoax, belum ada perintah langsung yang diberikan, tapi ya disikapi dengan bijak aja. Lodeh tu kalau orang jawa dulu emang buat tolak bala. Kata beliau sih yang jelas doanya diperbanyak lagi (tapi tetep social distance).

    Sampai hari ini belum ada pernyataan sikap apakah itu benar mandat beliau atau hanya ingatan beberapa rakyat mataram yang sengaja dibawa mundur jauh untuk mengingat-ingat apa yang dilakukan saat menghadapi pageblug (wabah). Sama halnya ketika jaman nabi, mereka juga punya cara sendiri menghadapi wabah. Alhasil hari ini, banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar buat beli bahan-bahannya (yang berarti social distance tidak berlaku). Dari grup keluarga besar sampe buibu kompleks dan tukang sayur langganan heboh. Bahan-bahan sayur untuk masak ini tetiba mahal. Bahkan di daerah rumahku kluwih sebesar 2 jari aja harganya 5000. Di daerah selatan 1kg bisa puluhan ribu, 1 waluh dicuwil-cuwil bisa jadi uang 150.000. Banyak orang yang berpikiran "Pokoke mboko secuwil sitik rapopo mung nggo syarat kae dadi kudu entuk ben ra ketularan" (pokoknya walaupun cuma dapet potongan yang kecil gapapa cuma untuk syarat jasi harus dapet biar ga ketularan). Bahkan katanya ada yang sampe ketauan nyuri kluwih.. ya allah.. :(

    Dari yang kutahu, biasanya si mandat-mandat seperti itu adalah sebuah kiasan (bukan arti sebenarnya). Jadi kalo dulu waktu gempa jogja itu disuruh masak kupat dan gantung kupat, artinya disuruh banyak istighfar, minta maaf sama Gusti kalo banyak salah (lepat). Tapi ya ngga salah juga kalo masyarakat terus berbondong-bondong masak sesuatu sesuai mandat, yaa itung-itung masyarakat jadi makan lebih bergizi dan teratur daripada biasanya yang otomatis badan mereka akan lebih sehat dari sebelumnya. Sehingga kuat melewati pageblug. Tapi ya monggo, tergantung individu masing-masing mau percaya atau tidak. Mau masak atau tidak itu pilihan. Tapi yang wajib dilakukan adalah tetap menjaga kesehatan jiwa dan raga, taat dan disiplin dalam menjalankan ibadah dan social distance. Keep safe and healthy everyone. Insya allah ada jalan ♡♡♡

    View Full