#adab Tumblr posts

  • image

    🍀 Faedah Dari Kisah Ibunda Imam Malik bin Anas 🍀

    📌 Dalam pelajaran adab bersama Syaikhuna Yaslam Ash-Shubaihi hafizhahullah, beliau menukilkan perkataan Imam Malik rahimahullah :

    ▪️ قال مالك بن أنس : “كانت أمّي تعمّمني، وتقول لي : اذهب إلى ربيعة فتعلّم من أدبه قبل علمه.”

    📌 Dan Syeikh Yaslam mengomentari kisah tersebut, beliau berkata :

    Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata : “Dahulu, ibu ku memakaikan ku imamah (semacam sorban di kepala), dan ia berkata : "Pergilah ke majlis Robi'ah (ahli fiqh Madinah pada zamannya), pelajarilah adabnya sebelum kau pelajari ilmunya.”

    ▪️ “وهذا يدلّ على عقل نساء ذلك الزمان. وهو شاهد لصحة المقالة : "ما من عظيم إلا وراءه امرأة”. وهذه قد تصحّ في حالات. فكثير ما تكون المرأة معينةً لرجل على خير، سواء كانت أُمًّا أو زوجة أو أُختًا أو غير ذلك.“

    "Dan (kisah) ini menunjukkan dalamnya pemahaman para wanita pada zaman itu.

    Dan ini juga bukti shahihnya perkataan : "Tidak ada orang besar melainkan dibelakangnya ada seorang wanita.” Perkataan tersebut terkadang benar di beberapa keadaan. Betapa banyak seorang wanita yang menjadi pendukung seorang lelaki dalam hal kebaikan, entah itu seorang ibu, istri, saudara perempuan, atau yang lainnya.“

    📝 Faedah muraja'ah pelajaran adab bersama Syeikh Yaslam Ash-Shubaihi hafizhahullah

    Darul Hadits Shubaihah, Kamis, 18 Dzulqa'dah 1441 / 9 juli 2020

    •••┈••••○❁🌻❁○••••┈••

    Sumber : t.me/fawaidhsaeed

    Source pic : Yusuf Abdul Jaleel on pinterest

    View Full
  • View Full
  • image

    Photo by Green Chameleon on Unsplash

    Menjadi mahasiswa di tengah pandemi itu berat, berat sekali. Sebenarnya yang berat bukan cuma mahasiswa, semua orang kesulitan.

    Menjadi mahasiswa kedokteran di tahun pertama punya tantangan tersendiri. Adaptasinya mesti cepat. Cepat adaptasi pelajaran, metode, bahkan tetap fokus kuliah saat pandemi.

    Aku yang sejak SMA terbiasa hidup di asrama dan tahun pertama kuliah yang mewajibkan tinggal di asrama membuatku lupa rasanya belajar di rumah. Satu semester merasakan belajar di asrama itu menyenangkan sekali. Melesat jauh dan lebih fokus. Lingkungan pembelajar mungkin pemicunya.

    Aktivitas kuliah teratur, berangkat ketika matahari sepenggalan sampai matahari hampir terbenam, hari Senin—Jum’at, dan tatap muka dengan dosen rasanya menjadi aktivitas sempurna untuk mengukur usaha kuliah dan hasil yang kudapatkan.

    Di rumah, butuh pemicu lebih untuk fokus belajar. Kebiasaan di rumah hanya ketika libur berefek pada keseharianku saat ini. Santai, tanpa beban dan melakukan semua sesuka hati sepertinya tak bisa kuterapkan.

    “Tetap di rumah tapi tidak libur”, kata yang begitu mudah diucapkan orang-orang tapi sulit kuterapkan. Utamanya, Aku yang tidak terbiasa berada di rumah.

    Satu bulan pertama tinggal di rumah, Aku tertekan. Aku yang tipe pembelajar visual tidak bisa belajar tanpa tatap muka dengan dosen. Tanpa tatap muka saja tidak bisa fokus, ditambah persoalan menerima pembelajaran. Aku orang yang paling setuju dengan pernyataan kalau ilmu yang didapatkan tanpa tatap langsung pada ahlinya berbeda dibandingkan saat bertatap langsung, karena persoalan adabnya.

    Bulan kedua di rumah, Aku mulai mengatur kembali motivasi awal. Aku yang punya motivasi tinggi saat kuliah offline dan pupus saat kuliah online mulai terbangun kembali. Aku bisa fokus kuliah dan Alhamdulillah rasanya mendapat keberkahan ilmu walaupun harus mati-matian cari variasi pembelajaran. 

    Bulan ketiga, semangatku turun lagi. Bosan di rumah, dapat kabar kalau ibu positif corona yang mengkhawatirkan, sampai kuliah online yang semakin membosankan. 

    Tidak mudah tinggal 7/24 jam di rumah,

    tidak mudah kuliah di rumah, 

    dan tidak mudah merasa baik-baik saja ketika ‘dunia sedang tidak baik-baik saja.’

    View Full
  • بأبي فمٌ شهد الضّميرُ له

    قبلَ المَذاقِ بأنّه عَذبُ


    كشهادتي للّه خالصةً

    قبلَ العِيانِ بأنّه ربُّ.

    _ ديك الجن

    View Full
  • Pentingkah?

    Melihat seseorang melakukan kesalahan di tengah publik, lalu menunjuk, lalu berteriak, “Hey, kamu salah! Berarti aku lebih baik!”

    Familiar? Pasalnya kasus ini banyak. Terlampau banyak. Ya, memang jarang seseorang benar-benar melakukan hal seperti menunjuk dan berteriak di tengah publik. Tapi bagaimana kalau sekarang tempatnya kita pindahkan ke sebuah platform dunia maya, di mana semua orang bisa berekspresi, terhubung, lalu bersembunyi dibalik nama-nama virtual. Sekarang lebih familiar?

    “Katakanlah yang benar, walau pahit.”

    Tapi apa sambil menunjuk, lalu menghina, lalu meninggikan diri sendiri?

    karena “Katakanlah yang baik atau diam”.

    Betul, yang benar perlu disuarakan, perlu disampaikan, dan yang salah perlu diluruskan. Bahkan itu menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum berbicara. Kebenaran.

    Ini masalah klise, terlalu sering terjadi. Dari zaman dahulu kala, bukan masalah baru lagi. Kita mau menyampaikan kebenaran, tapi tidak berkaca sebelum berbicara? Maksud berkaca di sini adalah, pastikan dulu kebenaran kita dikemas dengan apik sebelum disampaikan. Pastikan kita tidak melemparnya. Pastikan pesan kebenaran kita yang sampai, bukan ego kita, bukan rasa superioritas yang sampai pada kita.

    Apalagi sampai menghina lalu meninggikan diri sendiri. Duh, memangnya kita tahu apa yang tertulis di Lauh Mahfuz sampai sempat-sempatnya menghina orang lain? Kalau suatu saat roda itu berputar, apakah kita akan sempat menyelamatkan ego yang kita timbun?

    View Full
  • I’m playing Destiny 2 while my friend watches, and stopped to look at a drill that was lying on the ground when my friend asked me what I was doing.

    “I’m looking at the drill. It looks like my dad’s.”

    “But so does every drill. All drills look the same.”

    “No, it’s the same. They’re the same shape and green color.”

    “ALL drills look the same.”

    “NO THEY DON’T. This one looks like my dad’s drill.”

    “I swear, all drills look exactly the same.”

    “Not ALL drills!”

    Both pause and think about what was said.

    View Full
  • fuck the la dodgers !!!!!

    #adab #all dodgers are bastards
    View Full
  • dalam kondisi seperti ini banyak orang memanfaatkan teknologi untuk melakukan kegiatan. namun hal yang perlu diingat adalah adap dalam menggunakan teknologi yang ada, namun apakah harus sesuai dengan aturan yang pernah dibuat tanpa membuat modifikasi yang baru karena kondisi seperti ini. oke saat melakukan sesuatu perlu berdoa, namun kondisi setiap individu tidaklah sama ada tentunya yang berkekurangan ada yang berkelebihan. 

    namun kalau terlalu idealis sesuai aturan apakah boleh ditengah keterbatasan yang ada. oke kondisi apapun tidak boleh jadi alasan, namun ahh apakah ini yang dinamakan keadilan. setidaknya biarkan berjalan terlebih dahulu dengan keterbatasan, kenapa tidak diingatkan atau di chek sebelumnya adakah kekurangan yang ada. kenapa harus saat acara berlangsung. 

    memanfaatkan teknologi yang ada adalah hak setiap orang. ketika acara harus dipindahkan ke media sosial karena keadaan yang tak memungkinkan adalah solusi, tapi kenapa ada kekurangan hal sedikit tidak di chek sebelumnya malahan membawanya ke forum. ahh ini yang salah siapa, harusnya di persiapkan dengan seoptimal mungkin. seorang ketua baiknya mengechek atau mengingatkan hal apa saja yang kurang sebelumnya, jangan sampai dibawa kedalam forum. ini kondisinya beda baiknya dalam mengingatkan dan kebijakan sangat dibutuhkan. masih bingung sebenarnya siapa yang pemimpin siapa yang penyuruh. 

    View Full
  • “I’m depressed” oh wow, and what are the pronouns for that?

    #adab #this is a stupid joke that came into my head and makes no sense
    View Full
  • Pesan Tidak Terkirim

    Laki-laki itu menulis pesan panjang, sudah diketik cukup lama dan dipikirkan dari jauh-jauh hari. Namun belum ada keberanian untuk mengirimkannya. Begini isi pesannya:

    —–

    Hari ke dua puluh bulan Juni, tahun 2020

    Pagi ini matahari cukup bersahabat. Sinarnya lembut tapi tetap terang, cocok untuk berkegiatan di luar rumah. Namun sayangnya, virus Corona belum juga pergi, ia masih tinggal di bumi untuk mengingatkan orang-orang agar tetap menjaga kesehatan. Hal itu lah yang menyebabkan pernikahanmu hanya dilakukan di dalam masjid. Hanya ijab dan kabul. Belum dengan resepsi. Rasanya memang belum bisa mengundang sahabat lama atau rekan kerja, karna yang terbaik adalah semua tetap #dirumahaja. Tak apa, biar akadmu kami saksikan di layar ponsel. Tenang saja, tidak ada yang berkurang dari bobot doa kami yang berkejar-kejaran menembus langit. Bunyinya masih sama: “Semoga kalian sakinah, mawaddah, wa rahmah..”

    Sebenarnya belumlah sampai aku mengenalmu, hanya dengar dari teman saja. Sepertinya kamu orang yang ramah, selalu tersenyum setiap kali ku lihat di foto media sosialmu. Bukan, itu bukan senyum biasa. Senyummu menandakan keikhlasan, ketulusan, senyum yang seakan-akan berkata “terimakasih” pada setiap momen yang terjadi pada saat itu. Mungkin aku akan lebih senang jika mengenalmu pada dunia nyata. Karena jarang sekali kutemukan orang yang sepertimu.

    Tapi, sudah. Cukuplah saja seperti ini. Hanya mengenalmu dari kejauhan pun sudah cukup. Tidak perlu bertemu, tidak perlu berkenalan. Kamu sudah cukup memberikanku inspirasi, bahwa pribadi yang sepertimu mungkin banyak disukai orang. Atau bahkan sudah banyak yang ingin berkenalan denganmu, hanya saja mungkin kamu memberikan batasan. Aku faham, batasan yang kau buat bukan karena tinggi hati dan merasa kamu eksklusif, tapi memang seperti itu menjaga kehormatan perempuan. Pesanku, jangan terlalu baik dan membuka perhatian pada semua laki-laki. Karena sesungguhnya tidak ada laki-laki yang hanya ingin berteman dengan wanita. Pasti lebih dari itu!

    Terimakasih sudah menginspirasi, membawaku pada cara pandang baru dalam memilih perempuan yang akan jadi ibu dari anak-anakku. Ia yang menjaga kehormatannya. Semoga kutemukan perempuan lain yang punya hati seperti milikmu, atau yang lebih baik darimu.

    Salam,

    Seseorang yang tidak perlu kau kenal.

    —–

    Dan sampai saat ini, pesannya hanya mengendap di catatan ponsel. Tidak jadi dikirimkan. Biar saja disimpan rapat-rapat. Buat apa? Jika dikirim pun, hanya akan menambah beban perempuan itu.

    Seandainya semua laki-laki berpikiran seperti dia, tentulah tidak ada perempuan/istri orang yang akan terbebani oleh orang yang belum dikenal. Yang memancing agar si perempuan penasaran. Lalu mencari tahu. Sampai akhirnya diam-diam ‘terkesan’ pada sikap sopan santun si laki-laki itu.

    Jangan ada lagi jatuh cinta pada tempat yang salah. Jangan. Semoga Allah melindungi kehormatan perempuan dan laki-laki dalam berinteraksi.

    View Full
  • *شعراء العرب في العصور*


    *العصر الجاهلي: *

    زهير بن أبي سلمى (حكيم الشعراء، و اهله الشعراء، شاعر الحوليات)

    امرؤ القيس (زعيم الشعراء و امامهم)

    النابغة الذبياني (مشهور بشعر الاعتذار)

    حاتم الطائي

    الأعشى

    عنترة بن شداد



    *عصر صدر الإسلام : *

    حسان بن ثابت (مخضرم)

    كعب بن زهير (مخضرم)

    النابغة الجعدي

    كعب بن مالك(أكبر الشعراء في المدينة)

    عبد الله بن رواحة(مخضرم)

    لبيد بن ربيعة العامري(مخضرم)

    خنساء



    *العصر الأموي :*

    الأخطل

    الفرزدق

    جرير(الأول، )

    أبو الأسود الدؤلي (شعر الزهد)



    *العصر العباسي* :

    الجاحظ

    أبو الطيب المتنبي

    البحتري

    أبو فراس الحمداني


    *العصر الحاضر* :

    أحمد شوقي


    ۔شاعر النيلين_ حافظ إبراهيم




    *النقائض* : قصائد الهجاء التي وقعت في العصر الأموي بين جرير والفرزدق والأخطل، حيث كان كل منهم يمدح في نفسه ويذم الآخر بقصائده مع التقيد بوزن وقافية القصيدة المذمومة.


    *مخضرم

    sebutan buat penyair yang tinggal di dua masa


    *yg paling akhir intinya: wktu zaman umawi, ada 3 penyair (جرير،الغرزدق،الأخطل) mereka bangga2in diri sendiri tapi mereka itu ngejelekin satu sama lain, pake قصائد مع التقيد dan wazn sama qofiyah yg mereka pake di qosidah2 mereka itu yang tercela 😱


    * najd- yamamah ditengah2 najd, skarang najd itu riyadh, بلد شعير


    [ ]حطبة هانيء إبن قبيصة الشيباني

    يا معشر بكر، هالك معضور خير من ناج فرور، إن الحذر لا ينجي من القدر، و إن الصبر من أسباب الظفر، المنية و لا الدنية، إستقبال الموت خير من إستدباره، والطعن في ثغر اكرم منه في أعجاز و الظهور، يا آل بكر، قاتلوا فما للمنايا من بد

    [ ]حطبة أبي بكر الصديق

    أيها الناس إن قد وليتم و لست بخيركم، فإن رأيت موني إلی الحق فاستعينوني، و إن رأيت موني الباطل فاسددوني، أطيعوني

    [ ]الجاحظ

    الكتاب الجليس الذي لا يطريك، و الصديق الذي لا يغريك، و الرفيق الذي لا يمللك، و الجار الذي لا يستنبطئك، و الصاحب الذي لا يعامل بالمكر، و لا بالنفاق


    .Sepetik catatan dari pelajaran adabul arrabiy-lebih ke syair, penyair n sejarah kalo menurutku- bukan adab dalam makna kata adab. Maaf sekali kalau ada catatan yang salah, :)

    View Full
  • ‏لا تنتظر سقوطي لأني 24 ساعة منسدح ..

    - @moqtabasaty

    View Full
  • Mengalah Untuk Menang (’:

    Ini adalah salah satu konsep yang dirasa cukup efektif untuk kita mendakwahi orang tua, kita sepakat bahwa problematika dalam hal ini banyak dari teman-teman kita yang miss ketika pelaksanaannya

    Kita terlalu banyak bermain dengan dalil, kita merasa lebih berilmu dari mereka, sehingga tanpa sadar kita melampaui batas, kita larut bersama suasana, perkataan kita, nada bicara kita, dan suasana hati kita, yang tidak kita control, seketika meninggalkan bekas dihati mereka

    Apakah hanya bermodalkan segelintirnya ilmu dan semangat yang tinggi, kita mampu untuk merubah mereka?

    Satu hal yang perlu diingat, bahwa “perdebatan hanya akan membuat hati semakin keras dan meninggalkan kedengkian dihati”

    Maka tinggalkanlah debat, introspeksi diri lalu minta ampun dan meminta tolonglah kepada Allah, kroscek kembali niat kita, banyak-banyaklah diskusi prihal ini kepada mereka yang dirasa cukup mengilmuinya

    Hikmahnya adalah..

    Se-shahih apapun dalil yang kita bawa kepada orang tua, jika memang Allah belum berkehendak, bisa dipastikan kesalahannya ada pada diri kita

    Memang gemes tiap kali tukar pikiran dengan orang tua dan dipertengahan pembicaraan kita mendapati khilafiyah prihal Agama pasti saja orang tua membawakan “dalil budayanya”

    Memang sudut pandang kita sebagai penuntut ilmu atau yang sempat mempelajarinya, bahwa apa yang dikatakannya dengan menggunakan “dalil budayanya” itu keliru, dan kita berusaha untuk meluruskannya

    Tapi siapa yang tahu hati seseorang, niat hati meluruskannya, karena kita terlalu bersemangat, kita lupa deh sama adab kita, kita lupa tuh sama posisi kita bahwa kita ini adalah seorang anak dan yang ku ajak bicara itu orang tua lu sendiri loh, akhirnya kita malah debat

    Gitu aja mulu tiap kita ngobrol dan membicarakan khilafiyah prihal Agama, ujung pasti debat

    Ngakunya sih penuntut ilmu, tapi nyatanya hanya sebuah penisbatan belaka

    Wahai anak kecil, tak usah mengklaim diri telah dewasa jika akhlak dan adab yang selama ini engkau pelajari tidak mampu kau praktekan terhadap orang tua mu

    Karena jabatan dan harta tidak mampu merubah pandangan orang tua yang menganggap anaknya adalah tetap seorang anak, selain adab yang mampu merubahnya.

    View Full
  • Arzoo Lakhnavi - Itna Barsa Toot Ke Badal Doob Chala Maikhana Bhi - Urdu Poetry

    View Full
  • Banyak orang yg pandai bicara, tapi omongannya tak terjaga. Pandai berargumen di forum, tapi tak beradab saat bermajelis. Pendidikannya semakin tinggi, prestasinya bertambah, jabatannya naik, tapi makin sombong.

    Berkurang kerendah hatiannya, makin pudar rasa hormatnya pada orang lain. Di negeri ini banyak cendikiawan, banyak profesor, tapi tak menjadikan keadaan membaik. Begitulah pertanda adab semakin hilang.

    View Full
  • “The intention of self isolation is primarily to keep others safe from our own evils rather than to be safe from theirs. By isolating, we avoid infecting other people with our bad habits and our poor manners. We now inflict less harm upon the world.”

    — Shaykh ʿAbdal Ḥakīm Murād 🌿

    View Full