#akal Tumblr posts

  • Jika mahu jadi sufi jadilah seorang sufi yang berakal. Antara sifat orang yang berakal adalah dia takkan berduka kerana berduka akan mengaburi akal. Orang yang berakal juga ialah orang yang akan hidup untuk masyarakatnya bukan untuk dirinya seorang. Hidupnya akan sentiasa ada manfaatnya untuk masyarakat. Ini jelas. Hidup sufi berakal adalah hidup bersama-sama masyarakat bukan hidup seorang diri dan mengasingkan diri dari masyarakat.

    View Full
  • CW: dehumanization, blood, graphic medical descriptions, general creepy vibes, intimate whumper,  sexual innuendos, my friend might have slipped a lenny face in that i didn’t catch if u find it I’m sorry, I think you all know how much swearing is in these I’m not sorry

    Keep reading

    View Full
  • image

    Masih kosong

    Apa yang akan kita isi dalam lembaran harian kita hari ini?

    Mau kita diisi dengan sesuatu baik atau buruk?

    Tapi apa standar perbuatan atau sesuatu itu disebut baik atau buruk? Pertanyaan ini harus punya jawaban jelas sebelum kita menentukan ini baik dan in buruk.

    Perbuatan disebut baik atau buruk bukan didasarkan pada perbuatan tersebut. Contohnya adalah perbuatan membunuh. Membunuh tidak bisa dikatakan buruk karena perbuatan itu adalah membunuh atau menghilangkan nyawa. Tapi harus dilihat faktor dari luar perbuatan itu, yaitu faktor pendorong untuk melakukan perbuatan itu dan tujuan perbuatan itu

    Membunuh orang kafir yang berada dalam jaminan daulah khilafah adalah perbuatan buruk sedangkan membunuh kafir harbi yang memusuhi kaum muslim dan menghalangi dakwah adalah baik.

    Selain itu ditentukan oleh tujuan dilakukan perbuatan itu. Sebagai orang yg beriman, tujuan kita adalah menggapai ridho Allah.


    Penentuan perbuatan baik dan buruk berdasarkan pada standar yang benar sangat penting dan membantu kita menjalani kehidupan ini dengan benar dan tidak penuh kesia-siaan ketika melakukan suatu perbuatan.

    Jadi baik dan buruknya itu berdasarkan pada dua hal, faktor pendorong dan tujuan. Bagi muslim baik dan buruk harus sesuai dengan Islam dan hukum syara

    Lakukanlah perbuatan yang sesuai hukum syara dan tulislah lembaran harian ini dengan perbuatan baik

    View Full
  • Responding to these difficult times with compassion, Shunia delivered this meditative gift in video form on #InternationalYogaDay.

    When Shunia was putting their new album together they decided to include a song based on the Akal mantra. It has such a special meaning and purpose. It is meant to help guide the departing soul on its journey out of the worldly realm. 

    Here are their thoughts about” Akal”. “As we were composing, we thought it’d be beautiful to have a more classical counter melody line going over the top of the chant. As we worked on it, it came to us that using the Italian phrase, “risposa in pace”, which means, “rest in peace” would not only be a beautiful musical line to sing but would also be appropriate to the true meaning of the mantra. It would give an Eastern and Western connection to this human expression of mourning, and desire for our souls to have eternal life. True liberation. With all that is going on in the world, we thought it would be timely to release “Akal” now, because so many people have lost their loved ones. It’s been incredibly heart breaking. We hope this song can offer some peace.”

    View Full
    • Robiah al Adawiyah : “Wahai saudaraku Hasan Basri tahukah kamu bagaimana pembagian akal dan nafsu?”
    • Syekh Hasan Basri : “Iya, saya mengetahuinya, akal itu ada 10 bagian begitupun nafsu.”
    • Robiah al Adawiyah : “Kamu benar, tahukah kamu berapa pembagiannya untuk pria dan berapa untuk wanita?”
    • Syekh Hasan Basri : “Iya, saya mengetahuinya, untuk pria dia mempunyai 9 akal dan 1 nafsu, sedangkan untuk wanita sebaliknya, dia mempunyai 1 akal dengan 9 nafsu.
    • Robiah al Adawiyah : “Kamu benar, sekarang apa kamu tahu siapa di antara pria dan wanita yang lebih istimewa?”
    • Syekh Hasan Basri : “Menurutku pria lebih istimewa, karena dia memiliki 9 akal dan hanya memiliki 1 nafsu”
    • Robiah al Adawiyah : “Sekarang kamu salah saudaraku”
    • Syekh Hasan Basri : “Kenapa bisa begitu?”
    • Robiah al Adawiyah : “Wanitalah yang lebih istimewa, karena dia mampu menjaga 9 nafsunya hanya dengan bekal 1 akal saja, sedangkan pria untuk menjaga 1 nafsu saja dia harus dibekali 9 akal bahkan mereka sering kali terpontang-panting menghadapi 1 nafsu itu.”
    View Full
  • Tubuhku sudah mulai berbau kecut lagi lantaran keringat yang keluar tipis-tipis ini. Meresap ke kaus dan membuatku mencium baunya. Beberapa hari akhir ini, atau lebih tepatnya ketika aku me-lockdown diriku di rumah, aku jarang menyemprotkan wewangingan ke tubuh dan bajuku. Mungkin hanya beberapa kali aku terdorong untuk menyemprot weanginan, ketika aku akan bergegas ke masjid dan aku belum mandi. Ahh, sekadar agar tubuhku tidak membaui jamaah lain saja. hehehe

    Kehidupan berih merupakan anjuran agama. Namun apakah dengan bersih itu menjamin kita akan tetap sehat? Jika kalian mengatakan iya, kalian perlu survei saja, tidak perlu penelitian dengan beragam jenis-jenisnya. Cukup survei saja, ke pasar atau ke kota, atau ke rumah sakit yang sedang ramai menangani pandemi Corona virus. Adakah di antara ratusan atau bahkan ribuah pasien yang entah PDP, ODP, atau yang positif itu ada salah seorang yang mohon maaf “terputus syaraf sadar/warasnya”?

    Kalian tentu paham bagaimana pola kehidupan orang-orang yang telah dibebaskan Allah dari beban dosa dan sedih itu. Di mana tidurnya, bagaimana dan apa makanannya, frekuensi mandinya, atau bahkan berapa kali mencuci tangan ketika pandemi Corona virus ini sedang melanda Ibu Pertiwi ini. Aku menduga mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, atau mereka tahu tapi bersikap seolah tidak tahu. hahaha

    Itu menjadi refleksi bagi kita, bahwa kebersihan tidak mutlak menjamin kesehatan seseorang. Itu sekadar membantu beberapa persen saja, sedangkan faktor penentu kesehatan yang mutlak adalah di tangan Allah. Aku tidak mengatakan pola hidup bersih itu percuma, ITU PENTING  untuk harmonisasi kehidupan. Coba bayangkan engkau yang masih waras ini tidak mandi sehari. Mungkin bapak, ibu, atau suamimu sudah menggendngmu ke bak dan memandikanmu. hahaha

    Kebersihan penting sebagai upaya proteksi terhadap virus hati. Tadi aku sempat bercerita bahwa badanku sudah bau kecut. Yang aku rasakan adalah gelisah, tak tenang, dan pikiran semrawut karena kesegaran sudah beranjak musnah dari tubuh. Nah, inilah yang menyebabkan sakit, sistem syaraf terpancing untuk semrawut, amburadul, sehingga sistem imunpun kualahan menghadapi kuman-kuman yang sebenarnya bisa dibasmi dengan imun yang baik. Berhubung imun sedang turun, memnuruk, maka kuman-kuman itu menang sementara. hemmm

    Jangan percaya omonganku yaa. Akupun tak sadar tulusanku. Tanganku menaridengan sendirinya (ga mungkin oii). Ya begitulah aku…

    Beberapa waktu lalu, masa-masa pilpres kita akrab dengan idiom “akal sehat”. Benarkah demikian? Berarti ada akal yang tidak sehat?

    Sebenarnya Allah sudah mengatakan, “Afala ta’qilun.. Afala tatafakkarun.” (Apakah engkau tidak berpikir/ mengapa engkau tidak berpikir!)”

    Dengan demikian kita paham bahwa objek kehidupan adalah akal yang berfungsi untuk berpikir. Jika seseorang tidak menggunakan akalnya baik itu dalam hal bekerja, kuliah, bahkan beragama, maka menurut firman Allah itu kita dalam keadaan tidak sehat.

    Manusia sehat karena menggunakan akal, sehat dalam berpikir, bekerja, dan beragama. Namun jika seseorang meninggalkan akalnya, maka sakit berpikir, bekerja, beragamapun tak bisa dihindari. Maka mari pertimbangan akal kita dalam kompleksitas kehidupan. Jangan meninggalkan akal.

    Sebagian kelompok Islam mengatakan, “Jangan menggunakan kal dalam beragama. Kita manut Qur’an dan hadis saja.”

    Aku merasa sedih dengan ungkapan demikian. Untuk bekerja, kuliah saja engkau menggunakan akal, mengapa dalam hal agama yang itu puncak kehidupan manusia malah meninggalkan akal. Lalu darimana datangnya fiqh, fatwa, dll.?

    Kembali kepada kesehatan, mengapa orang gila tidak dicemooh orang lantaran hidupnya tidak menjaga kebersihan? Karena orang waras sudah memaklumkan hal demikian. Sebenarnya secara kemanusiaan hal itu tidak tepat. Keluarga dan negara harus hadir untuk mewujudkan sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Nun, pembiaran terjadi kepada meraka, dan Allah-lah yang menjaga meraka secara langsung dari nakalnya virus, kuman, dan kesedihan.

    Aku ingin banyak nulis, tapi sudahlah. RPPku belum rampung.. hahaha

    Saat-saat kuliah online yang justru memutus urat syaraf online berpikir ini, aku merasa enggan melakukan apa yang dinstruksikan dosen-dosen. Apalagi cuma nyuruh nugas, jarang sekali diskusi santai dan lepas dari tugas. Untung masih ada satu makul yang santuiii, Kritik Sastra menjadi wahana pelampiasan kepenatan hati. Akhirnya pada jam kuliah online, stiker bermutan curcol bermunculan, dari dosen juga demikian. hahaha

    Okei, selamat malam. Doakan saya malam ini merampungkan RPP. aamiin


    Sragen, 28 Maret 2020

    View Full
  • #league of legend art #league #league of legend cosplay #lol#akal#kda akali#gif#vector #kda league of legends
    View Full
  • Di kehidupan ini pastinya kita pernah bertemu dengan seseorang, yang mana seseorang itu membawa kita kepada kebaikan atau keburukan.

    Dan tahukah kamu bahwa di kehidupan ini ada sebuah ruang yang menjadi tempat bertemunya semua kebaikan?

    Iyaa.. ruang kehidupan itu bernama ruang HIKMAH.

    Dimana setiap kebaikan itu pasti menghubungkan kita dengan kebaikan lainnya.

    Dan tahukah kamu, RUANG HIKMAH itu sudah Allaah hamparkan di dunia ini, yaitu Al Qur'an.

    Mengapa kebaikan yang kita lakukan serasa menutup kebaikan lainnya?  atau bahkan menyeret kita ke ruang keburukan?

    Contoh :

    • “Kok sholat shubuhnya ngantuk sih?”
    • “Iya.. habis qiyamul lail soalnya.”

    Padahal kebaikan (sholat) yang benar tidak boleh seperti itu.

    Kebaikan yang tidak membawa pada kebaikan adalah kebaikan yang dilakukan tidak di Ruang Hikmah.

    Orang baik seperti ini bisa jadi kebaikannya tidak didasarkan kepada Al Qur'an, bahwa semua amal kita hanya untuk dan karena Allah Ta'ala.

    ***

    Al Qur'an adalah ruang kehidupan yang penuh dengan Hikmah.

    Sudahkah kita memasukinya? Ruang-ruang Hikmah yang ada di dalam Qur'an?

    Jika belum, kemungkinan Ruang Hikmah kita masih terkunci (tergembok).

    Apa nama gemboknya? Hubbud Dunya.

    Al Qur'an tidak akan memberi makna saat berada dalam genggaman orang yang Cinta Dunia.

    Hubbud Dunya adalah penyakit kehidupan yang bisa merusak harmoni antara Akal, Hati, dan Jiwa manusia. Hubbud Dunya juga bisa menjadi penyebab manusia tidak bisa sampai pada Tujuan Hidupnya (Husnul Khotimah).

    Contoh:

    • Suatu waktu keluarga yang terdiri Ayah, Ibu, Anak pergi keluar untuk mencari makan. Ayah ingin makan bakso, Ibu ingin makan sate, dan Anak ingin makan bakmi.

    Apakah dalam perjalanan mereka akan mendapat apa yang masing-masing inginkan? Jelas tidak. Justru rasa lapar mereka makin bertambah.

    Begitu pun dengan hidup kita kawan.

    Ingat. Suatu saat kita akan kedatangan Tamu Terakhir (Malaikat Maut).

    Bayangkan jika pada saat itu Akal, Hati, dan Jiwa tidak harmonis!!!

    View Full
  • image
    image

    pertama,

    لما خلق الله العقل قال له أقبل فأقبل ثم قال له أدبر فأدبر فقال ما خلقت خلقا أكرم علي منك بك آخذ وبك أعطي

    “Tatkala Allah menciptakan akal, Allahmenyerunya, “Mari sini.” Ia pun memenuhi seruan tersebut. Lantas dikatakan lagi padanya, “Baliklah”. Ia lantas balik. Tidak ada satu makhluk pun yang diciptakan yang lebih mulia darimu (dari akal). Karenamu diambil dan karenamu diberi.”

    Hadits kedua,

    لكل شيء معدن ومعدن التقوى قلوب العاقلين

    “Segala sesuatu memiliki tambang dan tambang takwa didapat pada hati orang yang berakal.”

    Hadits ketiga,

    إن الرجل ليكون من أهل الصلاة والجهاد وما يجزى إلا على قدر عقله

    “Sesungguhnya seseorang dinilai sebagai ahli shalat dan jihad dilihat dari kualitas akalnya.”

    Di akhir penjelasan, Ibnul Qayyim menyebutkan,

    Abul Fath Al Azdi mengatakan, “Tidak ada satu pun hadits yang menunjukkan keutamaan akal yang shahih. Demikian dikatakan oleh Abu Ja’far Al ‘Uqaili dan Abu Hatim Ibnu Hibban.” Wallahu a’lam.

    [Disarikan dari fi Ash Shohih wa Adh Dho’if, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Atsar, cetakan pertama, 1423, hal. 38]

    ما رأَيْتُ مِن ناقصاتِ عقلٍ ودِينٍ أذهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الحازمِ مِن إحداكنَّ يا معشرَ النِّساءِ ) فقُلْنُ له: ما نقصانُ دِينِنا وعقلِنا يا رسولَ اللهِ ؟ قال: ( أليس شَهادةُ المرأةِ مِثْلَ نصفِ شَهادةِ الرَّجُلِ ) قُلْنَ: بلى قال: ( فذاك نُقصانُ عقلِها أوَليسَتْ إذا حاضتِ المرأةُ لم تُصَلِّ ولم تَصُمْ ) ؟

    “Tidak pernah aku melihat yang kurang akal dan agamanya, namun mampu menghilangkan keteguhan lelaki yang teguh, melebihi kalian wahai para wanita”. Maka para wanita bertanya kepada Nabi: “apa maksudnya kami kurang akal dan kurang agamanya wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Bukanlah persaksian wanita itu semisal dengan persaksian setengah lelaki?”. Mereka menjawab: “ya benar”. Nabi melanjutkan: “Itulah kurangnya akal. Dan bukanlah wanita jika haid ia tidak shalat dan tidak puasa?“(HR. Bukhari no. 1462, Muslim no. 80).

    وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى

    “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya” (QS. Al Baqarah: 282).

    ( عقل ) العَقْلُ الحِجْر والنُّهى ضِدُّ الحُمْق …. وقيل العاقِلُ الذي يَحْبِس نفسه ويَرُدُّها عن هَواها ….. والعَقْلُ التَّثَبُّت في الأُمور والعَقْلُ القَلْبُ والقَلْبُ العَقْلُ وسُمِّي العَقْلُ عَقْلاً لأَنه يَعْقِل صاحبَه عن التَّوَرُّط في المَهالِك أَي يَحْبِسه وقيل العَقْلُ هو التمييز الذي به يتميز الإِنسان من سائر الحيوان ويقال لِفُلان قَلْبٌ عَقُول ولِسانٌ سَؤُول وقَلْبٌ عَقُولٌ فَهِمٌ وعَقَلَ الشيءَ يَعْقِلُه عَقْلاً فَهِمه

    Al-‘aql (akal) adalah rasio dan kecerdasan, lawan katanya adalah kebodohan. Orang disebut al-‘Aqil adalah orang yang menjaga dirinya dan menjauhkannya dari hawa nafsunya. Akal adalah penentuan secara hati-hati di dalam segala urusan. Akal adalah qalbu dan qalbu adalah akal. Akal disebut berakal karena pemiliknya mengerti supaya tidak terjerumus dalam kehancuran atau dia menjaganya (dari kehancuran). Akal adalah pembeda antara manusia (insan) dan seluruh binatang atau makhluk hidup. Selanjutnya ‘aqul dan ‘aqala berarti faham atau memahami.

    View Full
  • image

    [El Teatro de la margravina de Bayreuth se levantó a mediados del siglo XVIII]

    La editorial Akal continúa su colección de Historia de la música occidental en contexto con el volumen que el musicólogo estadounidense John Rice dedica a la música en la era de la Ilustración

    Tomo la sugerencia del historiador Jacques Barzun, que destaca John Rice en el primer capítulo de este libro, para caracterizar la época de su estudio: El siglo de la Enciclopedia. La confianza en el progreso científico y en los beneficios de la razón ilustrada impregnaron las ideas y las acciones de las elites intelectuales europeas impulsando, en efecto, proyectos tan extraordinarios como el de la Encyclopédie, un intento por atrapar y categorizar todo el conocimiento humano.

    Una época a la que dieron lustre y en la que marcaron tendencia las mentes racionalistas favoreció obviamente un arte (y, por tanto, una música) regida por los principios de la razón. El estilo clásico, que se fundamenta en el dominio de la melodía acompañada en texturas transparentes y sencillas, en frases regulares, con cadencias bien marcadas, y en armonías claras y funcionales, se aprovechó de la consolidación del racionalista sistema tonal que se había ido configurando desde principios del siglo XVII y desarrolló la racionalista forma sonata como supremo recipiente en el que verter la fantasía de los artistas.

    En cualquier caso, a veces se olvida que los músicos clásicos no renunciaron a un principio básico de su actividad: conmover al espectador. Aunque esa tendencia a la moderación de contrastes, a la simetría y a la naturalidad es real, el sentimiento no desapareció ni mucho menos de la música. No en vano, el estilo sentimental vinculado a Emanuel Bach y la escuela berlinesa o el Sturm und Drang están también detrás de la aparición y desarrollo del Clasicismo musical.

    Pese al título de su libro y a que, en efecto, se acerca en ocasiones a las primeras décadas del siglo para trazar antecedentes y señalar trayectorias, es la época clásica, entre el estilo galante y el Beethoven heroico, el motivo del estudio de John Rice, que se encardina en la serie de estudios históricos publicados por la editorial W. W. Norton & Company en Nueva York hace poco más de un lustro y que Akal está vertiendo al español desde hace dos años bajo el epígrafe genérico de Historia de la música occidental en contexto, colección pensada en seis volúmenes y de la que sólo queda por salir al mercado uno, el dedicado al período medieval.

    Al lector le sorprenderá seguramente que los tres grandes nombres del Clasicismo (Haydn, Mozart y Beethoven) tengan un tratamiento relativamente reducido en comparación con lo que suele ser normal en los manuales de historia del período. No es que Rice pretenda revolucionar el mundo de la musicología ni el de la estética restándoles importancia, es que justamente por esa presencia abrumadora (y razonable, habría que añadir) de los tres gigantes en la historiografía más tradicional, el profesor americano ha preferido extender y hacer descansar su mirada en otros nombres y otras realidades mucho menos conocidas.

    Aunque atiende a cuestiones sociales y culturales de la época, hace hincapié en el papel de las mujeres y plantea algunas interesantes diatribas musicológicas de reciente actualidad (como la que discute el uso del término clásico para caracterizar a la música del período), la obra de Rice discurre de forma más o menos convencional, esto es, diacrónica, en un análisis del desarrollo estilístico, desde el contraste entre estilo erudito y galante en las primeras décadas del XVIII hasta el estilo heroico de Beethoven, aunque lo hace sin un centro vital (Viena sigue siendo importante, pero no es el sol en torno al cual gravitan el resto de astros de Europa), paseándose por los distintos ámbitos geográficos, que ahora adquieren un nuevo estatus, saltando de ciudad en ciudad y de corte en corte, sin olvidar (y esto sí es una novedad notable) la realidad americana.

    Así, por el libro de Rice discurren Nápoles y su sistema de formación musical, el mundo de la ópera de carnaval en Venecia y Roma, el París de los salones y de los visitantes ilustres, pre y postrevolucionario, el Londres de los conciertos públicos y el Londres de Haydn, la Viena de Gluck y la de Mozart y la de Beethoven, el Berlín de Federico II y el mundo de las cortes centroeuropeas (Mannheim, Bayreuth, Eisenstadt), la San Petersburgo de Catalina la Grande, con su obsesión por la ópera italiana, el Madrid de Scarlatti y de Boccherini, la Praga que vio el estreno de Don Giovanni, Jamaica, Brasil, México… Planetas en órbitas que se cruzan sin centro conocido.

    [Diario de Sevilla. 14-10-2019]

    image

    La música en el siglo XVIII

    John Rice. Traducción de Juan González-Castelao. Akal (Historia de la música occidental en contexto), Madrid, 2019. 349 páginas. 24 euros.

    #john rice#akal#jacquez barzun #carl philipp emanuel bach #franz joseph haydn #wolfgang amadeus mozart #ludwig van beethoven #domenico scarlatti#luigi boccherini #christoph willibald gluck #libros#books#músics#music
    View Full
  • sayanya pakai hati, kamunya pakai akal. bisa terbalik gini, iya karena kamu memang perempuan yang unik

    View Full
  • Jantung berdetak keras. Kepala terasa sakit. Seluruh badan menegang. Jika mungkin, ingin sekali rasanya berteriak.

    Pada puncaknya, orang lupa diri. Semua kesadaran lenyap. Itulah kemarahan. Gejalanya menyakitkan. Namun, ia tak dapat begitu saja dihindarkan.

    Memang, selama kita masih hidup, kemarahan, dan beragam emosi lainnya, pasti akan datang berkunjung. Kemarahan adalah emosi manusia. Ia dirasakan secara pribadi. Namun, ia juga memiliki unsur sosial.

    Indonesia tak asing dengan amuk massa. Gerombolan orang merusak berbagai hal yang ada di depan mata mereka. Ini adalah kemarahan sosial. Alasannya beragam, mulai dari kekecewaan pada keadaan politik dan ekonomi, sampai demo pesanan penguasa busuk tertentu.

    Di sisi lain, banyak orang mengira, bahwa orang yang telah mendalami Zen tidak akan pernah bisa marah. Mereka hidup dalam kedamaian abadi. Tak ada yang dapat menganggu mereka. Anggapan ini jelas salah kaprah.

    Kemarahan perlu dipahami, supaya ia tak menjajah hidup kita. Pemahaman muncul dalam dua titik, yakni pemahaman akan akar kemarahan, sekaligus pemahaman tentang keluar dari kemarahan. Pemahaman adalah kunci kebebasan.

    Akar Kemarahan

    Kemarahan memiliki empat akar. Keempat akar ini saling terhubung satu sama lain. Pertama, kemarahan berakar pada kekecewaan, yakni ketika keinginan bertentangan dengan kenyataan. Ini terlihat sederhana, namun dampaknya bisa sangat parah, mulai dari stress, depresi, kehilangan kewarasan sampai dengan bunuh diri.

    Dua, kemarahan berakar pada pikiran yang mencengkram. Inilah ambisi, yakni upaya untuk menjajah kenyataan, supaya sesuai dengan keinginan, jika perlu dengan kekerasan. Orang amat menginginkan sesuatu, sampai lupa, bahwa kekuatan dirinya terbatas. Ketika kenyataan lolos dari cengkraman, penderitaan adalah buahnya.

    Tiga, ketika orang mencengkram terlalu kuat dunia, supaya berjalan sesuai keinginannya, ia akhirnya melekat, dan tak mampu melepas ambisinya sendiri. Kemarahan pun muncul. Penderitaan datang berkunjung. Tak mampu melepas adalah penderitaan pada dirinya sendiri.

    Empat, segalanya berubah. Apa yang lahir pasti akan berakhir. Ketika orang tak mampu menerima ini, maka ia akan jatuh pada kemarahan. Ia menginginkan sesuatu yang mustahil, yakni supaya segalanya tetap seperti yang diharapkan, atau kembali ke masa lalu yang diimpikan.

    Kemarahan adalah racun bagi diri. Berbagai penelitian menunjukkan, bahwa ketika orang marah, seluruh sistem biologis tubuhnya menjadi kacau. Sesungguhnya, dengan marah, orang menyakiti dirinya sendiri. Ketika kemarahan menggumpal menjadi dendam, berbagai penyakit pun datang mengunjungi diri, mulai dari ketidakseimbangan hormon, sampai dengan kanker.

    Just Do It

    Bagaimana jalan keluar dari kemarahan? Kita perlu memiliki pemikiran yang melepas setiap saat. Apapun yang muncul di kepala, perlu segera dilepas, supaya tidak menghasilkan ambisi baru, yang berujung pada penderitaan. Bagaimana cara melepas?

    Orang dapat melepas, jika ia menerapkan just do it (lakukan saja) mind. Artinya, apapun yang ia lakukan, ia lakukan sepenuhnya, tanpa keraguan. Ketika berjalan, ia sekedar berjalan. Ketika duduk, ia sekedar duduk.

    Ketika bernapas, ia sekedar bernapas. Ketika menderita, ia sekedar menderita. Ketika berpikir, ia sekedar berpikir. Dengan cara ini, kemarahan, dan semua emosi lainnya, akan turun, dan kebenaran akan tampak di depan mata, yakni kebenaran disini dan saat ini. Hidup pun akan menyentuh dimensi yang sebelumnya tak tampak.

    Apakah lalu kemarahan akan langsung lenyap, dan orang tak akan marah lagi? Tidak. Kemarahan lalu dibalut dengan kesadaran, sehingga bisa digunakan sesuai dengan konteks kebutuhan. Ada kalanya, kemarahan itu perlu, asal dilakukan secara kontekstual, yakni dengan sikap welas asih dan kebijaksanaan. Dengan cara ini, kemarahan tak lagi menjadi sumber penderitaan, melainkan justru bisa menolong orang lain.

    Memahami kemarahan adalah kunci kebebasan, sekaligus kunci dari kebahagiaan yang lestari. Para politisi kita, terutama yang kalah dari pilpres dan pileg April 2019 kemarin, perlu memahami hal ini. Dengan begitu, berbagai peristiwa politik yang konyol kiranya bisa dihindari.

    -  Reza A.A Wattimena

    View Full
  • “Ada harga yang harus dibayar dari sebuah perubahan. Maka menghargai adalah alat tukar paling masuk akal yang dimiliki semua orang dan relatif mudah dilakukan. Tinggal ‘mau’-nya. Cobalah. Enak.”

    — cerminusang

    View Full
  • Lelaki lebih menggunakan akal dan perempuan lebih mengedepankan perasaan tapi bukan berarti lelaki tak memiliki perasaan dan perempuan tak menggunakan akal, bukan?

    —f7

    View Full
  • Jatuh cinta itu mengerikan. Dia dapat membunuh akal sehatmu secara perlahan.

    ㅡ Umi Denta P.

    View Full
  • “Bahkan PENGABAIAN akal berpotensi mengantar seseorang tersiksa di dalam neraka.” (Q.S. Al-Mulk ayat 11)

    ##alquran #muslim #islam #akal #logika #otak #selfreminder #neraka #hijab #muslimah #positif #renungan #quotes #hadist #kutipan

    View Full