#cerpen Tumblr posts

  • “Kamu percaya sama yang namanya parallel universe nggak, Ta?”
    Parallel universe. Entah apa lagi yang ada di pikiran random gadis berusia 17tahun bernama Kiki di siang yang mendung.

    “Parallel universe yah? Well, I do believe we’re not the only creatures living in this solar system sih, Ki.”

    “Yee bukan, bukan itu yang aku maksud. Bukan suatu tempat dimana alien tinggal, Taa. Bukan juga tempat dimana makhluk halus macam jin, syaiton dan semacamnya itu tinggal.”

    “Lah, terus apa dong? Okay, Ki. Now you lost me.”

    “Parallel universe itu.. Mmm gini deh, gampangnya kayak Narnia, an alternative world or universe that are similiar to but still distinct from its own. A single other material reality, which has co-existance with ours.”

    “Err.. suatu dunia kayak Narnia? Where magical and unordinary things happen? Aku nggak percaya sih, Ki. Hahaha, kamu ada-ada aja sih anak kencur..”

    Paras manis Kiki merengut.

    “Eh, kenapa kamu tiba-tiba ngebahas dunia semacam Narnia?”

    “Mungkin di parallel universe sana, aku sama dia bisa bareng yah, Ta?” pandangannya beralih pada patung kaki akar di KM0, “mungkin di parallel universe sana, sekarang aku sama dia lagi bareng-bareng di kampus kuning itu, tawa-tawa bareng, masih mengejar satu mimpi yang sama..”

    “Ki…”

    “Sshh..Everyone deserve to be happy, isn’t it, Ta? Even if it’s not real.”, ujarnya lirih.

    Yeah.. Everyone deserve to be happy, even if it’s not real. :)

    View Full
  • Awal Bulan Mei


    Sore yang suram memenuhi pandangannya. Gadis itu melihat ke arah luar dari kaca jedela kamarnya. Tak ada sinar masuk dari jendela. Hanya lampu kamar menyorotinya. Matahari sedikit muram sepertinya. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Nampaknya langit juga sedang malas melukis. Hari itu sedikit kelabu. Lembayung pun tak mau ditunggu. Dia tak ingin muncul untuk memoles langit di ujung barat.

    Sore itu berlalu tanpa semburat cahaya merah jingga ungu. Langit bersih kala itu. Tak ada bintang satupun yang hadir. Bulan juga nampaknya sedang dikurung awan. Hari itu dia lewatkan tanpa melihat langit sore yang selalu dikaguminya. Baginya hari itu cukup membosankan dan lebih baik di kamar saja. Dia duduk di depan cermin persegi. Lalu berkata:

    “Kenapa hidupku hambar? Aku tidak punya apapun yang aku banggakan. Aku tidak punya kelebihan. Tidak ada yang spesial dariku”

    Setelah itu dia pindah posisi. Berjalan tiga langkah ke timur lalu merebahkan badannya di tempat tidur. Mengambil gawai di samping bantalnya. Satu-satunya aplikasi yang dibukanya adalah notes. Notes adalah teman terbaiknya selama ini. Dia pendengar setia atas setiap ketikan penuh bahagia hingga kisah paling suram yang mematahkan hati. Gadis itu membuka satu-persatu ratusan notes yang disimpannya. Setiap judul mengandung isi yang mengingatkannya pada suatu peristiwa. Pada setiap alasan mengapa dia menuliskannya. Dia terus menatap layar 4,7 inchi itu.

    Tiba-tiba terlintas dalam benak pikirannya untuk membuat sajak-sajak yang dianggapnya receh dan cupu itu lebih berharga. Dibukukan! Ya, itulah jawabannya. Masalah ada yang mau membaca atau tidak itu urusan belakang.

    Dia teringat satu nama. Nama yang tak asing dalam hidupnya. Yang sering ikut andil dalam ceritanya. Namanya juga diawali dari huruf yang sama. Itu nama teman dekatnya sejak SMA. Langsung jarinya mengetuk logo aplikasi berwarna hijau. Tak susah mecari kontaknya karena memang mereka intens berkomunikasi.

    “Tin, kolabs yuk. Kamu kan suka nulis sajak dan puisi juga. Gimana kalo kita bikin buku? Masalah diterima atau nggk di penerbit pikir belakangan”

    Aku mencoba mengorek-ngorek ingatan hari itu. Gadis itu adalah orang yang sedang menulis ini. Aku bertekad ingin menulis buku kumpulan sajak. Tak sehebat Sapardi dan Joko Pinurbo memang. Tapi coba saja dulu. Sejak saat itu, aku lebih bersemangat.

    Bukankah jawaban atas pertanyaan akan muncul setelah mencoba?

    Awali saja dengan Bismillahirahmanirrahim


    image

    -feb 13/07/2020

    View Full
  • Terdengar suara ketukan pintu dari arah tumpukan buku. Awalnya, aku tak menghiraukan suara tersebut. Namun, suara tersebut terus mengganggu pendengaranku. Tanpa pikir panjang aku membongkar  tumpukan buku tersebut. Kini tumpukkan itu sudah mendatar. Aku menemukan pintu datar sejajar dengan permukaan lantai kamar tersebut. Perlahan aku mendekati pintu itu. Aku lihat pintu itu terkunci oleh gembok biru. Melihat itu aku ingat kunci yang aku temukan Minggu lalu. Kunci yang aku temukan ada dua, yang satu berukuran besar dan yang satunya lagi berukuran mini. Aku pun mengambil kunci yang aku temukan di bawah bantal dan segera membuka gembok biru itu. Tak butuh waktu lama, gembok itu pun terbuka. Aku meraih ponsel canggihku dan mengaktifkan cahaya senter dari ponselku. Perlahan aku menelusuri jalan menurun bertangga. Tak butuh banyak waktu, aku pun berhasil melewati anak tangga yang berukuran sedikit kecil dari langkah orang dewasa.

    Perlahan aku berjalan dengan ditemani cahaya dari ponselku. Aku menghentikan langkahku dan mengarahkan cahaya ponsel lurus ke depan. Kuhelakan napas. Aku berbalik dan berniat tidak ingin melanjutkan langkahku untuk menelusuri jalan gelap itu. Ketika aku hendak membalikan badan untuk kembali ke pintu, suara pintu tertutup pun terdengar. Dengan sigap aku berlari ke arah pintu yang membuat aku masuk ke dalam ruangan gelap seperti ruang bawah tanah. Aku berusaha membuka pintu itu dengan menendang-nendang dan memukul pintu itu berulang kali, namun pintu tak dapat terbuka. Cairan bening keluar dari mata bulatku dan melewati pipi mulusku. Aku pasrah, aku tak tahu harus bagaimana agar aku bisa membuka pintu dan kembali ke asrama, tidur nyenyak, dan mimpi indah. Semoga ada seseorang yang membantuku, tapi itu mustahail. Cairan bening itu terhenti ketika aku melihat setitik cahaya dari kejauhan. Niatku mendekati cahaya itu pun aku turuti. Seketika niat itu terhenti dikarenakan setitik cahaya itu lama-kelamaan menjadi besar. Lega yang kurasa. Kuharap ada seorang yang mau mengantarku pulang. Saat cahaya itu hampir dekat denganku, aku mendengar suara laki-laki tua yang tertawa jahat. Laki-laki itu mendekatkan cahaya itu ke arah wajahnya. Rupa laki-laki itu seperti hewan, namun serupa dengan manusia. Mengerikan sekali rupa laki-laki itu. Melihat itu, kakiku dengan cepat bereaksi dan aku pergi menjauh dari laki-laki itu. Laki-laki itu tetap tertawa jahat. Larianku terhenti ketika telingaku tak lagi mendengar tawa jahat itu. Kini, aku berjalan sambil mengatur napasku. Dari kejauhan aku melihat sebuah rumah dengan lampu kuningnya. Tanpa ragu aku pun menghampiri rumah itu. Ketika aku hampir sampai di depan rumah itu, aku tercengang melihat keadaan yang berada di samping rumah itu. Sedikit tak percaya. Ini adalah kota yang di luar khayalan orang. Kota begitu canggih dengan mobil tak menyentuh aspal, bangunan menjulang ke langit, kereta gantung di mana-mana, lift parking, jalan tol yang membentang di mana-mana. Ini seperti di dunia fantasi. Sungguh menakjubkan. Aku pun menghampiri ibu yang berdiri di depan rumah dengan lampu kuning itu. Dengan sopan aku menyapanya, berbincang sebentar dan dia begitu ramah padaku. Aku pun mengikuti ibu itu menelusuri kota ajaib. Dengan basa-basi aku berniat meminjam ponsel ibu itu. Saat aku ingin meminjam ponsel canggihnya, wajah ibu yang tadi ramah dan cantik, kini berubah menjadi wajah yang sangat sangar. Aku pun dengan sigap menjauhinya dan kini aku berada di bibir aspal yang banyak dilalui kendaraan canggih. Sulit bagiku untuk menyebrang.  Kulihat di sekelilingku, begitu mudah orang-orang menyeberang, tapi aku tidak.

    Kulihat di sampingku ada anak perempuan berusia sekitar delapan tahun berkepang dua dengan tumpukan gelas bekas yang ia pegang dan menatapku dalam. Perempuan itu dengan wajah kekanak-kanakannya menawarkan jasa penyebrangan. Aku pun menyetujuinya.  Perempuan itu memegang tanganku dengan kerasnya dan kami menyebrang bersama. Aku takut akan kendaraan canggih yang berlalu lalang dengan kecepatan tinggi. Saat penyebrangan, aku pun menutup kedua mataku. Perempuan itu kini melepas tanganku dan membuat mataku terbuka. Aku kehabisan kata-kata melihat penduduk kota ini dengan ahlinya menyebrang di tengah-tengah keramaian aspal. Aku pun memberi tanda terima kasih dengan sebuah bando yang kupakai. Perempuan itu menolak bando yang aku berikan dengan melemparnya ke arah aspal yang mengerikan itu. Sedikit kesal di hati, tapi tak apa mungkin di kota ini tak ada barang seperti itu. Aku pun pamit pergi, tapi tanganku di pegang erat oleh perempuan itu. Aku tak mengerti ada apa dirinya. Berniat melepaskan genggaman erat ini, namun aku kalah. Perempuan itu menjulurkan tumpukkan gelas yang ia bawa. Kini aku mengerti apa yang ia maksud. Aku pun mengambil tumpukan itu dan mengambil uang. Aku sadar bahwa aku tak membawa apa-apa selain tubuhku dan gaun putih elegan. Aku kebingungan harus membayar dengan apa. Aku pun mengembalikan tumpukan gelas itu. Perempuan itu tetap memaksaku untuk membeli tumpukan gelas itu. Aku tetap menolak, dikarenakan aku tak membawa sehelai uang. Selang beberapa waktu, aku dan perempuan itu beradu tangan. Kini, tanganku digenggam kuat oleh perempuan itu. Mimik perempuan itu pun berubah menjadi jahat. Dengan santai dan rasa tanpa dosa, perempuan itu mendorongku dan membuatku terjatuh di tengah-tengah aspal yang mengerikan. Terlihat dari jauh mobil besar canggih semakin mendekat. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, di mana aku tak dapat menyebrang. Aku hanya dapat pasrah dengan keadaan ini. Mulai pita suaraku bekerja.

    “AAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!” teriakan itu tak terhenti. Mobil besar canggih itu semakin mendekat. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Semakin dekat mobil itu dengan cahaya putih menyilaukan mataku dan membuatku tak dapat melihat mobil besar canggih itu dengan jelas. Aku merasa melayang saat cahaya putih menyilaukan itu menyelimutiku. Kini, cahaya yang menyilaukan itu berubah menjadi cahaya hitam atau lebih tepatnya gelap. Aku meluncur di lorong seluncur dengan kecepatan tinggi. Lagi-lagi aku harus meluncur dengan kecepatan yang mematikan. Aku berharap aku tak jatuh di tempat yang mengerikan seperti kemarin. Lorong seluncur itu tak begitu panjang dan membuatku terjatuh pelan. Saat aku jatuh aku menutup kedua mataku. Tapi kini mataku terbuka. Melihat sekelilingku, tempat ini bagaikan surga. Sungguh indah dan hijau. Taman yang membentang luas dengan bunga yang beraneka ragam warna, tak lupa juga dengan kupu-kupu nan indah. Aku berjalan di tengah taman itu, tak lupa pula aku memetik setangkai bunga mawar biru. Kini, aku berada di pohon dengan daun yang lebat membuat tanah di bawah pohon terlindung oleh sinar kuning dari angkasa. Aku pun memutuskan untuk beristirahat dan memanjakan tubuhku di bawah pohon nan rindang. Sejuknya udara di bawah pohon rindang membuatku harus tertidur sejenak.

    Aku harus terbangun dari tidurku dikarenakan aku mendengar suara langah kaki.  Kufokuskan mataku mencari sumber suara itu, namun aku tak menemukan apa-apa. Ketika aku berniat beranjak dari tempatku, tak sengaja tangan mungilku memegang sepucuk surat dengan kertasnya yang kusam. Awalnya, aku berniat untuk tidak membuka dan membaca surat tersebut, namun rasa penasaranku membuat niat itu harus hilang. Perlahan aku membuka surat itu. Kuamati surat yang aku pegang, alis kananku mengangkat. Ini bukanlah surat melainkan peta. Aku tak mengerti peta apa ini. Aku pun memerhatikan dan memahami isi peta tersebut. Setelah beberapa menit kemudian, aku memahami isi peta itu. Akhirnya aku mengerti, peta itu berisi tentang peta Negeri Fantastic. Lorong yang aku lewati terdaftar di peta itu. Dan kini, aku berada di daerah barat selatan. Saat aku asyik bermain dengan peta kusam itu, tiba-tiba tangan kananku terasa sakit seperti terkena lemparan batu kecil. Aku pun melirik ke arah kanan. Aku menemukan sebuah batu berukuran tidak terlalu besar dengan balutan kertas putih.  Kuraih batu yang dibalut oleh kertas. Kubuka balutan itu dan  kuperiksa kertas putih yang membalut batu itu, apakah ada pesan atau sejenisnya. Kertas putih itu tertulis pesan singkat, pesan itu berbunyi,

    “ jika kau ingin keluar dari negeri ini, kau harus menemukan pintu awal yang membuatmu terjebak di negeri ini. Kau dapat mengikuti peta itu.” Membaca itu, aku berdiri berniat mencari siapa yang telah mengirim surat dan peta ini. Namun, aku tak dapat menemukan sosok orang atau burung atau apalah. Kugunakan suara vokalku untuk berteriak mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah mengirimkan peta dan surat itu.

               Kulirik lagi peta itu. Di peta aku berada tepat di pohon raksasa. Untuk menemukan pintu awal, aku harus mengikuti jalan di sebelah kiriku sampai bertemunya simpang empat jalan yang bewarna merah, kuning, hijau, dan biru.  Tanpa ragu aku pun melangkahkan kakiku mengikuti instruksi dari peta. Jarak pohon raksasa dengan simpang empat, tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu lima belas menit dengan berjalan kaki. Kini, aku berada tepat di tengah-tengah simpang empat. Aku bingung harus memilih jalan mana. Kulihat lagi peta yang kupegang selama perjalanan tadi. di peta jalan yang bewarna merah terlalu jauh dan di tengah perjalanan, akan berjumpa dengan kebun apel merah. Jalan kuning lebih jauh dari jalan merah dan di tengah perjalanan akan berjumpa dengan pertenakan lebah. Jalan hijau lebih singkat dari jalan merah dan kuning, di tengah-tengah perjalanan akan berjumpa dengan rumah pohon yang berada di puncak pohon jambu biji. Jalan biru sangat singkat, di tengah perjalanan akan berjumpa dengan kebun mawar biru. Tak butuh waktu lama untuk berpikir jalan mana yang harus kulewati, tentu jalan biru yang aku pilih.

    Aku pun melangkahkan kakiku menuju jalan biru. Aku berharap bisa kembali ke pintu awal dengan cepat. Sudah satu jam aku menelusuri jalan berwarna biru, aku tak menemukan apa-apa yang kudapat adalah rasa bosan. Aku sempat tak percaya dengan peta itu, namun aku tak menghiraukannya. Aku mencoba menghibur diri dengan bernyanyi, bicara sendiri,atau apalah yang bisa menghibur diri. Tak sengaja aku menabrak tumpukan batu bata yang tersusun membentuk rumah kecil. Setahuku, tumpukan batu bata ini tidak ada di peta. Aku pun memeriksa peta kusam itu. Aku sempat terkejut tak percaya apa yang aku lihat. Di peta yang tadi kulihat akan bertemu dengan kebun mawar biru, ternyata tidak ada malah di peta tertera akan bertemu tumpukan batu bata dan harus memecahkan sandi yang berada di permukaan bata bagian atas dengan menyusun kata-kata yang rumpang menjadi sebuah kalimat. Aku melihat bagian atas bata. Benar di sana ada sebuah sandi. Aku pun mengikuti instruksi tersebut. Aku mencoba menyusun kata-kata rumpang itu sebanyak sembilan kali. Awalnya aku menyerah, namun aku tak menghiraukan rasa itu. Aku berhasil memecahkan sandi yang kesepuluh. Saat aku selesai memecahkan sandi itu, tumpukan batu bata itu menghilang dengan cahaya putih dan muncullah kumpulan bunga mawar biru hingga membentuk kebun.

    Dengan senyum lebar, aku berlari menuju kebun mawar biru yang berada tepat di depanku. Kuhirup aroma mawar biru, aroma yang sangat merilekskan pikiran. Seakan aku berada di surga yang tak satu orang pun yang dapat merasakannya. Aku berlari ke sana kemari di setiap jalan yang berjarak beberapa sentimeter. Tak lupa aku bernyanyi dan menari bersama mawar biru.  Kuhentikan kegiatan gilaku tepat di tengah-tengah kebun mawar biru. Kurebahkan tubuhku dan memandang luas awan dan birunya langit. Aku tersenyum sendiri, sayangnya ponselku harus tertinggal. Aku tak harus berlama-lama di kebun ini dan aku harus melanjutkan perjalananku. Aku beranjak dari tempatku, aku tak mungkin menyia-nyiakan mawar biru ini, kusiapkan tanganku yang akan memetik mawar biru elegan ini. Ketika aku berniat memetik mawar biru itu, mawar itu berubah menjadi bunga karnivora yang memiliki gigi tajam. Bunga yang hendak aku petik dengan kilat ingin menerkam tanganku. Aku pun melempar jauh-jauh bunga itu. Aku kira hanya satu bunga, namun semua bunga yang ada di kebun itu berubah menjadi bunga karnivora. Bunga-bunga itu menahanku agar tak keluar dari kebun itu dan menjadi santapan malamnya. Tentu aku tak menginginkan itu, dengan teknik bela diri yang kupelajari aku menghajar bunga-bunga kejam itu. Butuh tenaga besar agar aku dapat mengalahkan bunga karnivora ini. Rasa nyeri di lengan kiriku dikarenakan gigi tajam itu mencoba menyantapku saat aku lengah dari mereka. Aku terus melawan mereka dengan tenaga dan kemampuan yang aku miliki. Saat tenagaku hampir habis, aku tak mampu lagi melawan bunga itu. Aku pun tersandung dan terjatuh. Aku pasrah apa yang akan terjadi padaku. Aku menutup mata ketika bunga-bunga itu mengerumini ku. Suara mulut yang sedang kelaparan semakin dekat. Aku hanya bisa menutup mata dan pasrah. Terasa gigi tajam mulai menggores lengan kananku dan tiba-tiba aku terjatuh ke dalam lubang seluncur seperti lubang seluncur yang aku lewati. Aku merasa senang karena lubang ini telah menyelamatkanku dari bunga mengerikan itu.

    Lagi-lagi aku harus bertemu dengan lorong seluncur ini. Kali ini aku tak setakut sebelumnya, aku hanya berharap agar aku tak terjatuh di tempat yang menyakitkan, melainkan di tempat yang empuk seperti kapas. Lorong seluncur kali ini berbeda dengan lorong yang aku lewati sebelumnya. Lorong ini seperti tempat pencuci mobil. Aku harus melewati semburan air dan kini aku harus melewati busa-busa yang mungkin berasal dari sabun. Tapi busa yang kurasa tak seperti busa dari sabun, mataku juga tidak perih. Setelah busa-busa, aku harus melewati handuk-handuk hijau. Saat aku melewati handuk-handuk hijau, handuk tersebut dengan teliti menyingkirkan air yang masih berbusa di tubuhku hingga tak terlalu kering. Tak jauh dari handuk, aku akan melewati mesin pengering yang biasa kita gunakan untuk mengering tangan. Tak bisa kubayangkan apa hasil kulitku nanti. Kini, aku akan melewati mesin pengering itu. Kututup mataku agar rasa panas bisa kulawan, namun pengering itu tak terasa apa-apa, melainkan rambut panjangku beterbangan ke segala arah. Aku tak merasa panas seperti mesin yang biasa kugunakan. Kini, aku sudah melewati mesin pengering itu. Aku tak tahu ada apa lagi di depan sana. Pandanganku lurus ke depan. Begitu gelap tak ada sedikit cahaya. Aku harap cahaya yang datang tak seperti cahaya yang kutemui saat di lorong gelap. Aku terus meluncur dan luncuran itu terhenti. Kini, aku berada di ruang lorong seluncur.

    Kali ini aku berada di dunia tanpa cahaya atau di daerah ini masih malam, entahlah. Kuraih peta yang kusimpan di saku kananku. Kuteliti peta itu aku berada di mana. Ternyata aku berada di Desa Dark. Lagi-lagi, desa aneh yang harus kuhadapi. Terdengar suara keributan dari arah belakang. Aku membalikkan badan ke arah suara itu. Gerombolan makhluk kecil sedang berlari membawa alat tajam ke arahku. Melihat itu aku berlari. Awalnya aku berpikir mengapa aku berlari? Tapi jika aku tidak berlari, nyawaku akan melayang. Aku terus berlari dan gerombolan makhluk kecil itu terus mengejarku. Larianku terhenti ketika di simpang jalan ada lampu jalan berwarna kuning, larianku terhenti ketika seseorang menarikku dari balik tiang lampu yang besar. Kini, aku dan orang itu bersembunyi di balik tiang lampu. Gerombolan makhluk kecil itu tak sedikit pun melirik ke arahku dan orang itu. Ketika aku ingin menanyai jalan makan yang harus kutempuh, orang yang menarikku tadi menghilang entah ke mana. Lagi-lagi aku bertemu orang yang identitasnya aku tak tahu. Kulihat peta yang kupegang saat aku berlari. Di peta, aku berada di lampu kuning ajaib. Di peta juga diberi keterangan untuk mengucapkan harapan dan harapan itu akan terkabul. Dengan cepat aku mengucapkan harapanku untuk kembali ke asrama. Ketika kata-kata yang aku ucapkan berakhir, cahaya kuning menyelimutiku. Aku tak merasa kesilauan atau pun ketakutan. Selama aku diselimuti cahaya kuning itu aku membuka mata bulatku. Aku berharap aku berada tepat di depan pintu awal.

    Cahaya itu lama-kelamaan menghilang. Cahaya itu mengantarku ke daerah yang terang tak tahu apa namanya. Ketika aku hendak melangkahkan kakiku untuk mencari tempat beristirahat, seorang wanita sebaya denganku memberiku sebuah pedang perak. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Tiba-tiba, di depanku ada anak panah dengan bola api menancap di tanah. Aku terkejut. Wanita itu berlari dan melawan pasukan berseragam serba hitam. Wanita itu pasukan berseragam serba putih. Awalnya aku tak berani melawan pasukan hitam, namun aku tak mungkin harus berdiam diri. Aku pun melawan pasukan hitam dengan pedang yang aku pegang dan kemampuan bela diriku. Aku berhasil mengiris pinggul pasukan hitam yang menghasilkan cairan merah segar. Aku lanjutkan aksiku. Aku tak menyangka, aku setega itu membunuh orang. Aku lawan pasukan hitam dengan pedang perak. Kutusuk perut mereka, kupenggal leher mereka, dan yang terakhir kutusuk berulang kali hati dari salah satu pasukan hitam. Perang itu usai, aku dan pasukan putih menang. Ketika pasukan hitam berhasil di hadapi, wanita yang tadi memberiku pedang, berlari ke arah tandu, ia mengambil gaun biru elegan yang terbuat dari plastik. Wanita itu bercerita bahwa gaun itu milik Putri Martha dari kerajaan putih. Tak lama kemudian, pasukan putih menunduk tanda memberi hormat kepadaku. Aku pun membalas hormat itu. Mereka berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkan gaun itu. Mereka menunjukkan imbalan yang sangat besar, namun aku hanya ingin kembali. Raja Putih pun menuruti imbalan yang aku inginkan. Wanita itu pun menunjukkan jalan mana yang harus kulewati. Selama perjalanan menuju jalan mana yang harus kulewati, wanita itu bercerita tentang perang itu. Ternyata, kunci yang aku temukan adalah kunci Negeri Fantastic. Jika kunci itu berada di tangan pasukan hitam, maka negeri itu akan hancur. Kini, aku dan wanita itu sudah berada di perosotan seperti di waterboom. Kali ini, aku diminta untuk berselanjar dengan posisi menghadap ke arah pusat bumi. Saat aku memasang posisi itu, tiba-tiba tubuhku di dorong oleh wanita itu. Aku meluncur dengan kecepatan ini. Kali ini aku tak takut, melainkan aku teriak girang, karena ini sangat mengasyikan. Aku menikmati udara dingin seperti salju. Ini yang pertama kalinya aku merasaknnya. “Yuhuu!!”… sangat mengasyikan jika kau di posisiku. Seluncuran itu berhenti saat kepalaku menabrak pelan gunungan pasir pantai. Kini, aku berada di lorong pintu awal. Aku tersenyum lega ketika aku melihat pintu awal yang kunantikan. Aku berlari. Kini aku berada di depan pintu awal itu. Ketika aku ingin membuka pintu itu, cahaya putih menyilaukan mataku yang membuat mataku tak dapat melihat dengan jelas.

    “ Syanti! Syanti! Di mana ponselku?!” suara itu membuatku terbangun dari tidur siangku. Kuperiksa disekelilingku, ternyata aku berada di dalam kamarku. Mataku tertuju ke arah tangan kiriku, tangan kiriku memegang 2 kunci, peta kusam dan kertas putih. Aku terdiam memikirkan itu mimpi atau kenyataan?!

    View Full
  • Setelah berlarut terlalu lama, akhirnya  kuputuskan datang ke tempatnya. Bungkusan kantung plastik hitam ukuran kecil menjadi pendampingku menuju tujuan.  Kupegang erat secara posesif bungkusan itu selama perjalanan.

    Kantung  plastik itu tak ada artinya, sama saja seperti kantung plastik pada umumnya yang berhasil kutemukan di dapur. Mungkin saja kantung itu bekas aku membeli pembalut di warung. Atau bungkusan gorengan yang secara tak sengaja tersimpan.  Di dalam kantung plastik hitam itu? sama saja, tak ada yang berarti. Namun aku tak ingin kehilangan sampai berhasil mempertemukan dengan pemiliknya.

    Ada beberapa helai rambut hitam panjang lurus  di dalamnya. Kedatanganku kesini untuk menemukan si helaian rambut ini pada pemiliknya. Kepala tersebut berada di dalam bangunan berwarna merah di depanku itu. Bangunan dengan dominasi aroma dupa tersebut berhasil melemahkan tekatku. Lalu, kucengkram kantung plastik hitam di tangan seolah mengumpulkan keberanian yang sangat kuat saat tadi masih di rumah. Sebelum datang kesini, si berani masih ada di dalam diriku. Entah sekarang pergi kemana, ia seolah menciut.

    Dengan langkah kecil namun pasti, kulangkahkan kaki ini menuju kedalamnya. Disana terlihat beberapa pria berkepala plontos. Mereka berbaris  rapi menghadap patung Budha, matanya tertutup sambil mamanjatkan doa-doa.

    Salah satu dari meraka adalah yang membuatku datang kesini. Salah satu mereka ialah apa yang aku cari. Si kepala pelontos satu itu pemilik rambut yang ada digengamanku.

    Dari kejauhan aku mengamatinya. Benarkah sosok tersebut memang dia?.

    Tak lama barisan para pria plontos itu bubar saat selesai berdoa. Satu persatu mereka berjalan tertib ke arah pintu keluar yang tepat di sebelah aku berdiri. Mereka berjalan dengan tenang dan juga bahagia, hal ini membuatku terasa begitu kecil.  Rasa tenang itu tak pernah mau akrab dengan diriku.

    Salah satu dari kepala pelontos itu melihat ke arahku. Aku menatapnya,  nafasku seketika seperti tak beraturan. Apa ini, aku seperti kehilangan pasokan oksigen untuk kuhirup.  Saat ia melangkah lebih dekat kearahku, degup jantungku ikut bergemuruh.

    Tak ada pancaran ekspresi ramah nan berseri seperti yang aku kenal. Ia menyapaku dengan datar namun hangat. Benarkah ini dia ? atau aku salah orang ?

    Kemudian tanpa berkata-kata, ia melangkah ke tengah-tengah ruangan ini. Aku mengikutinya tanpa diminta. Tanpa intruksi darinya pula aku turut duduk bersila  menghadapnya.  Dengan ekspresi datar ia berduduk posisi lotus. Ia  menatapku. Entah pria tanpa rambut itu menunggu aku berkata lebih dulu, atau hanya memang sedang bermeditasi. Aku tak bisa menebak pikiranya. Sosok di depanku begitu dingin, bukan seperti ia yang aku kenal selama ini.

    Jarak antara kami duduk sekitar satu meter, dari jarak itu aku  terus mengamatinya  tanpa berkata. Aku ingin tahu seberapa kuat batas pertahananya untuk diam. Orang ini sejak dulu memang pandai bercanda.  Mungkin kali ini ia sedang meniru pria-pria dingin seperti karakter di film romantis. Sialan, itu sangat tak cocok dengan dirimu yang pecicilan.

    Aksi diam dibalas diam ini semakin menyiksaku.  Bola matanya sedingin laut dengan bongkahan es. Aku berenang-renang di laut dingin itu mencoba mencari dirinya. Namun nihil, aku tenggelam. Tak kutemukan sosok pemilik rambut ini. Sosok yang sangat kurindukan tak ada. Siapa dia di depanku?

    Jika itu memang dia, tak mungkin ia disini dengan sikapnya  yang begitu santun. Dia tak mungkin botak. Seharusnya rambut panjangnya ada disana, tergerai indah. Dan rambutnya akan berterbangan saat berlari atau bergerak. Lalu sebagian wajahnya akan tertutup rambut saat diterpa angin. Hal-hal seperti itulah yang membuatnya terlihat menawan dengan rambut panjang sebahunya. Dengan rambutnya itu ia akan membuat diriku malu dilahirkan jadi wanita. Aku dan semua wanita  yang mengenalnya mengakui bila  ia memang pria cantik. Bahkan para pria akan terang-terangan mengaku homo untuknya. Dia memang seperti wanita, wanita tomboi.

    Karena itu, aku selalu nyaman berbicara dengannya.  Berbicara dengan sesama  wanita memang sangatlah leluasa. Bahkan aku tak pernah bosan bersamanya. Kendati hal yang kami lakukan selalu dilakukan berulang setiap hari. Namun itu begitu menyenangkan. Seperti saat ia memainkan jemarinya dilututku. Ia selalu melakukannya setiap kali aku diboncengnya naik motor. Saat lampu lalu lintas menunjukan warna merah, jarinya akan langsung memulai aksi konyolnyanya dilututku. Empat tahun aku menumpang naik motornya ke kampus,  hanya lututku yang dia mainkan saat menunggu lampu lalu lintas berganti hijau. Atau mendengarkan ceritanya yang gagal dekat dengan gadis karena ia terlalu cantik, atau karena ia tidak bisa diajak makan olahan daging sapi.

    Untuk kapasitasku yang mudah bosan, aku tidak pernah bosan di sampingnya. Bahkan kami saling pinjam peralatan kami. Ia paling sering meminjam sisirku. Itu untuk marapihkan rambut pajang kesayangannya. Dia selalu memperhatikan rambut itu dengan sungguh-sungguh. Kadang kali di ikat kebelakang saat ia tak ingin rambutnya kusut. Helaian rambutnya yang rontok sering kali tertinggal di sisirku, di bantalku saat ia menginap atau di kamar mandi saat ia menumpang mandi. Dan helai-helai rambut terakhirnya itu aku kumpulkan di dalam kantung plastik hitam ukuran sedang.

    Kini kantung plastik hitam itu ada disampingku. Di hadapannya.

    Sambil terus menatapnya, aku menantikan ia bertanya apa yang aku bawa ini.              Akan tetapi, hening ini semakin mengudara.

    Hatiku semakin sesak dan hampa.

    Dia hanya menatapku dengan tenang dan khidmat. Pertahananku runtuh, aku  membuang mukaku ke arah lain. Lebih tepatnya ke arah kantung plastik hitam yang ada di sampingku. Kantung plastik berisikan helaian rambut orang yang sangat ingin aku jumpai. Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Aku menangis kerena sadar telah kehilangan. Rambut ini sudah tidak ada pemiliknya. (tamat)

    View Full
  • Abi:

    Tadi siang saya baru makan siang dengan salah satu guru saya, alumni doktoral di tempat saya berkuliah. Doktor asal Asia Tenggara pertama dalam bidang Ushul tarbiyah.

    Dia cerita kalau sekarang makan dia itu bukan apa yang ada, tapi apa yang sisa.

    Dia bilang kalau dulu dia suka makan paha ayam. Setelah menikah, ternyata istrinya juga suka paha ayam. Akhirnya dia terpaksa untuk menyukai oaha bagian atas.

    Lalu dia punya putri kecil. Setelah bisa mengunyah makanan, putri kecilnya ini menyukai paha atas juga. Terpaksalah beliau untuk menyukai bagian sayap.

    Kini putri kecil itu sudah berusia kurang lebih lima tahun. Dan sekarang ia menyukai sayap. Yasudah, akhirnya beliau lebih memilih untuk makan apa yang ada saja.

    “Demikianlah menjadi seorang ayah”, jelasnya. Sedikit yang sadar. Istri dan anak mungkin tak perlu tahu. Tapi itulah cinta dan pengorbanan. Bukan untuk disebut-sebut.

    Med, 6 Jul 2020

    View Full
  • Pergi lalu kembali. Berusaha pergi, mencoba bertahan tapi tak tahu ujungnya. Pergi lalu kembali lagi. Dan seterusnya, sampai aku menyadari sabarku harus berganti. Yang semula sabar menanti—kini berubah menjadi sabar untuk memilih pergi.

    View Full
  • Mushola Aki (IV)

    Aki, seperti apapun aku mengingatnya, yang teringat hanya potongan-potongan episode kecil. Cucu yang dianggapnya seorang anak. Karena memang aku satu-satunya cucu yang pernah tinggal dengan mereka. Yang teringat hanya cerita-cerita Ummi tentang Aki.

    Beliau adalah seorang ‘alim di desa nya, ia pernah mendirikan pondok disamping rumahnya. Santrinya tumpah dari berbagai kota. Riuh tiap harinya dengan gemuruh bacaan ayat-ayat suci dan kitab. Aki telah menjadi Qudwah bagi santri-santri nya. Konon katanya, Aki juga memiliki beberapa ilmu yang membuat dirinya dianggap punya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Benarkah ulama zaman dahulu memang mempunyai ilmu-ilmu seperti itu? Tak jarang orang-orang mendatangi Aki untuk berbagai kepentingan. Bahkan beberapa menantunya, termasuk Abi pernah meminta diajari ilmu itu, tapi Aki tidak pernah kasih dengan alasan berbahaya. Aki hanya takut ilmu itu akan disalah gunakan kelak. Pernah katanya, Aki berpergian jauh bolak-balik tidak menggunakan transportasi mungkin lewat teleportasi. Entah ini cerita benar atau tidak nya, tapi Aki memang sangat masyhur kala itu.

    Sampai suatu saat, Aki memutuskan untuk menutup pondoknya dan membuang ilmu yang ia punya. Entah kenapa alasannya, tidak ada yang tahu. Hingga beliau menjalani hidupnya dengan mengisi ceramah-ceramah di berbagai masjid. Pengajian juga rutin diadakan di samping rumah. Hingga tak terasa usia Aki sudah terlalu renta, berbagai penyakit pun di idapnya. Aki hanya mampu bertahan, tubuh nya tidak sanggup lagi melawan. Orang-orang pun silih berganti untuk menjenguk, santri-santri nya dulu juga berdatangan untuk mendoakan sang Guru.

    Sampai pada detik-detik akhir hayatnya, Aki memanggil semua anak-anak nya untuk menyampaikan warisan dan wasiat. Aki masih mampu berbicara, bahkan beliau bercerita kalau tadi ada segerombolan orang yang memakai jubah putih tersenyum sambil menghampiri. Aki sumringah sekali bercerita tentang itu, katanya Aki sudah tidak sabar menuntaskan rindu nya selama bertahun-tahun untuk bertemu Sang Khaliq. Makin riuh lah anak-anaknya menangis saat mendengar itu. Dan waktunya sudah tiba, tenang sekali Aki pergi dengan sesungging senyum dibibirnya. Bagi orang beriman, kematian adalah hal yang paling dinanti-nanti saat sudah benar-benar lelah oleh urusan duniawi. Kematian adalah perkawinan kita dengan keabadian.

    Itulah saah satu cerita yang paling aku sukai dari perjalanan hidup Aki. Aku menyesal kenapa dahulu tidak dimanfaatkan betul-betul saat hidup bersamanya.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضُ مِنَ لدَّنَسِ.

    وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيِرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَا بِ الْقَبْرِ أَوَمِنْ عَذَابِ النَّرِ

    Bersambung..

    View Full
  • The Man Who Can’t be Moved

    image
    image

    (how can i move on when i’m still in love with you.)

    Ada banyak cara melupakan seseorang. Sab bilang itu tergantung berapa cepat kita ingin melupakannya. Tapi bagi Rea sendiri itu terdengar mustahil. Karena meski sudah hampir dua minggu ia tidak lagi berdiri di depan gang itu. Rea seolah masih menyadari kehadiran Zafron disana.

    “Jam delapan,” Laki-laki dengan suara bariton nya itu tiba-tiba muncul dari balik gang. “Kelas lo emang suka selarut ini ya?”

    Rea mendongak dari tatapannya pada layar ponsel. Gadis itu menghela nafas. “Ini udah yang kesekian kalinya, Zaf. Lo gak capek?”

    “Kalo buat nunggu lo, enggak sih.” Cowok itu cengengesan

    “Zaf,” Rea menyimpan ponselnya, menatap laki-laki itu dengan serius. “Hubungan kita udah selesai, ok? Lo gak harus ngelakuin ini setiap hari.”

    “Yang ada di video itu gak seperti yang lo pikirin, Re. Itu bukan diri Windi. Lagian harus berapa kali sih gue bilang?” Zafron frustasi. Hubungan mereka memang sudah berakhir satu bulan lalu. Ia akui itu memang salahnya. Tapi bukan begini. Zafron tidak serendah itu.

    “Kita udah ngebahas itu, Zaf. Berulang kali bahkan.”

    “Gue dijebak, Re. Gue sama Windi gak bener-bener ngelakuin itu,” erang Zafron lelah. Ini sudah yang kesekian kalinya dan Zafron tidak mengerti penjelasan bagaimana yang mampu membuat Rea mengerti. Setidaknya pada posisinya.

    “Gak tahu deh, Zaf. Gue ngelihat itu diri lo.”

    “Rea, please.”

    “Semua keluarga gue udah tahu, Zaf. Lo pikir hubungan kita bakalan berhasil kalo gue percaya sama lo?” Rea mulai tidak tahan. Ada banyak tekanan dalam dirinya sejak tersebarnya video Zaf dengan Windi.

    Zafron menutup kepalanya dengan tudung hoodie. Ia menyandarkan diri pada dinding gang. Kepalanya kali ini reflek berkedut kencang. Hubungan mereka memang sudah melibatkan keluarga masing-masing. Mustahil jika ayah ibu Rea tidak tahu. “Tapi Re—” kesah Zafron tidak ingin menyerah.

    “Lo lebih baik pulang. Bentar lagi hujan. Itu hoodie kesayangan lo, kan?”

    Hoodie hitam dengan print Joy Division itu adalah pemberian Rea di ulang tahun Zaf yang ke 20. Lima tahun berpacaran sesungguhnya memang tidak mudah bagi Rea melakukan ini. Ya.. memutuskan Zafron sepihak dan bersikap seolah tidak peduli. Itu jelas hal tersulit yang pernah Rea lakukan.

    “Besok gue kesini lagi.” Zafron meyakinkan. “Lo jangan pulang malem-malem ya. Disini dingin.”

    Rea menggelengkan kepala. Heran dengan tingkah anak itu.  Zafron mungkin tidak tahu kata menyerah. Tapi saat gadis itu melangkah pulang, ia tahu sedikit dari bibirnya tersenyum. Ternyata Zafron masih memberikan efek besar seperti sebelum-sebelumnya.

    Disisi lain harusnya Zafron mundur saja. Buat apa susah-susah menjelaskan jika nyatanya keputusan Rea sudah bulat. Seperti kata Kian, Zafron harusnya tahu diri. Mukanya juga gak jelek-jelek amat. Harusnya cari gadis baru di fakultas hukum atau bahkan dari fakultas lain bukanlah sesuatu yang sulit.

    Meski kenyataan memang sesadis itu, menampar Zafron sesadar-sadarnya, ia justru lebih suka bertahan untuk Rea. Hubungan lima tahun mereka jelas sesuatu yang mesti diperjuangkan. Bahkan jika Zafron yang harus berjuang sendiri.

    Lagipula dititik ini Zafron belajar, mungkin ini ujian untuk hubungan mereka. Lima tahun yang mereka lalui memang tergolong baik-baik saja. Tidak pernah ada adegan putus nyambung dan drama-drama kelewat menyebalkan. Satu-satunya hal yang membuat mereka menjauh adalah saat Rea terlalu asyik dengan klub menulis di awal semester dulu.

    Esok hari dan selanjutnya, Zafron masih berdiri di depan gang rumah Rea. Menunggu gadis itu pulang dari kampusnya, seperti yang ia lakukan dua minggu belakangan ini. Kendati keduanya berada di kampus yang sama, Zafron lebih suka menunggu Rea di tempat ini. Sebab di depan gang ini lah kali pertama mereka bertemu. Sesuatu yang bahkan Zafron ragu, apa Rea masih mengingatnya?

    Malam minggu ketiga di bulan Juli, Zafron berdiri di depan gang sambil bersandar di salah satu pilar. Ia masih mengenakan jaket hoodie hitam pemberian Rea. Terkadang laki-laki itu duduk berjongkok atau berlari-lari kecil. Rasa bosan menggerogotinya. Tapi keyakinan akan keberhasilan hubungan mereka terlalu menggebu di hati Zafron. Ia akan menunggu Rea. Sampai kapanpun itu. Bahkan jika ia hanya bisa berbincang kecil atau hanya mengucapkan selamat malam.

    Jam melaju ke angka 10. Dua jam sudah Zafron menunggu. Nyalinya terlalu ciut untuk mengirim pesan. Tapi ini bahkan sudah terlalu malam. Apa Rea tidak akan pulang?

    Mustahil. Zafron menggeleng. Ayah Rea adalah si protektif garis keras. Jam malam Rea harusnya tidak boleh lebih dari jam 9.

    Suara motor menderu dihadapan Zafron. Saat laki-laki itu mendongak, disana Rea mengigil kedinginan. Ia turun dari motor vespa bersama laki-laki yang terlihat familiar. Edgar Kusuma. Ketua BEM kampusnya saat ini.

    “Rea?” Zafron menarik tubuh kecil gadis itu. Memeluknya erat seolah tidak ingin melepaskan. “Lo kenapa, Re?”

    “Ck, apa perlu lo nanyain keadaan dia?” Edgar menarik Rea—menyelimuti gadis itu dengan jaketnya .“Jelas-jelas ini semua ulah pacar lo.”

    Zafron mengernyit. “Pacar gue?” Ia menunjuk dirinya, tidak mengerti.

    “Apa perlu gue sebutin namanya?” Edgar menggeleng.

    “Udah, Ed. Gue gak apa-apa.” Rea mengeratkan jaket jeans Edgar dan melangkah pulang.

    “Gak, Re. Tunggu.” Zafron menahan laju jalan gadis itu. Air mukanya benar-benar khawatir. Dan jika seseorang melihatnya saat ini. Ia  pasti terlihat seperti perpaduan takut, gugup dan bersalah. Keringat dingin mengalir melewati pelipisnya. “Sebenernya lo kenapa? Siapa yang ngelakuin ini sama lo?”

    Rea menolak sentuhan Zafron. Ia bergerak mundur. “Sorry, Zaf. Gue capek, mau pulang.”

    “Cukup, Zaf. Lo gak denger Rea bilang apa.” Edgar sudah memasang tubuh saat Zafron hendak menarik kembali lengan gadis itu. “Dan lo Re, cepet ganti baju. Lo bisa masuk angin kalo kelamaan disini.”

    “Thanks, Ed.” Rea tersenyum.

    Zafron memandang tubuh gadis itu yang melangkah menjauh. Bagaimana ia terbalut jaket Edgar dan bukannya hoodie Zafron. Bagaimana ia berjalan tertatih dengan tangan memeluk diri, kedinginan. Apa ini titik dimana Zafron harus menyerah? Ia bukan lagi Mr. J yang siap melindungi Rea. Sampai disini sepertinya Zafron sudah gagal.

    Ingin rasanya Zafron menangis, menenggelamkan dirinya kedalam lautan lepas. Tapi satu pukulan telak yang dilayangkan Edgar membawa realita kembali kehadapannya. Laki-laki itu menyilangkan lengan.

    “Lo kalo mau nangis, nangis aja,.”

    Zafron mengenyahkan pandangannya dari Rea. Ia menatap Edgar dengan serius.“Ceritain ke gue apa yang sebenernya terjadi, Ed.”

    Edgar menghela nafas panjang. Baik Zafron maupun Rea adalah temannya sejak SMA. Melihat hubungan mereka yang kandas karena skandal terpanas kampus memang membuat laki-laki itu sedikitnya tidak nyaman.

    “Gue gak tahu persis apa yang terjadi. Tapi Windi ngedorong Rea ke kolam. Gue rasa mereka debat panjang. Mungkin salah satunya tentang elo.”

    Zafron menjambak rambutnya frustasi. Satu kebaikan yang ia lakukan pada Windi ternyata harus ditebus mahal. Bukan hanya tentang hubungan ia dan Rea. Tapi juga kehidupan gadis itu di kampus.

    Melesat pergi, Zafron seharusnya melakukan ini sejak hari itu. Saat Edgar berkata bahwa Windi mungkin masih berada di kampus mengingat ia adalah panitia pensi, Zafron tidak perlu berpikir dua kali untuk menyusulnya. Zaf tidak masalah jika ia harus menanggung semua gunjingan mengenai skandal video itu. Atau bahkan hubungannya dengan Rea yang kemudian hancur. Zaf merasa Windi masih sahabatnya. Apa yang ia lakukan hari itu sudah suatu keharusan. Meski bagi beberapa orang itu berlebihan, karena status Zafron yang sudah memiliki Rea. Tapi Zaf merasa ia tidak salah. Ia merasa perlu menolong Windi.

    Dan saat melihat Rea diperlakukan seperti ini, Zaf tidak mungkin tinggal diam. Ia tahu apa yang menjadi pembicaraan mereka dan Windi salah karena sudah melewati batas sabar Zaf.

    Tiba di kampus, Zafron tahu dimana Windi jika sudah malam-malam begini. Yang hanya akan gadis itu lakukan adalah memainkan petikan gitar di ruang teater.

    “Windi,” Satu seruan itu membuat gadis dengan rambut ombre lavender seketika menoleh. Ia tidak kaget, tidak juga panik. Windi tahu persis apa yang akan dilakukan Zafron. Ia tebak laki-laki itu sudah melihat keadaan Rea.

    “Gue minta maaf. Gue gak sengaja ngedorong Rea,” kata gadis itu santai.

    “Lo cuma perlu diem, Win. Apa itu susah?” Zafron membanting pintu. Suaranya yang keras membuat Windi sontak berdiri, menatap laki-laki itu sengit.

    “Gue gak tahan lihat cewek kesayangan lo itu. Gue cuma mau ngejelasin apa yang sebenarnya terjadi.”

    “Mereka gak perlu tahu,” bentak Zafron.

    “Cukup lo ngelindungin gue, Zaf. Lo pikir gue seneng ngelihat hubungan lo sama Rea hancur. Gue tahu gimana cintanya lo sama cewek itu.”

    “Itu akan jadi masalah gue. Lo gak perlu ikut campur.”

    “Gak perlu ikut campur?” Windi memutar bola mata sebal. Zafron menganggap seolah semua ini bukan apa-apa. Padahal sejak awal bulan kemarin Zafron sudah uring-uringan. “Gue yang buat lo putus, Zaf. Gue muak sama omongan anak-anak tentang gue. Bahkan sampe sekarang kita gak tahu siapa yang udah videoin kita. Menurut lo gue tahan sama semua ini?”

    “Gue tahu lo gak sadar waktu itu. Itu makanya gue gak marah sama lo. Gue diem karena gue gak mau anak-anak tahu kalo lo ngisep. Lo bisa di DO, dan gue gak mau kehilangan lo sebagai sahabat gue.”

    “Gue tahu Zaf, tapi maaf Rea udah tahu semuanya. Gue cerita sama dia tadi.”

    “Windi?!” Zafron membulatkan mata.

    “Ini yang terbaik. Lo gak perlu khawatirin gue. I’m totally fine.”

    “Ck, lo bener-bener nekat tahu.”

    “It’s okay.” Windi tersenyum. “Gue pikir gue akan rehabilitasi abis ujian semester. Doain gue ya.”

    Zafron mematung, se-inchi pun ia tidak beranjak. Bukan ia tidak suka mendengar Windi akan rehabilitasi. Tapi bukankah dengan begitu Windi sudah membuka aibnya sendiri? Sesuatu yang mereka berdua simpan untuk setidaknya hampir tiga tahun ini. Dan sekarang semuanya menguap begitu saja. Ya.. Zafron harap dunia tidak terlalu kejam pada mereka.

    Fakta yang didapati Rea membuat gadis itu gelisah sepanjang sisa malam. Hari itu Windi overdosis, ia memanggil Zafron untuk menolongnya. Sayang, kesadaran sudah menghilang dari diri gadis itu. Ia berhalusinasi hebat hingga menganggap Zafron sosok yang lain. Zafron bisa saja menolak tapi dengan begitu ia akan menyakiti Windi. Jadi laki-laki itu hanya diam saja. Dan seseorang yang entah siapa memvideo mereka—membuat kekacauan besar antara hubungan ketiganya.

    Ada penyesalan dalam diri Rea tentang mengapa ia percaya video itu mentah-mentah. Karena meski kenyataannya demikian ada sisi lain yang tidak Rea ketahui. Mengapa ia tidak bisa percaya Zaf seperti Zaf percaya Rea? Rea bahkan tahu kalau Windi adalah sahabat Zaf sejak mereka masih kecil. Kehidupan keduanya yang sulit membuat mereka saling bergantungan.

    “Gue bego banget,” Rea memukul kasurnya, meremas kain sprei dengan gemas.

    Besok malam dimana Zaf biasa berdiri di depan gang Rea untuk dua minggu belakangan ini hanya berisi angin kosong. Rea tidak mendapati Zaf dimanapun. Bahkan sampai di depan rumahnya yang menjorok masuk.

    Di kampus, Zaf seperti ditelan bumi. Sepanjang koridor, auditorium, perpustakaan, ruang musik hingga lapangan basket , Rea tidak mendapati Zaf. Saat menunggu di ruang kelasnya, Zaf selalu belum datang. Bahkan saat jam pulang laki-laki itu sudah pulang lebih awal. Ya.. semesta sepertinya kompak memberi Rea karma. Usaha gadis itu seolah berujung nihil.

    Tetapi Rea bukannya tanpa usaha lebih, ia menanyakan hal ini pada Edgar. Meski laki-laki itu hanya mengangkat bahu, berkata tidak tahu. Kian sama halnya, ia menolak peduli. Kian malah menyalahkan Rea tentang masalah ini. Baginya ini konyol mengingat Zaf dan Rea sudah berhubungan lebih dari lima tahun. Seharusnya mereka sudah memiliki rasa kepercayaan pada masing-masing. Dan lagi sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di lingkaran pertemanan Zaf bahwa Windi adalah seorang pengguna. What a bullshit! Nyatanya Rea sama sekali tidak tahu. Jadi seharusnya ini bukan semuanya salah Rea, kan?

    Hari terakhir ujian dan Rea akan menyambut libur tiga bulan. Rencana yang Rea coba buat adalah ia akan mengungsi di Yogyakarta, tempat nenek nya tinggal. Tapi tentu saja ia tidak bisa meninggalkan Bandung seperti ini. Ia harus menghubungi Zaf, meminta maaf setidaknya. Meski itu harus melewati telepon. Suatu hal yang Rea ragu apa Zaf akan mengangkatnya.

    Di depan gang ini, Rea berdiri. Lagi ia tidak mendapati Zaf. Tidak dengan motor laki-laki itu. Tidak dengan wangi parfum laki-laki itu. Ia hanya berdiri di temaram lampu jalan sambil berharap besar pada ponselnya.

    Rea mendial nomor laki-laki itu.

    Tersambung.

    Zaf mengangkat.

    “Halo.” Terdengar suara di ujung sana.

    “H-hai Zaf, lo dimana? G-gue….” Sial. Suara Rea bergetar.

    “Lo kedinginan?” Zaf justru bertanya yang entah mengapa terdengar hangat.

    “G-gue minta maaf. Windi cerita semuanya waktu itu.” Rea tidak mampu menahan air matanya. Ia mencoba tegar, kuat jika perlu. Tapi suara Zaf membuat gadis itu tidak bisa lagi berpura-pura. “Gue kangen lo, Zaf. Lo dimana? Kalo bisa gue mau ketemu. Malam ini aja kok, besok gue mau ke Yogya. Gue gak mau ninggalin Bandung dengan keadaan kayak gini.”

    “Gue di belakang lo, Re. Selalu dibelakang lo.”

    Rea sontak berbalik. Zaf ada disana, Di seberang gang nya. Di balik salah satu gang lainnya. Zaf masih mengenakan hoodie hitam itu.

    “Gue gak pernah ninggalin lo, Re. Gue tetep masih di gang ini. Nungguin lo pulang setiap hari.”

    “Kenapa lo harus ngilang sih, Zaf?” Rea sudah meluruhkan air matanya. Bahagia, haru dan kesal.

    Zaf terkekeh kecil. “Gue suka lo cari gue. Gue suka ditemukan lo.”

    “Zaf…”

    “Oke-oke. Gue juga minta maaf karena gak ngasih tahu lo tentang Windi.” Zaf berjalan mendekat, menyebrangi jarak yang terbentang diantara mereka. Ponsel hitamnya masih setia ditempelkan ditelinga.

    “Makasih untuk gak beranjak dari gue, Zaf.”

    “It’s okay,” Zaf tahu-tahu sudah memeluk Rea. “Lo pasti kedinginan kan?”

    Aroma ini adalah aroma Zaf. Ia sudah kembali. Ia tidak pergi. Ia pulang. Tak ayal, Rea memeluk Zaf erat. Malam ini, di depan gang ini, semuanya seperti milik mereka. []

    View Full
  • Hurts

    image
    image

    (I know you think it hurts, but I’ve been through so much worse.)

    Fey menatap jam dinding kamarnya dengan gelisah. Ini sudah hampir tengah malam dan laki-laki itu tidak memberikan kabar bahkan berupa pesan singkat sekalipun. Padahal pagi-pagi sekali ia berjanji akan pulang cepat mengingat hari ini adalah ulang tahun Fey.

    Fey bukannya tidak mencoba untuk menghubungi laki-laki itu. Hampir sepuluh panggilan dan 15 pesan kirim ia lakukan. Tapi sudah tiga jam berlalu, rasa-rasanya percuma. Laki-laki itu tidak memberikan balasan.

    Ingin sekali Fey tertidur dan mencoba berdamai dengan keadaan. Toh bukan sesuatu yang penting juga merayakan hari ulang tahun Fey. Hanya saja ia merasa hatinya sudah terlalu jauh bermain-main. Bukannya Fey egois tapi hubungan mereka yang penuh kebohongan ini, Fey harap bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata. Fey lelah harus berpura-pura.

    Suara ketukan pintu membuat gadis itu terperanjat. Hatinya berdesir hangat sekaligus lega. Akhirnya laki-laki itu ingat pulang juga.

    “Hardin?”

    Disanalah Hardin berdiri. Tepat di hadapan Fey. Laki-laki dengan rambut undercut dan kemeja hitam oversized itu mungkin tidak ingat apa yang terjadi. Tapi sambil mencoba menegakkan dirinya yang nyaris teler. Ia berucap.

    “Happy birthday, my fake girlfriend.”

    Esoknya, Fey sudah bangun pagi-pagi sekali. Hardin berakhir tidur di ranjang. Terlelap tidak sadarkan diri sejak tengah malam. Sementara itu Fey tidak berniat membangunkan atau melakukan sesuatu seperti yang biasa mereka lakukan. Fey sudah bersiap untuk pergi ke kampus meski jam kampusnya baru akan dimulai tiga jam lagi.

    Sebelum benar-benar pergi, Fey menatap Hardin sekali lagi. Ia mengusap rambut laki-laki itu yang berkeringat.

    “Entah ini baik atau enggak tapi gue suka sama lo beneran, Hardin.”

    Fey tersenyum getir. Sedari awal mereka bertemu keduanya memang hanya simbiosis mutualisme. Fey berpacaran dengan Hardin atas alasan menghindari mantannya, Elnath. Sedang Hardin tidak memiliki alasan apapun selain hanya bersenang-senang. Ia tipikal laki-laki yang tidak suka terikat. Bahkan saat mengumumkan dirinya berpacaran dengan Fey, semua teman Hardin terkejut. Bagaimana bisa?

    Fey akan beranjak saat tangan Hardin menariknya, membuat gadis itu sontak membeku kehilangan kata. Apa Hardin mendengar ucapannya tadi?

    “Kok pagi-pagi banget sih. Mau kemana emang?”

    Dan benar, Fey kehilangan kata-katanya. Ia tidak ingin memandang Hardin hari ini. Tidak setelah ia berharap besar bahwa Hardin akan merayakan ulang tahun Fey di apartemen mereka. “G-gue ada janji sama dosen.”

    “Pagi-pagi gini?” Alis Hardin bertaut. “Lo bukan pembohong yang baik, Fey. Lo tahu itu, kan?”

    Fey menarik tangannya dari genggaman Hardin. “Gue serius. Gue pergi dulu ya,” kata gadis itu dengan canggung.

    Hardin menghela nafas. Tidak ingin memaksa Fey untuk sesuatu yang tidak ingin dia ceritakan. Tapi saat Fey mencapai ambang pintu. Hardin berteriak. “Maaf, gue lupa ultah lo.”

    Fey menahan napas. Isi kepalanya seolah berhenti. Semua ucapan dan makian yang ia keluhkan sedari malam berujung kandas di bibirnya. Gadis itu berbalik, menatap Hardin dengan ragu. “Gak apa-apa, gue ngerti kok.”

    Dan Fey melangkah, melewati pintu dengan dada yang sesak. Ia harus segera mencapai parkiran. Sebelum Hardin melihat ia menangis. Sebelum kenyataan asyik menamparnya. Ia dan Hardin tidak lebih dari anemon dan hiu. Harusnya Fey sadar itu.

    Berjalan melalui koridor kampus, Fey tahu ia tidak baik-baik saja. Hatinya bertanya, mengapa perasaan ini tidak bisa kembali normal? Siapa peduli dengan status mereka. Selama mereka bersama itu sudah lebih dari cukup. Tapi Fey tahu, memiliki Hardin saat ini adalah kefanaan. Ia tidak memiliki andil untuk cemburu. Ia tidak punya kuasa untuk marah. Pada akhirnya Fey hanya bisa melihat semesta berkehendak sebagaimana mestinya. Tidak bertanya apa hati Fey siap atau tidak.

    “Tumbenan amat lo dateng pagi. Jadwal lo kan dua jam lagi, Fey.” Sabrina mendorong bahu Fey dari belakang.

    Gadis itu menyahut pelan. “Gak apa-apa, pengen aja.”

    “Kenapa nih? Suasana hati lo kayaknya muram banget. Padahal kan baru ultah kemarin.”

    Sabrina adalah jurnal berjalan milik Fey. Ia memiliki semua kartu kehidupan gadis itu. Tapi untuk masalah mengakui hubungannya dengan Hardin, Fey seolah menolak. Meski sudah berjalan enam bulan, Fey masih menutup mulutnya rapat-rapat. Bagi gadis itu, hubungannya dengan Hardin adalah kode nuklir rahasia yang patut dijaga.

    “Gak apa-apa. Kenapa sih lo?” Fey mengecek ponselnya. Menggulirkan halaman instagram dengan malas.

    “Apa gara-gara Hardin?” tanya Sabrina dengan selidik. “Gue denger dari Edgar, kemarin cowok lo dateng ke pesta Mia.”

    Mia Paras Indah. Fey tidak kaget. Ia adalah gadis populer kampus yang tidak bisa disandingkan keberadaannya dengan Fey. Bahkan Sabrina Ratuliu, si vlogger kecantikan sekalipun. Mereka berada di level yang berbeda. Yang entah mengapa Hardin justru berada di lingkaran gadis itu.

    “Gak kenapa-kenapa, Sab. Gue sama Hardin baik-baik aja kok.” Meski begitu Fey rasa akan bodoh jika ia kedapatan cemburu. Gadis itu jelas harus bersembunyi dibalik ratusan topeng wajahnya.

    “Oh bagus deh. Itu artinya dia gak lupa ultah lo, kan?”

    Kali ini Fey terdiam, tidak tahu ingin merespon apa. Bahkan sebelum Fey sempat berbicara, Sabrina sudah menepuk bahu Fey pelan.

    “Lo bisa tinggal di rumah gue kalo sekarang gak mau pulang.”

    Dan sudah Fey tebak, Sabrina mengerti perasaannya.

    Saat jam pulang kampus tepatnya pukul lima sore, Fey jadi memikirkan ucapan Sabrina. Apa sebaiknya ia menginap di rumah gadis itu? Tapi secara teknis, Hardin tidak salah apa-apa. Mungkin ini hanya keegoisan Fey. Lagipula itu hanya ulang tahun. Fey tidak seharusnya bersikap kekanakan.

    Ada lima panggilan tidak terjawab dari Hardin saat Fey mengecek ponselnya. Dengan sengaja gadis itu mengatur profil ponselnya menjadi mode diam. Hari ini ia akan pergi ke toko buku, mencari beberapa bacaan dan mencoba hidup normal seperti sebelumnya. Bagaimanapun juga ia harus segera melupakan perasaan ini.

    “Lo darimana aja sih?” Hardin menarik Fey dan membawanya ke belakang gedung utama kampus. Terlihat air muka laki-laki itu yang jengkel. Tapi ia cukup sempurna mengendalikan emosi. Hardin justru terlihat khawatir.

    “Dari kelas. Tadi gue ngerjain tugas ekonomi makro.”

    “Dan lo bahkan gak jawab telpon gue? Sesibuk itu emangnya?”

    “Hardin, please. Ini di kampus. Lo gak harus bersikap menyebalkan, kan?”

    “Yang menyebalkan itu gue atau elo sih?” Hardin menyilangkan lengannya. Sesaat ia justru berseringai. “Ah.. atau lo marah gara-gara gue lupa ultah lo? Iya kan?”

    Fey mengedarkan pandangannya kearah lain. Ia harus keluar dari zona ini sekarang. Akan terlihat memalukan jika Fey terang-terangan mengakui. “Itu cuma ultah, gak penting juga. Lagian gue gak marah.”

    Hardin menyentak bahu Fey. “Lo tuh keliatan banget kalo bohong.”

    “I-iya terserah sih lo mau mikir apa. Tapi gue jawab yang sebenernya kok. Lagian gue cuma fake girlfriend, lo kan? Lo gak perlu nganggep serius untuk apa-apa yang terjadi di hidup gue.” Fey membalikkan tubuhnya seraya mengangkat tangannya membentuk tanda ok. Ia merasa luar biasa telah berbicara seperti itu. Dan lagi bukankah tadi hebat? Tapi mengapa hatinya justru terasa sakit?

    Dan Fey rasa ada satu kesalahan fatal yang ia lakukan. Fey tidak melihat ekspresi Hardin saat itu.

    Hardin tidak lagi menghubungi Fey sejak kejadian di gedung belakang. Fey juga tidak ingin repot-repot menghubungi Hardin meski jarum jam ditangannya terus melaju. Nyatanya gadis itu sudah terlelap jauh dengan buku-buku bacaan dihadapan matanya. Seolah menemukan surganya sendiri, Fey terpangku memilih novel hingga sampai jam 10 malam. Ia baru tersadar saat petugas memberi tahu bahwa sudah waktunya toko tersebut untuk tutup.

    Fey berpikir untuk pergi ke rumah Sabrina. Tapi langkahnya justru membawa ke arah lain. Hingga sampai di depan apartemennya, Fey seolah merasa ada yang salah. Diperjalanan pulang tadi, ia sengaja membelikan Hardin bubur ayam. Mengingat ia berhutang permintaan maaf karena sudah bersikap berlebihan.

    “Hardin?”

    Pintu apartemen terbuka dan pemandangan dihadapan Fey membuat gadis itu reflek menjatuhkan bubur ayam miliknya.

    Hardin mencumbu seorang gadis di apartemen mereka. Apartemen yang kompak mereka bayar sejak enam bulan terakhir. Apartemen yang baik Hardin ataupun Fey berjanji tidak akan membawa siapapun selain mereka.

    “Fey?” Mata Hardin melotot sempurna. Caranya untuk mengatasi kecewa atas ucapan Fey tadi sore bisa dikatakan berhasil. Tapi saat melihat gadis itu menangis dengan plastik bubur ayam yang terjatuh ditangannya, Hardin tahu ia salah. Karena meski hubungan mereka hanya kebohongan. Harusnya Hardin bisa menjaga perasaan Fey.

    “Fey gue bisa jelasin.”

    Dan Fey sudah terlalu kalap atau mungkin mati rasa untuk mendengar penjelasan yang keluar dari bibir Hardin. Ia menarik kopernya dari dalam lemari dan mengisikan baju-bajunya.

    “Fey, gue gak maksud untuk nyakitin lo.” Hardin masih bertelanjang dada saat ia mencoba mengejar Fey yang berdiri di ambang pintu.

    “Kita janji gak akan ada orang lain di apartemen ini selain kita. Terus kenapa lo bawa cewek itu?” Fey menunjuk gadis dengan rambut cokelat keemasan yang terlihat bingung.

    “G-gue gak ada maksud apa-apa. Gue cuma..” Hardin tidak baik saat merangkai kata di posisi terdesak. Ia justru lemah melihat kekecewaan yang dalam dari diri Fey. Namun ia berpikir inilah saatnya. “Fine, gue emang salah karena bawa cewek ke apartemen kita. Terus emang kenapa? Lo cemburu? Lo gak suka?”

    Fey menenggak air liurnya. Pertanyaan itu membuat Fey tidak bisa lagi menutup diri. “Gue sayang sama lo beneran. Gue gak mau kita cuma jadi pacar bohongan. Tapi setelah hari kemarin gue sadar. Lo gak punya perasaan yang sama buat gue, Hardin. Lo gak akan bisa terikat sama siapapun. Lo adalah burung yang selalu butuh terbang bebas. Lo gak butuh rumah dimana lo bisa pulang.”

    Bibir Hardin seolah kelu. Ia meremas ujung celananya. “Gue…”

    Fey menarik kopernya. Berjalan menjauh mengisi kekosongan lorong malam itu. Dan Hardin hanya menatap punggung Fey yang semakin lama semakin menghilang. Sepertinya ia sudah kehilangan sesuatu yang paling berharga.

    Atau mungkin tidak. []

    View Full
  • Akhir bulan juni, pulang kantor, pukul 8 malam.

    saya memutuskan untuk pulang larut malam, mengelilingi Bandung dengan playlist GoldSwing di spotify. malam itu tidak sedingin biasanya, malam itu tidak sepenat biasanya, malam itu saya bahkan tidak memikirkan laki-laki itu. saya hanya mengenang setiap jalan-jalan di kota ini dengan harapan saya bisa keluar dari Bandung, dan tidak pernah kembali lagi.

    seakan takdir tidak membiarkan saya sendiri, ia menelpon saya.

    lo udah balik kerja? main ke kostan gue bisa ga? gue ada sesuatu buat lo

    Keep reading

    View Full
  • “Besok aku jemput ya, kita makan terus nonton.”

    “Hah mau nonton apa? Emang ada film bagus?”

    “Udah deh nurut aja.”


    “Udah di depan.”

    “Hah? Emang mau kemana?”

    “Ngga kemana-mana. Kamu kalo udah fokus kerjaan pasti lupa makan. Ini aku bawain.”


    “Aku stres, pengen jalan-jalan.”

    “Yaudah tunggu bentar, aku ke sana.”


    “Kamu tu bandel banget sih dibilangin. Jangan teledor. Aku tu ngga bisa selamanya sama kamu.”

    “Emang kamu mau ke mana?”

    “Pokoknya jangan gini lagi ya.”

    “Nggak janji.”


    Manis banget ya buat diinget. Dari awal kuliah sampai udah bisa cari duit sendiri masih aja diperhatiin. Masih suka diingetin. Masih suka dikhawatirin. Masih suka disamperin. Diajak jalan, makan, nonton, ke toko buku, dan yang pasti masih bisa ngobrol banyak meski udah beda kota.

    Kalau udah ngobrol mana suka lama banget lagi. Sambil liatin matanya yang bagus. Sambil senyum-senyum, ketawa-ketawa, pokoknya nggak peduli aja gitu semesta mau gimana.

    Momen-momen manis yang berharga banget. Dibuat buat diingat. Besok kalau udah nggak muda lagi bisa terus dikenang sambil menikmati teh hangat berdua. Lucu ya.


    “Ini undangan nikah aku, kalau bisa dateng ya.”

    “Oh akhirnya ya. Aku usahain dateng, tapi kalau aku nggak kuat ya aku doain aja.”

    “Jaga diri baik-baik ya.”

    “Dari dulu juga aku udah berusaha jaga diriku dengan baik, kamu aja yang sukanya ikut-ikutan jagain aku. Jadinya ketergantungan kan.”

    “Pokoknya…”

    “Iya aku bisa jaga diri.”


    Iya pada nyatanya dia tetap akan hidup sama orang yang hadir lebih lama daripada aku. Aku sudah tau kalau hatinya dijaga penuh buat perempuan yang namanya tertulis bersandingan dengan dia. Aku tahu aku akan tetap jadi yang kedua gimanapun keadaannya. Semesta udah sering bilang, tapi aku yang terlalu percaya sama kepalaku sendiri. Nyatanya doa perempuan itu lebih hebat kan dibanding aku? Naif memang, tapi mau gimana lagi? Patah hati? Udah telan sendiri. Terima aja kalau selama ini kita jalan tapi emang nggak pernah ke mana-mana. Terus buat menghibur diri anggap aja kalau sebenernya dia juga sama sayangnya, cuma ya nggak bisa aja.

    Nyesel nggak udah sayang sama dia? Enggak sama sekali.

    View Full
  • “yg mendorong manusia itu bukan cuma rasionalisme.. melainkan kebodohan juga ” pena mengambang diudara mencoba menelusuri jalan pikiran

    “Sejarah … tidak lebih tepatnya,berdasarkan sejarah diriku (pengalaman diriku sendiri ) . aku pernah melihat mata seseorang yg penuh dgn kebencian , aku juga melihat banyak mereka yg begitu memuja idealisme nya pun kehilangan akal sehat dan termakan amarah. aku sudah melihat rantaian balas dendam yg disebabkan oleh kebencian. Dan akupun tersadar … Tidak, lebih tepatnya aku teringat bahwa aku sendiri pernah menjadi orang yang gila akan rasionalisme .”

    “Tidak peduli sebanyak mana kemajuan yg terjadi, Tak peduli bagaimana norma sosial berubah … Manusia tetap saja makhluk yg bodoh .. Yang terkadang lebih mementingkan perasaan.”

    “Seseorang yg dikendalikan kebencian tanpa memikirkan alasan atau hal lainnya, akan terus berjuang.” pena tergeletak dgn rasa puas namun raut wajahnya tidak selaras dengannya , masih ada riak-riak dipikiran yg perlu ia curahkan… pada saat yg sama nyawa manusia melayang bersama teriakan dan tubuh merengkuh bumi…

    View Full
  • 17 Januari 2020

    “Kamu beneran gapapa?” tanya laki-laki itu memecahkan keheningan. Kiara tersadar dari lamunannya. Dikepalanya ada banyak sekali yang berputar, tentang Aldo kekasihnya yang jauh disana, tentang pertengkaran mereka belakangan ini, tentang kesedihan dan kesepiannya, lalu laki-laki asing di depannya.

    Kiara mengangguk, pada laki-laki yang bahkan dia lupa namanya. Laki-laki itu berlutut dihadapan Kiara yang entah sejak kapan sudah tidak mengenakan selembar kain pun di hadapannya. Kiara menatap lekat-lekat mata laki-laki tersebut, dia lupa bagaimana seseorang menatap matanya dengan tatapan penuh gairah seperti ini. Tidak sampai tiga detik, laki-laki itu melumat bibir Kiara. Tangannya menjamah tiap lekuk badan Kiara, sentuhan yang telah lama dirindu olehnya. Kiara memejamkan matanya, menggigit bibir dan membiarkan laki-laki tersebut melakukan bagiannya.

    ***

    3 November 2018

    Kiara menangis. Malam ini Aldo kekasihnya sedang berkencan dengan perempuan lain. Aldo bilang itu hanya kencan, paling jauh juga hanya berakhir di tempat tidur dengan perempuan baru ini. Aldo bilang, dia hanya mencintai Kiara. Aldo bilang dia ingin hidup selamanya dengan Kiara, menua bersamanya. Tapi Aldo bilang, untuk hubungan seks dia tidak bisa hanya melakukan dengan Kiara seumur hidup. 

    ***

    20 Desember 2017

    “Kenapa orang-orang menikah?” tanya Aldo suatu hari. Aldo berbeda dari laki-laki lain, dia terlalu banyak bertanya.

     Kiara tertawa, “Nikah hanyalah alat untuk melegalkan seks, perintah agama untuk membangun keluarga”. “

    Lalu menurutmu, bagi orang-orang yang tidak percaya Tuhan dan tidak percaya agama, untuk apa menikah?” tanya Aldo lagi. 

    Kiara mengerutkan kening, “benefitnya kalo ingin punya anak dari pernikahan resmi maka anak kita akan diakui oleh negara, terkhusus di Indonesia. Anak kita mendapat perlindungan hukum. Untuk bayar pajak juga untuk suami istri, sepertinya bisa gabung? Untuk memberi consent, operasi jika ada salah satu yang sekarat di rumah sakit.”

    Aldo menyeruput kopi di gelasnya, tidak berkomentar apapun. 

    Takut-takut, Kiara memberanikan diri untuk bertanya, “kamu tidak mau bersamaku?”

    Aldo menatapnya lekat-lekat, “mau, tapi aku tidak bisa dengan relasi monogami. Secara science manusia tidak didesign untuk bermonogami, ancestors kita sejak dulu selalu berhubungan seks dengan banyak orang, lalu agama hadir dan dibentuklah sistem pernikahan untuk mencegah bayi-bayi yang tidak diketahui siapa ayahnya. Liat, betapa banyak orang-orang yang menikah lalu tidak bahagia? Angka perceraian dan perselingkuhan yang meningkat dari tahun ke tahun”

    Kiara tentu ingin menepis argumen itu, ingin bilang bahwa masih ada pasangan yang tetap berhagia dan menua bersama. Tapi dia bisa apa, sebagai seseorang yang juga mempelajari Psikologi, Kiara juga paham bahwa pernikahan bertahan lama seiring waktu bukan karena cinta, tapi karena komitmen, karena kebersamaan. Kiara merasa hatinya hancur mendengar perkataan Aldo.

    Kali ini Aldo mengenggam tangannya, “Ayo kita berkomitmen, bagaimana dengan Open Relationship? Kita saling membebaskan untuk bercinta dan berhubungan seksual dengan siapapun, tapi tetap harus selalu menjadikan satu sama lain sebagai tempat pulang. Kita kasih batasan, boleh berhubungan seksual dengan yang lain tapi tidak boleh ada feelings involved. Harus ada keterbukaan dalam relasi kita.”

    ***

    3 November 2018

    Aldo pulang, ke apartemen yang ia tinggali bersama Kiara. Tempat dimana berapa bulan terakhir sejak mereka memutuskan untuk berkomitmen, menjadi saksi untuk hari-hari penuh cinta. Ditemukannya Kiara yang sedang menangis tersedu-sedu disana. 

    “Sayang..,” kata Aldo mendekap Kiara yang masih menangis. “Kamu kenapa?” Aldo bertanya meskipun ia sudah tahu jawabannya. “Aku gak ngapa-ngapain sayang. Cuma mengantar Nina ke kosnya setelah menjemputnya dari cafe tempat kerjanya. Aku cuma mendengar kegalauannya yang baru saja putus dengan pacarnya, berusaha menghiburnya, hanya sebatas itu,” Aldo berusaha menjelaskan.

    “Ya, tapi kamu masih tetap akan menemuinya kan? Kamu masih berharap bisa melakukan “itu” dengannya kan?” tersedu Kiara bertanya, berharap Aldo menggelengkan kepalanya. Berharap Aldo mengecup keningnya berkata bahwa dia tidak akan melakukannya. 

    “Sayang, kenapa kita masih memperdebatkan ini? Bukankah sejak awal kita sudah sepakat dengan komitmen kita?” Aldo balik bertanya. Kiara menangis makin tersedu. Sebagai seseorang yang dapat diajak reasoning, tentu Kiara menyepakati hal ini. Namun hati Kiara tetap saja merasa sakit untuk menerima kenyataan ini. 

    Kiara menangis. Kiara tidak ingin relasi seperti ini. Relasi yang membuat Kiara merasa tidak cukup, sehingga Aldo meminta untuk mencari pleasure dari orang lain. Kiara bukan tidak pernah mencobanya, bertemu dengan laki-laki dari dating app, dari minum-minum di bar sampai masuk ke kamar. Tapi setiap kali laki-laki asing yang dia baru kenal itu berusaha membuka celana dalam Kiara, Kiara menangis. Kiara tidak bisa. Kiara tidak pernah ingin melakukan itu dengan orang lain. Kiara hanya mencintai Aldo. Kiara tidak mau melakukan dengan orang lain.

    ***

    10 Januari 2020

    Kiara merasa sudah cukup. Pindah ke kota baru dan kekasih yang sibuk dengan dunianya membuat Kiara makin merasa kesepian. “Aku main tinder lagi, ya?” tanya Kiara kepada Aldo. 

    Why so sudden?” tanya Aldo bingung. Malam itu mereka berbincang melalui video call. “What else? Aku kesepian” kata Kiara. Aldo berpikir lama. Banyak hal terjadi selama tiga tahun belakangan. Sudah lama Aldo tidak pernah memikirkan Tinder atau orang lain. Sejak Kiara menangis dua tahun lalu, Aldo tidak pernah kepikiran untuk berkencan atau bahkan sampai bercinta dengan perempuan lain. Meskipun tidak pernah bilang, Aldo mulai memikirkan dan memutuskan bahwa relasi monogami possible untuk mereka.

    “Apa yang kamu expect dari Tinder? Hanya teman mengobrol? Kamu paling tau, mereka expect more than just listening some shits from random pretty girl on Tinder,” Aldo penasaran. “Some good sex? haha, I don’t know cuddle is enough” Kiara tertawa. Dalam hati, Kiara penasaran bagaimana respon Aldo. “Oh sure, jika itu maumu. Ingat, safety first, ya? Jangan lupa pakai pengaman sayang,” kata Aldo pelan. “Sure, thank you for the reminder. I’m sure gonna having fun, I suppose!

    ***

    17 Januari 2020

    Kiara berbaring dipelukan laki-laki yang baru dua hari lalu dia kenal dari Tinder. Sepulang kerja, dengan impulsifnya Kiara mengiyakan ajakan laki-laki ini untuk mengobrol di apartemennya. Dalam hati, Kiara bertanya, apakah being less emotionally attached adalah cara-cara orang menyebut dirinya sebagai part dari modern society, ataukah makin kesini orang-orang makin enggan berkomitmen dan bertanggung jawab?

    Mata Kiara masih basah, dia tidak bisa tidak melakukan hal itu tanpa melupakan Aldo. Aldo memberi izin. Aldo tau malam ini Kiara di tempat seseorang yang baru ia kenal dari Tinder. Kiara tidak berselingkuh. Kiara melakukan ini atas consent dan izin dari Aldo. Kiara sungguh menikmati moment bercinta dengan partnernya ini, namun jauh di lubuk hatinya Kiara tetap merasa hampa. Percayalah, senikmat-nikmat seks adalah dengan orang yang kamu cinta dan juga mencintai kamu.

    20 Januari 2020

    Aldo tidak bisa tidur. Sejak kemarin dia hanya makan sekali. Dia tidak tau, bahwa mengetahui perempuannya bercinta dengan laki-laki lain bisa sesakit ini. Terlebih, Aldo tidak expect bahwa perempuannya akan benar-benar melakukan dengan orang lain. Kiara adalah orang yang sangat berat diajak untuk melakukan Open Relationship. Kiara yang menangis hanya karena dia berkencan dengan orang lain. Kiara yang satu tahun belakangan ini, membuatnya untuk melupakan omong kosong Open Relationship. Aldo hanya ingin Kiara. Malam ini Aldo tidak bisa tidur, ada bagian dari dirinya yang hancur mengetahui Kiara benar-benar tidur dengan laki-laki lain.

    Kiara malam ini juga tidak bisa tidur. Dadanya masih berdebar. Perasaannya tidak karuan. Kiara tidak menyangka, bahwa ternyata kencan yang tidak sampai tiga jam itu, benar-benar tidak bisa hilang dari ingatan Kiara. Kiara mulai menyukai ide Open Relationship ini. Kemarin Kiara masih menyesal, namun ingatan membawanya kembali ke malam-malam kelabu, malam-malam dimana Kiara menangis memikirkan Aldo yang kencan dengan perempuan lain. Hari-hari dimana Aldo memohonnya untuk mengizinkan bisa setidaknya melakukan hubungan seks dengan orang lain. 

    Iya, Aldo akhirnya tidak pernah malakukan itu semua karena Kiara yang terlalu sedih, tapi ide dan perasaan bahwa Aldo suatu hari akan melakukan hubungan seks dengan perempuan lain sudah membuat Kiara mati rasa. Malam ini Kiara tidak bisa tidur, ada perasaannya yang buncah mengetahui akan ada banyak malam lagi yang ia bisa nikmati bersama laki-laki lain.

    View Full
  • 3. Support Sistem

    Minggu ini adalah minggu yang menyenangkan bagi Serena dan Bara karena kegiatan belajar mengajar sedang ditiadakan. Sebentar lagi adalah Hari Ulang Tahun Sekolah, hari-hari digunakan para siswa untuk melakukan rangkaian HUT, biasanya disebut classmeeting atau perlombaan antar kelas. Bara salah satu siswa yang mengikuti perlombaan, diantaranya Bola Voli dan Futsal bersama teman-teman laki-laki lainnya.

    Serena yang ketika kelas 10 dan 11 tidak pernah antusias untuk menonton perlombaan, apalagi pertandingan Voli dan Futsal yang menurutnya sangat kasar bermainnya, apalagi pasti dipenuhi oleh penonton laki-laki. Namun kali ini dia begitu antusias untuk mengikuti rangkaian pertandingan, apalagi kalau bukan Bara alasannya. Sebenarnya jauh dilubuk hati dia tidak tega melihat Bara kepanasan, tidak sengaja terpukul lawan, tapi ya bagaimana lagi Bara menyukainya.

    Diwaktu istirahat pertandingan, entah angin apa yang berbisik kepada Serena, perempuan yang sangat cuek apalagi untuk bersikap romantis, ah sepertinya mustahil. Tapi kali ini dia datang menuju tempat Bara istirahat dan memberikan satu botol air mineral kepada Bara. Sontak hal tersebut mengundang perhatian banyak pasang mata yang berada disekitarnya. Tapi Bara yang selalu mengatakan untuk mengabaikannya.

    “Nih minum dulu” —Ucap Serena dengan singkat

    “Makasih Ren” —sahut Bara

    Pertandingan berlangsung hingga hari hampir sore, teman-teman Serena sudah mulai pulang karena kelasnya hari ini tidak main. Namun Serena tetap antusias menunggu Bara menyelesaikan pertandinhan bola voli, walaupun dia sendiri yang bukan berasal dari kelas Bara. Pertandingan selesai dengan hasil yang memuaskan, Bara dan Timnya memenangkan pertandingan. Mereka pulang dengan perasaan bahagia.

    Bara : Makasih ya yaang buat tadii

    Pesan singkat tiba-tiba masuk dari Bara, yang dengan seketika membuat Serena tersenyum sendiri.

    Serena : Iyaa, padahal aku nggak ngapa-ngapain haha

    Bara : Gitu aja aku udah seneng, besok nonton lagi ya

    Tak beda dengan perasaan Bara, Serena pun juga sangat senang bisa ada dan memberi support kecil untuk Bara, hingga membawakannya hot in cream milik Ayahnya untuk Bara yang ternyata dihabiskan bersama teman-temannya. Sebaliknya, Bara juga turut mendukung Serena yang mengikuti lomba paduan suara, dia selalu datang ke kelas Serena untuk melihat Serena latihan, walaupun justru hal itu membuat Serena jadi canggung dan tidak percaya diri. Beberapa kali Serena meminta Bara untuk keluar. Tapi selalu tidak mau. Bara pasti tidak lupa.

    Bara, aku ingin menjadi orang yang selalu ada saat kamu membutuhkan sesuatu, walaupun mungkin uluran tanganku tak akan cukup membantu. Tapi semoga kau tahu, aku telah mengusahakannya semampukuSerena

    Ditulis oleh : @a-sereneid

    View Full
  • 2. Aku atau Mereka

    Hari ini adalah dua hari sebelum Ujian Akhir Sekolah dilaksanakan, atau biasa dibilang hari tenang. Namun sebagai anak SMA hari tenang ataupun hari biasanya itu tetap sama saja bahkan malah menjadi hari yang tepat untuk melepas penat.

    Hari ini justru Bara dan Serena pergi ke sebuah bazar di gedung pinggir Kota. Mereka berangkat bersama selayaknya anak muda. Jangan salah, keberangakatan mereka menuju bazar jelas-jelas karena keinginan Serena, Bara memang tidak pernah antusias dengan acara seperti itu. Kali ini pun juga mereka tidak hanya berdua, diikuti teman-teman Bara, itu syaratnya. Tak masalah bagi Serena walaupun dia satu-satunya wanita, toh tidak lama dia bertemu teman-temannya disana.

    “kamu keliling sama temen-temenmu aja ya, aku biar sama cowok-cowok”

    “oke gapapa, nanti ketemu lagi, jangan lupa berkabar”

    Serena pun pergi bersama teman-temannya mengelilingi bazar. Sampai hari sudah mulai gelap, namun dia belum juga menemui keberadaan Bara, belum juga ada teks masuk darinya. Serena menunggu sambil mengelilingi bazar, entah sudah kali keberapa dia melakukannya. Dia pun bertemu dengan Riza teman sekolahnya yang sekaligus juga temannya Bara.

    “Loh, dateng sama siapa?”

    “Sama Bara, tapi belom ketemu nih orangnya ilang”

    “Lah, Bara udah balik tadi aku lihat sama Kenan”

    “Serius? Dia belom bilang aku”

    Serena terkejut mendengar informasi dari Riza, jelas-jelas tadi Bara hanya pamit dia memisahkan diri dan bersama teman-temannya, dan mereka akan berkabar setelahnya. Langsung diraihnya ponsel dan mengirim teks kepada Bara.

    Serena : Bara, Kamu dimana? Udah pulang?

    Bara : Reen, aku lupaaa, ga ngabarin kamu, iya aku udah balik duluan tadi sama temen-temen

    Serena : Kartu parkir kamu taruh mana?

    Bara : Di dashboard motor, Reen maafin ya aku lupaa

    Tidak habis pikir atas hal yang dilakukan oleh Bara terhadap Serena. Bisa-bisanya padahal mereka berangkat bersama kemuduan ditinggal pulang begitu saja, tanpa kabar sama sekali. Yang dipikiran oleh perempuan 17 tahun yang bernama Serena saat itu adalah ‘kecewa’. Di sepanjang perjalanan pulang dia menitikkan air mata, untung saja mereka berangkat menggunakan motor Serena, kalau saja menggunakan motor Bara, dia tidak tahu akan pulang dengan siapa.

    Kejadian kali ini benar-benar membuat Serena marah dengan Bara untuk pertema kalinya, dan berujung perdebatan antara keduanya.

    Bara : Maaf Ren, aku bingung tadi, aku harus bareng kamu atau temen-temen, kalo bareng kamu nanti nggak enak Sama temen-temen, kalo bareng temen-temen juga nggak enak sama kamu, yaudah aku pulang aja.

    Serena : Kamu pikir dengan kamu pulang ngilang gitu aja semua akan baik-baik aja? Bar, aku tu nggak keberatan sama sekali kalau harus bareng temen-temen kamu walaupun aku cewek sendiri kan mereka temen-temen aku juga, Kan? Dengan begitu kamu nggak perlu nggak enak sama aku atau mereka.

    Bara : Iya aku salah udah ninggalin kamu. Tapi kan kamu tadi juga ada temen-temenmu cewek, pikirku apa nggak lebih baik kamu sama mereka

    Memang selalu begitu ujung perdebatan antara Bara dan Serena. Bara yang tidak mau salah dan kalah begitu saja, juga Serena yang selalu kekeuh terhadap pemikirannya. Yang kali ini harus diselesaikan atas diam dan mengalahnya Serena. Memaafkan Bara dan menerima seperti sedia kala.

    Setelah kejadian itu, membuat terbukanya mata dan pikiran Bara akan pilihan antara Serena atau teman-temannya, yang sebenarnya dua hal tersebut bukan suatu pilihan. Di suatu hari setelahnya, Bara dan Serena pergi makan siang di salah satu tempat makan yang sedang naik daun di kota ini bersama teman-teman Bara. Seperti apa yang dikatakan Serena di hari kemarin dia tidak mempermasalahkan kehadiran teman-teman Bara, pun sebaliknya, justru mereka menjadi cair satu sama lain.

    Ren, aku gak bisa memilih kamu atau teman-temanku. Yang jelas sebentar lagi kita akan lulus, dan aku gak tahu apa nanti masih bisa bareng-bareng lagi sama mereka kayak sekarang ini. Tapi kalau dengan kamu, kita masih akan terus bersama setelah ini kan, jadi kamu gausah khawatir atau cemburu. Aku mohon kamu mengerti, Ren.

    Salah satu ucapan Bara saat itu untuk menenangkan perasaan Serena, yang akan selalu diingat oleh Serena sampai kapanpun. Saat itu mereka pikir semua hal akan selalu baik-baik saja, tapi siapa yang tahu. Ya semoga ya.

    Ditulis oleh : @a-sereneid

    View Full
  • Mushola Aki (III)

    “Teh nuhun ya tos ngajarkeun abdi ngaos”

    “Muhun, enjing kadieu deui nya bageur”

    Anak kecil yang bernama Salsa itu hanya mengangguk, memastikan bahwa ia akan kembali lagi besok untuk mengeja beberapa bait dari risalah cinta Nya. Setelah shalat isya, ia segera pamit untuk pulang. Aku mengantarnya sampai depan rumah bibiku, ia kemudian melambaikan tangan. Ditangannya sudah ada sebuah senter besar, senter itu akan membantu perjalanan ditengah gelap nya malam. Perjalanan yang akan mereka susuri lumayan jauh, setelah melewati jalan setapak diantara sawah-sawah, mereka akan menyusuri jalan bebatuan dan menyebrangi sungai kecil. Aku sampai dibuatnya menggelengkan kepala, nenek itu bahkan rela melewati itu semua diusianya yang tidak muda lagi demi mengunjungi baitullah. Anak kecil itu juga begitu sabar menemani nenek nya.

    Setelah melihat mereka tak terlihat dari kejauhan, aku segera masuk. Didalam nenekku atau biasa ku panggil Mimih itu sedang mengunyah makanannya dengan perlahan. Saudari-saudariku tengah asyik menonton serial yang ada di tv. Aku langsung ke kamar, membuka mukenaku lalu melipatnya. Terdengar obrolan bibi dan pamanku dari luar tentang wasiat Aki perihal pembangunan pesantren. Aku ikut menyimak dari dalam.

    “Nah kieu, pami ngabangun pesantren di gigireun tea saha sok nu tiasa ngalola na?”

    “Kela eta mah gampang, dana keur ngabangunna aya sabaraha?

    "Tah eta nu lieur teh, dana na ge teu sampe 20 jt”

    “Geus kieu atuh, Mimih kumaha pan kahoyong Aki teh bangun pasantren, tapi loba kendala ti mulai dana na teu cekap, nu ngalola na duka saha da arurang nu besic na pasantren ngan saeutik, incu ge sarakolah keneh. Nah Mih, kumaha pami dana na keur nga renov masjid weh trus ngke ngadakeun pangajian unggal minggu?”

    “Mimih mah kumaha nu jagjag weh, nu penting dana eta mangfaat kangge ummat”

    Seketika aku ingatanku menerawang masa. Dulu ketika aku SMP, aku hidup diantara Mimih dan Aki. Aki sering sekali menjengukku tiap minggu. Walau jarak yang ditempuh lumayan jauh, tapi Aki sangat rajin menemui aku dan saudaraku dipondok dulu. Kala libur, aku hanya berlibur di rumah Mimih dan Aki, aku tidak sempat pulang ke rumah karena jarak nya sangat jauh. Jadi aku menghabiskan liburanku untuk membantu Mimih dan Aki di rumah. Ohiya kala itu, bibi aku tidak tinggal bersama mereka, bibi ikut suaminya tinggal di Tanggerang beberapa tahun. Aku tersenyum mengingat kembali saat-saat itu. Rindu.

    Aku beranjak keluar untuk ikut nimbrung bersama saudara-saudara ku di ruang tv, mereka terlihat sangat serius menonton.

    “Nonton apa Ara? Tanyaku pada Ara saudariku yang tak terasa sudah besar itu.

    "Harry Potter Teh Bila”

    Aku hanya mengangguk, lalu ikut menonton. Diruang depan anak-anak dan menantu Mimih masih berlangsung obrolan tentang dana itu. Semetara aku tidak fokus untuk nonton, pikiranku terus mengingat lagi kejadian tadi di mushola. Apakah mereka sudah sampai rumah?

    Bersambung..

    View Full
  • Tahukah bahwa ada hal-hal yang bisa dilepaskan dan ada juga hal-hal yang harus kita pertahankan sekuat mungkin? Ada hal-hal yang berubah karena keadaan, ada hal-hal yang tak boleh berubah dalam keadaan apapun. Kita dekap seerat itu, sekuat itu. Kita genggam sekeras itu. Sekalipun kita tahu, bahwa perjalanan ini mungkin akan jadi lebih berat, lebih lama, lebih pelan dengan tak melepaskannya.

    Biarpun begitu. Tak mengapa. Karena kita yang bisa memahami seberapa berharga hal tersebut.

    Apakah kamu boleh kupertahankan?

    ©kurniawangunadi | Yogyakarta, 24 Juni 2020

    View Full
  • Kukira yang tahu perasaanku hanya diriku sendiri. Nyatanya, setiap langkah kaki ini bergerak, jejak langkah itu menunjukkan arah perasaan ini. Saat berbicara, nada suara ini seolah nyanyian cinta. Saat aku melihat, tatap mata ini seolah mengatakan apa yang ada di dalam hati. Sama sekali tidak bisa disembunyikan.

    Kukira, yang tahu bahwa aku sedang berjuang hanya diriku sendiri. Saat pagi datang dengan teriknya matahari, terangnya seolah menerangi jalan mana yang harus ku tempuh. Awan yang bergerak, meneduhkan sepanjang perjalanan. Angin yang mengalir, membawa kabar tentang kamu yang sedang tumbuh berdaya.

    Kukira, aku yang paling tahu tentang perasaanku sendiri. Ternyata, memendam perasaan itu memang bukan bakat yang kumiliki. Jika demikian, biar saja dunia tahu. Agar doa itu ikut didengar oleh gunung, air, pepohonan, angin, dan semua hal yang kulewati ditengah jalan menujumu.

    ©Kurniawan Gunadi 

    Yogyakarta, 24 Juni 2020

    #cerpen#kurniawangunadi #All Right Reserved
    View Full
  • izinkan aku untuk egois dalam hubungan ini. ada kalanya perasaan ini terus menggelebu mengingat dirimu, mengingat suaramu, mengingat ceritamu. mencintaimu adalah keinginanku, tapi akupun tak sanggup menanggung resiko ini. kehilanganmu adalah takdir. tak bisakah aku memaksamu agar tetap berada di lingkaran ini? 

    suara panggilan telepon darimu adalah kebahagiaan sederhana untukku. mendengar kabarmu dan mengoceh tentang kerjaan di kantor yang menyebalkan membuatmu berharap untuk dipecat. 

    menemanimu ke Gereja di hari minggu merupakan bagian yang kusuka. sebaliknya, kau menemaniku ke Masjid jika aku harus menunaikan ibadah. semua nampak biasa saja hingga harapan ini muncul.

    izinkan aku untuk egois dalam hubungan ini. aku hanya tidak ingin dipisahkan atau memisahkan diri. berada disampingmu adalah pilihanku. 

    apadaya jika Tuhan tidak merestui?

    View Full