#Takwa Tumblr posts

  • Nafsu seperti kuda, sedangkan manusia adalah penunggangnya. Jika nafsu menjadi tak terkendali, ia pasti menang. Ketika nafsu menang, fitrah akan terluka. Karena itu, kita akan merasa berdosa ketika melawan fitrah kita.

    -Nouman Ali Khan-

    View Full
  • “Jangan Salah Pilih Tuhan.”

    Pernah mendengar kata-kata ini?

    “Kalau bukan karena dia, mungkin nggak bisa seperti sekarang.”

    “Untung ada kamu, kalau ndak nggak tau lagi harus gimana?”

    Sepertinya tak ada yang salah memang. Terlihat tulus, lurus. Namun disitulah celah masuknya syaitan. Mengemas hal yang buruk seolah-olah tampak baik. Kita seolah2 di buta, dan hanya tertuju pada manusia.

    .

    Padahal, kalimat2 tersebut adalah kalimat sempit. Lihat saja, kita seolah lupa dengan siapa kita ‘Hasusnya’ berterima kasih. Padahal atas izin dan pertolongan-Nya lah semua hal bisa terjadi.

    .

    Kita dilemahkan oleh kata-kata. Dan parahnya, sering kali kita tak menyadari itu. Tahu dampaknya? Tauhid terkikis. Syirik mulai timbul.

    .

    “Jangan Ada Tuhan Lain”

    Seolah mudah diucapkan. Namun mesti dalam dipahami.

    .

    Dulu, mungkin sesembahan2 yang disebut2 Tuhan itu berwujud. Berhala, Fir'aun dan lain-lain. Iman kita mungkin bisa menampikkan hal tersebut.

    .

    Namun yang masih ada hingga saat ini adalah 'Tuhan’ lain. Uang, orangtua, kerabat, pekerjaan, perusahaan dan lain-lain. Jarang kita sadari menjadi 'Tuhan’.

    .

    “Kalau ndak ada Uang, nggak bisa makan.”

    “Kalau gaji ndak dibayar, gimana bisa hidup, kebutuhan lagi banyak-banyaknya.”

    .

    Inilah kalimat2 yang dihias oleh Syaitan sehingga kita tak sadar tauhid tergrogoti. Sedikit demi sedikit. Yang akhirnya menjadi pola pikir. Pola pikir yang menjadi kebiasaan.

    .

    Dan jika sudah dalam posisi itu. Tertawa lah syaitan karena keberhasilannya.

    .

    Maka siapalah kita jika tidak meminta pertolongan-Nya. 17 rakaat dalam sehari meminta agar diberi petunjuk di jalan yang lurus.

    .

    “Jangan pernah salah pilih Tuhan.”

    .

    Wallahu a'lam bishawab.

    .

    View Full
  • Renungan Pribadi Soal Takwa

    Disclaimer: ini bukan tulisan edukasi tentang konsep takwa. Ini sepenuhnya refleksi pribadi saya. Tidak disarankan untuk menjadikannya referensi. Mohon diproses dengan pikiran sendiri, tidak ditelan bulat-bulat. Jika tergelitik, silakan lakukan penelitian dan perenungan sendiri.

    * * *

    Pasti kita udah sering denger terminologi “takwa”.

    Kalau ditanya apa itu takwa, kebanyakan orang akan menjawab: “Menaati segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.”

    Saya ngga pernah puas dengan definisi itu. Maaf ya, izinkan saya jujur secara brutal, definisi itu normatif dan ngga inspiring. Ngga menggugah selera untuk bersemangat mendapatkannya. (Pahami bahwa saya bukan bilang takwa itu ngga menarik, tapi pemaknaan/penafsiran kita atas konsep takwa yang belum memuaskan).

    Iya, menurut saya, kalau sesuatu itu penting menurut sunnatullah (atau hukum alam, versi bahasa universalnya), maka secara alamiah pasti kita akan tertarik ke arah sana. Maka, saya curiga, jangan-jangan ada definisi yang lebih dalam, lebih menggugah, lebih membuka kesadaran daripada yang diajarkan di sekolah-sekolah.

    Misalnya, siapa sih orang waras, berakal yang dalam hidupnya ngga pernah bertanya “Kenapa aku ada?”, “Untuk apa aku ada?”, “Apa yang penciptaku inginkan dengan menciptakan aku ke alam ini?”. Saya percaya ini pertanyaan yang universal, yang kalaupun ngga diajarkan di sekolah, secara alamiah kita akan mempertanyakan ini, cepat atau lambat.

    Pertanyaan-pertanyaan itu penting. Mereka akan mendorong kita mencari Tuhan, memahami diri kita, mencari petunjuk dari Sang Pencipta–yang semua jawabannya sudah dipersiapkan oleh Allah untuk kita temukan. Karena itu, Allah sudah tanamkan stimulusnya berupa rasa penasaran yang instingtif. Kita tertarik untuk mengenali pencipta kita secara alamiah.

    Nah, takwa itu disebutkan di berbagai ayat Al-Quran, menjadi tujuan dari berbagai perintah–yang salah satunya puasa di bulan Ramadhan, maka pastinya penting. Kalau penting, pastinya insting alamiah kita akan bereaksi secara positif (tergugah, terinspirasi) jika kita memahaminya dengan cara yang seharusnya.

    Temuan Saya Akan Makna Takwa

    Singkat cerita, saya menemukan definisi takwa yang memuaskan bagi hati saya. Saya menemukannya dalam tafsir Al-Quran “The Message of the Quran” karya Muhammad Asad. Definisinya:

    Kesadaran akan kemahahadiran-Nya dan keinginan seseorang untuk membentuk eksistensinya berdasarkan kesadaran ini.

    Atau sederhananya, takwa adalah “kesadaran akan hadirnya Allah”.

    Buat saya, definisi ini lebih memuaskan daripada yang selama ini saya terima. Coba kita tempatkan kedua definisi takwa dalam konteks perintah puasa Ramadhan.

    Dalam definisi takwa pertama, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

    Dalam definisi takwa kedua, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan agar kita selalu sadar akan kehadiran Allah.

    Kita tempatkan juga kedua definisi takwa itu dalam konteks ayat permulaan Al-Baqarah.

    Dalam definisi pertama, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.

    Dalam definisi kedua, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang sadar akan kehadiran Allah. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.

    Gimana?

    Apa lebih bisa dipahami? Apa lebih membuka kesadaran? Apa lebih menggugah? Kalau buat saya, iya banget.

    Contoh Implementasi Pemaknaan Takwa

    Ketika berpuasa, kita bisa aja minum atau ngemil di siang hari, selama ngga ada manusia yang liat. Tapi yang menahan diri kita apa? Kesadaran akan hadirnya Allah, yang mungkin ngga begitu kita ingat kalau kita ngga puasa.

    Ketika berbuka, kita seneng banget tuh, kita berdoa sebelum berbuka, “Ya Allah, terimalah puasaku dan segala amal ibadahku hari ini”. Lagi-lagi, kita distimulasi untuk menghadirkan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan ini disaksikan oleh Allah.

    Dari situ, sebenarnya kita bisa lihat bahwa menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (khususnya shaum Ramadhan) adalah stimulan untuk membangun kesadaran akan kehadiran Allah.

    Dengan syarat, ketaatan dalam perintah dan larangan-Nya dilakukan dengan benar ya: kalau shalat khusyu’, kalau puasa ikhlas (mindful, aware, niat dari dalam hati), kalau sedekah bukan untuk ngebuang recehan.

    Sebaliknya, kesadaran akan kehadiran Allah juga akan memperkuat kemampuan seseorang untuk menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (”Oke, mau menghadap Allah nih, masa aku shalat pake baju bekas bobo?”). Jadi, saya pikir ini seperti continuous feedback loop.

    Tips Mengasah Kesadaran Akan Kehadiran Allah

    Oke, meskipun ini perenungan pribadi, karena ini dipublikasikan maka saya tetap harus bertanggung jawab menutupnya dengan baik.

    “Mengasah kesadaran akan kehadiran Allah” adalah closing yang berat, tapi paling engga saya bisa bagikan beberapa usaha saya untuk melatihnya.

    Pertama, bangun mental model hubungan antara kita dan Allah yang lebih personal. Alih-alih berpikir bahwa kita cuma satu makhluk yang ngga signifikan dan mungkin ngga Allah pedulikan karena Dia “sibuk” dengan alam semesta dan manusia lain yang istimewa, ingat bahwa Allah juga Maha Dekat, Maha Tahu, Maha Mendengar, Maha Menyayangi, Maha Memperhatikan sehingga kamu bisa berkomunikasi secara personal dengan Allah.

    Dia tidak seperti manusia yang kalau banyak kerjaan pusing dan skip, Dia menunggu kamu untuk datang kepada-Nya. Berkomunikasi, berterima kasih, meminta maaf, berharap, menangis.

    Ingat juga bahwa Dia available setiap waktu, ngga cuma di waktu shalat–misalnya. Lagi kerja, lagi ngasuh anak, lagi beberes rumah; lagi senang, lagi marah, lagi sedih; kamu bisa berkomunikasi dengan Allah tentang hal seremeh apapun.

    Kedua, pahami bacaan dan doa-doa dalam ibadah. Iya, misalnya bacaan shalat, coba dipahami. Caranya jangan cuma baca artinya secara keseluruhan, tapi pelajari kata per kata.

    “Rabbi”–wahai Tuhanku, “ighfirli”–ampuni dosaku, “warhamni”–sayangi aku, “wajburni”–cukupilah aku, “warfa’ni”–tinggikan derajatku, “warzuqni”–berilah aku rezeki, “wahdini”–berilah aku petunjuk, “wa’afini”–sehatkan aku, “wa’fu’anni”–maafkanlah aku.

    Bisa pelajari juga akar katanya, misal “ighfirli” dari kata “ghafara”, yang artinya “mengampuni”, asal maknanya “menutup”. Wah ini bisa didalami lebih jauh lagi, silakan cari sendiri ya.

    Sedikit belajar Bahasa Arab, biar setiap kita mengucapkan doa dalam shalat, hati kita tahu betul kita sedang berkomunikasi apa dengan Allah.  Biar setiap beristighfar, bertasbih, bertahmid, hati kita benar-benar mean it.

    Ketiga, sering-sering mikirin what this life is all about. Bayangin setelah membaca ini kamu terkena serangan jantung lalu meninggal, kamu ngerasa siap apa engga? Kalau engga, kenapa? Karena ngga ada amal yang bisa dibanggakan? Kalau gitu itu PR kamu, segera bikin amal yang bisa kamu banggakan saat dihisab nanti.

    Atau karena banyak dosa? PR kamu adalah taubat + mengubur dosa-dosa dengan amal baik yang banyak.

    Kalau ingat bahwa kita belum siap dihitung amal dan dosanya di hadapan Allah, kita jadi bisa melihat apakah karir, bisnis, investasi yang kita upayakan itu adalah sarana mempersiapkan diri atau menjadi distraksi dari apa yang benar-benar penting.

    Coba bikin daftar yang harus kamu siapkan agar jika suatu hari kamu terbaring di rumah sakit, sadar ga lama lagi kamu akan mati, hati kamu ngerasa tenang dan siap menghadap Allah, seperti yang dideskripsikan di Al-Fajr:

    “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”

    Misalnya, jika profil kamu adalah seorang ayah dan suami:

    1. Sedekah rutin untuk anak yatim (misalnya ini amal andalan kamu)
    2. Istri dan anak yang siap ditinggalkan secara mental dan bertekad untuk menyusul saya di surga (melanjutkan berbagai amal sholeh sepeninggal kamu)
    3. Rumah untuk anak dan istri biar mereka punya tempat bernaung
    4. Passive income untuk menafkahi keluarga meski saya ngga ada, biar mereka ngga susah dan menyusahkan orang lain (3 dan 4 sekilas materialistis, tapi tujuannya bernilai amal sholeh)

    Itu daftar simplistik dan contoh aja.

    Poinnya adalah sering-sering melatih diri kita mengingat apa yang paling esensial dalam hidup (yaitu siap ketika sudah saatnya kita menghadap Allah) dan mengkalibrasi terus menerus kesibukan kita supaya selalu dalam kerangka membuat Allah ridha sama kita.

    So, mari kita membangun, mengasah, dan menjaga kesadaran kita akan ke-Maha-Hadiran Allah.

    Wallahu’alam.

    View Full
  • Aku dan Dirimu kekal abadi.

    Adalah fitrah setiap kita memiliki karib terdekat; tempatnya menyimpan rahasia,saling percaya, wadah suka dan duka.

    tapi pernahkah kita berfikir: seberapa lama persahabatan aku dan kamu bisa berlangsung?

    sepanjang hidup?

    sampai akhir hayat?

    atau bahkan sampai ke surga?

    mari kita lihat jawabannya dari firman Allah :

    “ٱلۡأَخِلَّاۤءُ یَوۡمَىِٕذِۭ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِینَ”

    “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa”.

    surat zukhruf: 67.

    maka bertakwalah aku dan kamu

    Agar sahabatmu ini tidak menjadi musuhmu di hari akhir, agar persahabatan ini kekal abadi.

    View Full
  • Sejak memutuskan berhenti dari sebuah amanah sekaligus penghasil pemasukan terbesar akhir tahun lalu, jadi makin merasa diuji keimanan sama Allah. Sekitar pertengahan tahun lalu, memutuskan untuk tak lagi meminta uang ke Ibu untuk kebutuhan kuliah dan kebutuhan hidup di kota orang, kecuali pada keadaan sangat-sangat terdesak. 

    Karena ya, meskipun nafkah seorang perempuan sampai dia telah baligh masih menjadi kewajiban bagi orangtuanya, rasa-rasanya punya rasa bersalah ke Ibu karena masih belum lulus di semester kesekian. Jadilah, sejak tengah tahun lalu berupaya bertahan hidup dari 3 penghasilan utama: amanah di sebuah lembaga zakat, ngajar les, dan jemput anak. 

    Karena perasaan bersalah kurang bisa maksimal menjalankan amanah di lembaga tersebut, akhir tahun kemarin memutuskan berhenti dan merekomendasikan orang lain untuk menggantikan. Berat rasanya menjadikan amanah tersebut sebagai prioritas kesekian di antara amanah lainnya. Meskipun jika dibilang menghilang, tak bisa dikatakan begitu juga. 

     Hingga setelah keputusan besar itu, datanglah satu hal yang sempat terbayang sebelumnya. 

    “Amah, 2 bulan ke depan, Hasna saya yang jemput ya. Karena 2 bulan ini kampus libur, jadi saya bisa jemput sendiri.” 

    Yah, satu lagi sumber penghasilan berkurang. Sedangkan ngajar les sebenarnya hanya berhasil menjadi sumber penghasilan terkecil yang rasa-rasanya gak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap bulan tanpa minta Ibu atau Kakak. 

    Lalu seringkali bayangan tentang kebutuhan penelitian skripsi yang enggak murah, dan rasanya gak tega bilang ke Ibu kalau akhirnya minta uang lagi. Disitu, kerasa banget Allah lagi nguji seberapa yakin dengan janji dan pertolongan Allah. 

    Akhirnya berupaya mencari-cari tambahan adek les, dan qadarullah menemukan lowongan ngajar les lagi, meski harus menahan diri sedemikian rupa untuk mengendalikan diri dari kebutuhan yang tak mendesak. Dan terus berupaya sedekah sesulit dan seterhimpit apapun keadaan. 

    Lalu hari ini baru aja diingatkan betapa Allah begitu romantis. Baru meniatkan sedekah melalui seseorang yang telah menjadi azzam rutinan tiap bulan, Allah hadirkan skenario terbaik-Nya. 

    Habis joging dan olahraga sebentar tadi pagi, memutuskan sarapan di sebuah warung makan. Dalam hati dan pikiran pingin banget beli nasi kuning telur bakar, tapi gak sadar nulisnya telur dadar wkwk. Akhirnya pas menunya dateng, cuma bisa nerima sambil sedikit menyesal dalam hati karena bisa-bisanya salah nulis. Sampai di kontrakan, tiba tiba ada temen nawarin makanan

    “Nit, lagi gak puasa kan?” 

    “Enggak, dosa kalo puasa wkwk”

    “Aku semalem beli telur bakar, rencana mau dipake sahur, tapi ternyata tadi kesiangan bangunnya. Nanti dimakan aja ya” 

    “speechless” 

    Sederhana sih keliatannya. Bisa se-pas itu temen nawarin telur bakar disaat lagi pingin. Tapi sebenarnya itu salah satu bukti betapa skenario Allah selalu tepat. Betapa romantisnya Allah menggerakkan hati manusia-manusia di sekitar kita hingga kita merasa semua itu tepat. Tepat waktu, tepat sasaran, tepat dalam hal apapun. 

    Ternyata skenario-Nya masih berlanjut. menjelang sore berencana gak beli makan, demi bisa hemat dan inget masih punya jagung mentah yang bisa direbus. Tiba-tiba mba serumah dateng dengan cerianya.

    “Nit, nanti makan bareng ya. Mba bawa makanan banyak.” 

    “speechless” 

    “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnua Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Alllah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

    Ayat itu dibacakan oleh teman lingkaran ketika melingkar kemarin sore, lalu beredar di salah satu wa story teman yang lain kemarin malam. Dan hari ini Allah buktikan dengan segala rancangan-Nya yang sangat tepat. 

    Lagi-lagi, rasa syukur mestinya tak pernah dan tak boleh lepas dari hati dan lisan kita atas seluruh kesempurnaan skenario-Nya. Dan lagi-lagi, betapa romantisnya Allah menggerakkan hati manusia-manusia di sekitar kita hingga kita merasa semua itu tepat. Tepat waktu, tepat sasaran, tepat dalam hal apapun. Mudahkan kami dalam mensyukuri apapun bentuk takdir dan nikmat dari-Mu ya Rabb, yang atas seluruh rangkaian takdir-Mu, memudahkan kami untuk terus meningkatkan iman, mengupayakan sebaik-baik ketakwaan, menjemput berkah dan keridhoan-Mu :”)

    View Full
  • Allah Maha Tahu, tidak hanya tentang tujuan (sesuatu/tempat/orang) yang terbaik bagi kita, tetapi Dia juga tahu cara yang terbaik dalam menuju hal tersebut.

    Ada ribuan skenario di luar sana, yang bisa jadi banyak di antaranya lebih baik dari yang kita rancang. Dan hanya Allah yang tahu mana yang terbaik bagi kita.

    Maka disamping ikhtiar, teruslah berdoa. Karena do'a pasti dikabulkan, entah dalam bentuk lebih baik atau ditunda hingga nanti di akhirat kelak. Teruslah berdoa karena berdoa adalah ibadah yang pasti ada balasannya. Teruslah berdoa karena doa dapat menenangkan hati.

    Yang terpenting adalah menjaga diri dari barang/makanan haram dan maksiat kepadaNya, karena keduanya bagaikan hijab.

    Tetap bersyukur, tetap tawakal.

    Terkadang kita merasa sudah bertawakal, tapi bagaimana kita dianggap bertawakal secara benar, jika masih menjadi hamba yang buruk bagiNya.

    View Full
  • Melihat setahun kebelakang,

    Tidak sedikit rencana-rencana baik yang gagal tercapai, bahkan sebagian menimbulkan kekecewaan yang mendalam.

    Tapi banyak hal lain yang tak terduga yang terjadi, baik positif maupun negatif. Dan untuk hal-hal positif itu tidak sedikit yang cukup menjadi kabar gembira.

    Maka tetaplah berencana, karena merencana adalah bagian dari ikhtiar. Dan dari rencana-rencana itu bisa kita kirim ia ke langit menjadi doa-doa.

    Meski bisa jadi ternyata Allah gantikan dengan rencanaNya yang lebih baik bagi kita. Jangan bergeming pada satu pintu yang tertutup. Dan jangan tutup pintu yang terbuka.

    Maka berharaplah kebaikan kepadaNya, meski kita tidak tahu apa kebaikan itu. Minta petunjuk kepadaNya. Karena kita sungguh bodoh, sedangkan Dia maha mengetahui.

    Ketika Allah membantumu maka selesai semua urusanmu. Sebaliknya, ketika Dia menyusahkannya, maka kesempitan yang akan kita dapat.

    Berencanalah untuk mengundang hal-hal positif yang tak terduga, yaitu dengan taqwa:

    “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”(QS. At-Talaq 2-3)

    Perbanyak taubat dan istighfar adalah jalan menuju taqwa. InsyaAllah.

    View Full
  • Takwa adalah kunci menuntut ilmu ~

    Bismillah.

    Disampaikan oleh Ustadz Hasan Al Jaizy Hafizhahullah (secara makna), bahwa seringkali orang-orang yang sudah lama ngaji, namun tidak ada ilmu yang berdampak pada dirinya, itu disebabkan karena kelalaian dirinya dalam menjaga adab yang utama. Dan adab tersebut adalah bertakwa kepada Allah.

    Dosa-dosa yang ia lakukan itu menjadikan hijab antara dirinya dengan ilmu. Sehingga ilmu yang ia pelajari tak sampai kepada dirinya.

    Orang yang sudah ngaji, setelah ia keluar dari majelis, seharusnya ia menjadi semakin bertakwa. Bukan menjadi seseorang yang sombong dengan ilmunya.

    Sehingga, perlu bagi seseorang untuk menanamkan azzam dalam dirinya, bahwa

    “Saya menuntut ilmu agar saya menjadi hamba Allah yang bertakwa. Bukan hanya sekedar menjadi kolektor ilmu”

    Karena kolektor ilmu itu belum tentu bertakwa. Meski orang itu ilmunya banyak.

    Dan realisasi takwa itu sendiri adalah dengan melakukan perintah-perintah Allah, dan menjauhi larangan-larangan Allah. Sehingga, orang yang bertakwa akan diberikan Taufik oleh Allah Ta'ala untuk mengenal yang haq dan yang bathil.

    Dan kiat-kiat supaya seseorang itu menjadi hamba Allah yang bertakwa sehingga dimudahkannya ia dalam menggapai ilmu adalah dengan menjauhi berbicara dari perkara yang tidak bermanfaat dan menjauhi maksiat.

    Karena kedua hal ini merupakan diantara sebab-sebab gelapnya hati, yang akan membuat ilmu akan sulit untuk masuk.

    Dan kunci sehatnya hati ada pada benarnya lisan. Sehingga, orang yang menjaga lisannya dari perkara yang tidak bermanfaat, maka Allah Ta'ala akan membuka bagi dirinya hal-hal ilmu yang membuat dirinya tersibukkan akan ilmu tersebut dibandingkan dengan selainnya.

    Allahu Ta'ala a'lam.

    Semoga Allah Ta'ala memberikan kita semua hidayah dan taufiq-Nya, dan kita dijadikan oleh-Nya golongan hamba-hamba yang bertakwa serta diberikan keberkahan ilmu yang baik oleh-Nya.

    ==============

    Diringkas dari rekaman ceramah beliau yang berjudul

    “Takwa Kunci Menuntut Ilmu”

    20 Agustus 2019

    Masjid An-Nahl Jatinegara Jakarta Timur

    View Full
  • Jo taqwa aur sabr ikhtiyar karta hai, Allah ussay kabhi zaya nhe karta ❤//

    View Full
  • “Takwa itu adalah engkau menganggap dirimu tidaklah lebih baik daripada orang lain.”

    (Tafsir Baghowi 1/60)

    Ibnu Umar rodhiyallahu anhuma.

    View Full
  • image

    Sebagian orang mencari -cari alasan agar tidak berangkat memenuhi perintah Allah. Sebagian lainnya menangis karena tidak bisa ikut berangkat (lantaran kemiskinan, tidak ada hewan tunggangan). Hati. Masalahnya ada di hati. Dan Allah lah yang membolak-balik hati.

    Tentang sebagian yang menangis karena tidak bisa berangkat.

    Uang. Lagi-lagi tentang uang. Ya begitulah. Kita bisa berangkat ke makkah, hanya kalau ada uang. Kita bisa bantu orang2 palestine, hanya kalau ada uang. Kita bisa bantu orang2 suriah, Rohingya, dan dimanapun itu, hanya kalau ada uang.

    Satu hari saya bercakap2 dengan ibuk.

    Me: buk, mereka (refers ke orang2 yang kekeuh pada prinsip. Kembali ke zaman Rasul) g realistis. Hal2 yg mrk lakukan sudah tidak relevan.

    Ibuk: bukan agama yang harus ngikutin budaya. Budaya yang harusnya berjalan mengikuti agama (tetep kekeuh)

    ————————————

    Beberapa tahun kemudian, berdirilah satu sekolah megah (masya Allah, tabarokallahu ta'ala) yang berdiri sesuai prinsip yang mereka yakini. Subhanallah. Lagi2 tentang uang. Apapun itu. Bagaimanapun itu. Kamu, kita, harus kuat agar bisa berguna bagi prinsi2 yang kita yakini.

    #munafik#takwa#crying #stop making excuses #no more excuses
    View Full
  • Puasa Menuju Takwa

    Puasa ialah ibadah rahasia. Perbuatannya tak tampak pada mata. Tak ada yang kita tampilkan mulai dari sahur hingga berbuka. Yang tahu bagaimana puasa kita hanyalah Allah SWT.

    Takwa berarti menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan dengan takwa, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa. Dengan takwa pula, Allah SWT memberikan jalan bagi segala masalah kehidupan kita. Sehingga modal terpenting dalam hidup ini ialah takwa.

    Puasa bertujuan menjadikan diri kita bertakwa. Karena puasa mampu membuat kita untuk menahan dari bermaksiat kepada-Nya. Karena puasa membuat kita merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang lebih fakir dari kita. Karena puasa membuat kita semakin taat kepada Allah SWT. 

    Semoga kita semua diberi kekuatan dan kesabaran agar sempurna dalam berpuasa. Semoga dengan puasa, membuat diri kita semakin bertakwa.

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 183)

    View Full
  • Kita sering mendengar ketika Ramadhan tiba, sebuah ayat yang acap kali dibacakan para penceramah, Ustadz/ah, muballigh/ot, yaitu Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183.

    Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi pribadi yang bertakwa.”

    Lalu, sebenarnya apa itu takwa? Kenapa frasa ini menjadi mantra sakti yang disampaikan dari satu mimbar ke mimbar lainnya. Al-Qur’an mengulang penyebutan takwa sebanyak 258 kali. Apa makna takwa ini sebenarnya?

    Dari sekian banyak definisi atas takwa, saya selalu suka perumpamaan yang diberikan Sahabat Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ta’ala ‘anhu ketika ditanya oleh Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ta’ala ‘anhu.

    Apa itu takwa?” Tanya Umar kepada Ubay.

    Ubay balas bertanya kepada Umar, “Apakah Anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri, wahai Umar?

    Jawab Umar, “Ya, pernah.”

    Ubay bertanya kembali kepada Umar, “Lalu, Anda berbuat apa, wahai Umar?

    Umar menjawab, “Saya sangat waspada dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.”

    Ubay lalu berkata, “Itulah contoh takwa, wahai Umar.”

    Takwa adalah kewaspadaan. Takwa adalah kita berhati-hati. Dunia ini penuh duri. Penuh dengan ujian demi ujian. Maka, bertakwa, adalah kita berhati-hati agar tidak tergelincir, agar tidak terjerumus dan melakukan hal yang tidak semestinya.

    Puasa, mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang mawas, berhati-hati. Pribadi yang eling lan waspada. Karena sak bejo-bejone wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo.

    Selamat berpuasa, Sahabat. Selamat menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa! :)

    View Full
  • ADIL.

    Gencar banget nganjurin nikah muda.

    • Emang bangun keluarga segampang yang kamu kira anak muda?

    Keras banget nahan orang nikah muda.

    • Emang bisa jamin selamat dari fitnah shahwat dan zina ?

    Sering kesal…

    • Sama yang suka ngadain seminar menikah muda, padahal narasumbernya emang anak horang kaya yang tinggal ambil bagian harta, tanpa memulai dari nol.

    Sering kesal…

    • Sama mas-mas atau mb’-mb’ yang mencibir ada pasangan nikah muda. Lah orang terdekatnya sendiri pacaran gak berani disinggung ?

    Sering kesal…

    • Sama muda-mudi yang semangat banget nikah muda, post sana-sini. Dikit-dikit baper.

    Tapi bagaikan pelajar yang hendak menghadapi UAS bulan depan.

    semangat, tapi gak belajar.

    Semangat nikahnya full, tapi persiapannya setengah, bahkan seperempat.

    “yang penting takwa, dan niatnya ibada. Pasti Allah kasih jalan”

    Itu katanya..

    ia lupa ikat dulu tali kekang untanya, baru bertawakkal.

    Ucapannya itu sambil ngeluh kalau diajak kerja berat. Cepat nelp ke bapak karena uang bulanan habis. Masih suka curi-curi pandang.masih suka berhaha-hihi sama sebelah. Masih suka dimarahin guru ngaji karena…, masih memilah-milih ikut kajian. Masih pilah pilih batasan islam.

    Tapi juga kesal…

    • Sama kaum yang ramai berkomentar negatif dengan nikah muda. Tapi lupa sama diri sendiri masih terkena fitnah khalwat, berada diatas ambang zina mata,tangan,sampe hati.

    Untuk kamu

    Yakinkan dirimu dulu ke dunia

    bapak,ibu, si dia, calon mertua,kawan-kawan,dan para pencibir

    bahwa memang kamu siap.

    Sebelum kamu memaksakan mereka menerima keputusan dirimu untuk menikah muda.

    Ajalmu itu jauh lebih dekat dari jodohmu

    Maka persiapanmu ke akhirat jauh lebih dhorury dan urgent dibanding kilahmu ;

    “syahwatku sudah urgent, aku harus meluapkannya ke yang halal”.

    Sudahi scrolling ig nikahmuda nya, ganti dengan video akhirat. Surga dan neraka. Azab dan nikmat. Aqidah dan khurafat.

    Coba sering-in ikut kajian, minhajul muslim, riyadus shalihin. Kajian dosa-dosa kecil dan besar. Kajian Aqidah. Liqo tahfidz Quran,misalnya…

    Imanmu perlu suplai tiap hari.

    Calon anakmu butuh bapak yang faqih agama, bukan mahir berbicara Dan apik merangkai kata di sosial media.

    Duhai pencibir

    Perihnya azab atas dosa syahwat dan zina takkan bisa disamakan dengan perihnya perjuangan merintis ekonomi di nikah muda.

    Ia yang kau cibir itu setidaknya lebih unggul darimu.

    Karena ia dengan pernikahannya, telah selamat dari dosa khalwat,dan syahwat. Bahkan fitnah perzinahan.

    Sedangkan kau? Dengan apa kau bisa menjamin?

    Ibadahmu sekuat imam nawawi ?

    Tahukah kau imam syafii suatu malam melihat kemaulan anaknya menegang ketika tidur, paginya ia nikahkan anaknya tersebut.

    Sangking takutnya fitnah zina.

    Mungkin saja posisimu memang masih kuat untuk melawan syahwat. Tapi kita tidak tahu saudara kita diluar sana, bagaimana perjuangannya melawan itu ?

    Ia lebih takut azab Allah dibanding cibiran manusia. Beranilah ia melangkah….

    Kau tidak bisa menolak ayat

     ..وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا 

    وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ..

    Langkahnya menikah dini sudah bentuk ketakwaan pada Allah.

    Walau terlihat masih minim persiapan..

    Kemudian Allah jamin rizki, dan penghidupannya. Walau pasti sedikit ditempa agar menguatkan imannya.

    Sedangkan apa langkahmu dalam ketakwaan untuk melawan syahwat ? Puasamu hanyalah tameng, bukan jawaban.

    Menikah adalah jawaban.

    Maka berlaku adil lah terhadap diri sendiri.

    Sebaik-baik penghisab adalah yang menghisab diri sendiri lalu orang lain

    Ketahui batas kebutuhanmu bukan kemauanmu

    Jika memang sudah waktunya. Buat apa kau tunda?

    Namun jika nampak ketidaksiapan dirimu, kenapa terburu-buru ?

    Mari bertakwa dengan adil

    View Full
  • Memberi kemaafan kepada seseorang adalah satu kekuatan dan kemuliaan. Dan maaf itu sangat dekat dengan takwa. ❤

    View Full
  • Do'a Meminta Ketakwaan dan Sifat Qanaah

    اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

    Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.

    Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf (dijauhkan dari yang haram, juga dijauhkan dari zina) dan ghina (kecukupan atau qana’ah).

    View Full
  • Belajar dari pohon kurma. Jadilah manusia yang kuat dan tegar menghadapi beratnya ujian masalah kehidupan. Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tidak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi para pemenang kehidupan.
    :
    Kita harus kuat, sabar dan yakin dengan yang rahmat Allah, seperti dinyatakan dalam ayat suci berikut; “…dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, karena hanya orang-orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah.” (Qur’an Surat.Yusuf : 87)
    :
    Untuk punya kekuatan untuk bisa menghadapi “tekanan” tersebut, manusia harus memiliki “akar” yang kuat. Dalam hidup ini yang dimaksud akar, ialah keyakinan pada Allah dan ilmu.
    :
    Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : ~
    :
    “Apabila anak Adam mati maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan orangtuanya ”
    :
    "Barangsiapa yg menyampaikan 1 ilmu saja dan ada orang yang mengamalknnya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada(meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala”
    :
    “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”
    :
    like, Share and Share.. Semoga Pahalanya terus mengalir kepada kita dan juga kepada kedua Ibu Bapa kita.. Aamiin.. Aamiin ya rabbal alamin..

    :
    #Semogabermanfaat #jadilahyangbermanfaat #jomsebarkankebaikan
    #apiezlanang #aarizalrayyan #alhaidariskandar #alhaziqhamimi #jomdakwah #jomkesyurga #syukuralhamdulillah #Allahuakhbar #Allahmahabesar
    #samaamalkan #untukkebaikanbersama #Ahlisyurga #Anaksoleh #anaksolehah
    #jagasolat #solat #iman #takwa #dekatkandiripadaallah #thinkpositif

    View Full
  • (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Surat Ar-Ra’d Ayat 28
    :

    “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS: Ibrahim [14]: 7)
    :
    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS: Al-Baqarah [2]: 216).
    :
    Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : ~
    :
    "Apabila anak Adam mati maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan orangtuanya ”
    :
    "Barangsiapa yg menyampaikan 1 ilmu saja dan ada orang yang mengamalknnya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada(meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala”
    :
    “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”
    :
    like, Share and Share.. Semoga Pahalanya terus mengalir kepada kita dan juga kepada kedua Ibu Bapa kita.. Aamiin.. Aamiin ya rabbal alamin..

    :
    #Semogabermanfaat #jadilahyangbermanfaat #jomsebarkankebaikan
    #apiezlanang #aarizalrayyan #alhaidariskandar #alhaziqhamimi #jomdakwah #jomkesyurga #syukuralhamdulillah #Allahuakhbar #Allahmahabesar
    #samaamalkan #untukkebaikanbersama #Ahlisyurga #Anaksoleh #anaksolehah
    #jagasolat #solat #iman #takwa #dekatkandiripadaallah

    View Full