#independensi Tumblr posts

  • Saya sudah bergelut cukup lama di media kampus. Sejak awal masuk, saya sudah menjadi kru sebuah media kampus televisi. Dua tahun perjalanan, saya sudah mengalami jatuh bangun dan akhirnya memilih untuk berhenti serta tidak melanjutkan kepengurusan di generasi selanjutnya. Di luar itu, saya melihat banyak isu yang menjadi perbincangan dalam internal media kampus: independensi.

    Sudah sejak lama, saya merasa ada yang tidak beres dari kepengurusan media kampus. Ternyata, sudah lama dana tidak pernah turun kepada beberapa media kampus yang sebenarnya berada di bawah naungan kampus. Namun, karena tidak mau bergabung dalam satu kesatuan payung yang dibentuk kampus, media-media ini tidak dapat memiliki jatah dana dari kampus. Ujung-ujungnya media ini pun harus berjalan dengan modal pas-pasan yang berasal dari pendanaan mandiri. Miris? Ya. Tapi itulah kenyataan pers mahasiswa.

    Ada yang bilang, ini merupakan bentuk pengekangan kebebasan berekspresi yang dilakukan kampus kepada media. Selama ini pun saya memiliki pendapat yang sama. Namun, saya juga berusaha berpikir jernih. Saat kampus diberitakan secara buruk, yang berarti juga mengeksposnya kepada publik luas, berita ini akan dibaca oleh para calon mahasiswa beserta keluarganya. Jika saja berita ini sangat buruk, tentu para calon mahasiswa ini akan menjadi goyah untuk masuk ke dalam lingkungan ini. Alhasil, jumlah mahasiswa baru akan turun, dan kampus pun mengalami pertumbuhan yang stagnan atau bahkan minus. Bahaya untuk menjadi mahasiswa yang masih bertahan di kampusnya sendiri jika melihat kampus mengalami demikian. Namun, di satu sisi, apa yang dikritik ini sebenarnya menunjukkan kepedulian mahasiswa terhadap lingkungannya dan sebagai bentuk kontrol sosial terhadap lembaga petinggi.

    Hari ini saya membaca unggahan seseorang di media sosial yang menyebutkan soal cinta almamater. Cinta almamater menurutnya, juga dapat menahan diri untuk tidak mengekspos hal-hal yang dapat merusak nama kampus kepada publik. Beberapa petinggi kampus juga selalu mengatakan, “Jika ada masalah, jangan ragu sampaikan secara langsung, bukan melalui media sosial.” Apa yang saya baca itu menjadi suatu perspektif baru bagi saya. Saya memang tidak sepenuhnya mencintai almamater, dan barangkali membutuhkan proses. Tapi saya menjadi setuju akan perkataan itu. Di samping cara kerja media publik dan media kampus berbeda, saya melihat ada perpektif soal kebaikan yang ingin coba dibagi. Apa yang saya ekspos ke luar tanpa memperhitungkan dampaknya, tentu akan menjadi suatu gambling bagi diri sendiri, termasuk soal kritik terhadap kampus sendiri. Penyampaian opini dan kritik ini memang harus secara objektif dan bijak, dan kampus perlu benar-benar merespons dengan baik. Barangkali munculnya kritik melalui media sosial ini direfleksikan dari ketidakkondusifan respons pihak kampus terhadap isu-isu yang dibahas. Intinya – semua pihak perlu merefleksikan dan mendiskusikan bersama-sama duduk perkara masalah ini – yang tak pernah kunjung usai.

    View Full
  • Ini sudah tahun 2014. Sudah hampir 16 tahun pasca runtuhnya orde baru, ya? Oh ya, 16 tahun pasca tinggi-tingginya kekuatan mahasiswa sebagai tonggak pergerakan Indonesia kala itu. Sesuatu yang masih dijunjung tinggi hingga kini, atau apa yang biasa kita sebut, peran fungsi
    mahasiswa.

    Klise. Saya sedikit melihat hitam putih nya tingkah laku mahasiswa sekarang. Dalam beberapa tahun, mahasiswa 1998 sudah menduduki kursi pemerintahan, dan dalam beberapa tahun teman-teman saya yang dengan bangganya beraksi di gedung pemerintahan dengan jas almamater nya pun akan begitu.

    Kini setiap teman-teman dari setiap perguruan tinggi melakukan berbagai aksi, baik yang sesuai dengan bidang ahlinya, atau mulainmencoba berkecimpung di dunia politik yang entah praktis atau tidak. Lalu mulai mencoba melakukan apapun atas nama mahasiswa dan bangsa
    Indonesia. Mereka yang belajar mesin mulai berani menyentuh aksi naiknya harga BBM, atau teman-teman ilmu budaya yang diam saja pada kasus tutupnya 11 museum di Indonesia tiap tahunnya.

    Dalam Aturan Dasar dan Aturan Rumah Tangga organisasi yang saya ikuti, ada beberapa falsafah yang kami yakini, Pancasila, Tri Dharma Perguruan Tinggi, Wawasan Almamater, dan nilai perjuangan sepuluh november. Itu hanya tertulis di atas kertas, 90% anggota organisasi pasti sudah mengabaikannya. Atau bahkan yang selalu disuarakan setiap orientasi institut; agent of change, iron stock, moral force, social control; penelitian, pendidikan, pengabdian masyarakat. Berapa persen masih mengilhaminya? Saya pun tidak. Padahal menurut saya secara teori, PFM dan Tri Dharma PT ini begitu brilian sebagai panduan manual para mahasiswa.

    Dalam forum kecil-kecilan saya mulai jengah, melihat mereka yang terjerembab di kebanggaannya sebagai mahasiswa. Mengopi apa saja yang dilakukan seniornya tanpa paham betul apa alasan dibalik itu. Mengiyakan apa kata yang tua, meremehkan yang muda; sebagaimana petuah those who gets old first, know best. Tidak. Saya pun menemui banyak dari teman teman di angkatan di bawah saya begitu brilian. Kaderisasi dan semacamnya menjadi sebuah momen penting dalam kegiatan kemahasiswaan, organisasi kader, dsb. Lalu mulai mencibir bagaimana kaderisasi kini melempem, atau bagaimanapun kata yang tepat untuk menggambarkan degradasi generasi yang selalu jadi momok organisasi. Atau bahkan bangsa. Dengan pembanding kaderisasi yang lalu-lalu. Karena objeknya ‘anak orang’, katanya. Kita tidak boleh melakukan
    kesalahan apapun. Sebagaimana pula dengan aksi mahasiswa terhadap pemerintahan. Ketika ada kenaikan harga migas, atau Kebun Binatang Surabaya. Lalu ketika mahasiswa diam, tidak bergerak, berantem sendiri di kajian, mulai ramai teriakan 'Mana mahasiswa?’ 'Katanya mahasiswa, kok diem aja?’ 'Kok tidak berdampak pada bangsa?’ Wow. Ini dia, tengok lagi, agent of change, iron stock, moral force, social control; penelitian, pendidikan, pengabdian masyarakat.

    Ibarat arsitektur indonesia. Untuk meng-Indonesia-kan sebuah bangunan, letakkan saja atap joglo, atau naikkan bangunannya, jadikan panggung! Tanpa tau sebab dibalik itu semua, tanpa tau titik fungsi terbesarnya. Mengambil bentuknya, membuang jiwanya. Begitu pula kata mahasiswa bagi saya. Bentuknya diambil. Berjas almamater, kaum intelektual, menyuarakan pendapat. Tapi kosong.

    Saya yakin setiap pertempuran argumen di forum dengan peserta mahasiswa adalah forum dengan tujuan yang baik pada masing-masing kepalanya. Namun saya rasa kini masing-masing kita perlu menengok kembali ke diri kita masing-masing. Seperti kata pembesar bangsa kita,
    jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ya! Tidak untuk mengopinya begitu saja, mempelajari nilai-nilainya kemudian di aplikasikan sesuai dengan masanya. Tanpa memahami betul peran fungsi mahasiswa dan tri dharma perguruan tinggi, dan hanya menghafalnya di luar kepala. Kita akan jadi anak-anak yang menggambar dua gunung matahari, mengabaikan pantai dan taman kota. Padahal sama-sama indah.

    Semua momen punya masa kadaluarsanya, dan setiap masa pun masing-masing memiliki momen. Pemahaman saya masih sebiji jagung di dunia kemahasiswaan ini, tapi saya yakin ketika kita benar-benar mengambil inti sari sejarah dan mengaplikasikannya perlahan-lahan, momentum itu akan tiba untuk generasi kami.

    View Full
  • no internet connection.

    no plagiator allowed.

    no more justice.

    Dari bukunya Stephen Covey. Ya entahlah gimana namanya itu. PIkiran melayang. Ke  banyak tempat di bumi. Sambil berjalan, mencari kawan. Kawan berjuang. Kawan bermain. Kawan berbohong. Kawan berduka. Kawan bersuka. Kawan bergunjing. Kawan bersilangan.

    Arus yang sama, bosan. Arus yang beda, sendirian. Sekadar bingung, terkadang mendengung. Harus apa sekarang. Ada benarnya juga kata Soe Hok Gie. Masa terberat dalam hidup adalah masa ketika muda. Mau jadi apa saat tua nanti, ditentukan ketika muda ini. Apalagi mati muda. Nggak terlalu sama, tapi itu yang teringat.

    Sekarang, 2013. Tapi kehidupan belum seperti di Metro City, tempat tinggal Astro Boy. Capek. Bosan. Depresi. Orang-orang tuh nggak sadar kalau mereka masih lari di atas treadmill. Padahal yang lain lari pakai awan kinton. Bukan masanya lagi dependensi. “Mendingan cari orang lain yang bisa diandelin”. Masih ngandelin orang?

    Apalagi independensi. “Gue aja yang kerja. Lo semua pada nggak guna. Gue pusatnya. Lo semua bisa apa tanpa gue?” Bukan one man show.

    Sekarang itu interdependensi. “Berdiri sama tinggi, untuk tujuan bersama. Semua orang punya pendapat yang beda. Tapi apa gunanya kata harmonisasi?” Terlalu sombong sih.


    Paling yang bisa kayak gitu yang sekolah di luar negeri. Paling yang bisa kayak gitu dari suku abc. Paling yang bisa kayak gitu dari agama efg. Paling yang bisa kayak gitu keluarganya tajir. Paling yang bisa kayak gitu keturunan darah biru. Paling, paling, paling, paling. Emang paling bisa cuma mikir negatif, kasih tangapan negatif, tanpa solusi.

    Basi.

    View Full