#innaramadani Tumblr posts

  • innaramadani
    26.12.2021 - 1 mont ago

    Sedang Mbuh

    25 Desember akhir tahun 2021

    Pagi ini mendung sekali dan asam lambungku kambuh lagi. Perpaduan yang epik. Haha.

    Adem-panas lagi,

    Pusing lagi,

    Mual lagi,

    Muntah lagi,

    Hari libur mestinya senang-senang malah tepar. Stok obat sudah habis, Dr. Lukas juga libur Natal.

    Tahun ini, aku sangat payah, sering kambuh. Bahkan sepanjang tahun (dari Januari sampai Desember) aku hitung sudah 6 botol obat asam lambung (dari Dr. Lukas) ludes. Pecah rekor.

    Kalau hari ini nggak libur, jelas akan tambah botol lagi.

    Sejujurnya, aku benci sakit. Kalau aku sakit rasanya jadi beban buat Ibuku, apalagi sejak Babe meninggal. Ibuku pasti makin kepikiran.

    Ibuku tipe over-thinking. Beliau merasa tidak bisa apa-apa kalau aku sakit. Apa-apa kan aku, jadi kalau aku sakit, Ibu merasa kasihan dan tak berdaya.

    Tapi nggak masalah kok, sejak kecil aku sudah terbiasa menghadapi situasi apapun sendirian. Justru bila ada bantuan, aku merasa tidak enak dan merepotkan.

    Harapanku tahun depan semoga asam lambungku jarang kambuh. Aku tidak mau merepotkan Ibuku. Sesepele itu.

    Tidak perlu langsung sembuh, jarang sakit saja aku sudah senang.

    InShaa Allah, besok Senin kalau nggak mager aku setor wajah lagi ke Dr. Lukas. Beliau sudah hafal, dengan khasnya pasti menyambutku di depan pintu,"Halo, Mbak Inna. Siapa lagi yang sakit?"

    Btw, kalau kamu tanya apa sebab asam lambungku? Entahlah.

    Tapi mungkin kali ini karena aku kangen Babeku. Sangat kangen, terlebih dalam situasi begini.

    Al Fatihah ya.

    View Full
  • innaramadani
    25.12.2021 - 1 mont ago

    Hah, Kesekian Kalinya.

    Kadang dalam suatu perjalanan, tiba-tiba aku menangis.

    Entah kenapa,

    seperti ada kekosongan.

    Seperti pagi ini, aku hendak membelikan obat adikku ke Dokter Lukas. Sepanjang jalan, tiba-tiba aku menangis lagi.

    Tahun-tahun belakangan ini, aku merasa sangat cengeng. Rasanya begitu berat, pundakku sampai kaku memikulnya. Luka menganga kian membusuk. Sakit luar biasa hingga rasa-rasanya aku tak bisa lagi merasakan apapun. Hanya air mata yang mendadak menetes tanpa sebab.

    Lebay, sih.

    Sampai-sampai keputusasaan datang lagi dengan mempertanyakan,"Mau Tuhan apa sih?" Kok nggak ada habis-habisnya, tanpa jeda.

    Iman sedang lemah, sepertinya.

    Aku memang bukan orang baik, tapi rasanya aku selalu berusaha jadi baik. Namun kenapa keadaan dan situasi yang aku hadapi (seringnya) malah seperti ini?

    Tuhan, maafkan aku kalau aku lancang dan tidak tahu diri lagi, lagi, dan lagi. Tapi aku sudah muak dengan diriku sendiri.

    Muak kenapa si aku banyak maunya terus. Kenapa nggak terima saja dengan lapang dada apapun keadaan yang ada? Kenapa nggak bersyukur dengan nikmat lain, yang jelas-jelas jutaan jumlahnya? Kenapa mata rasanya tertutup dan gelap? Kenapa dan kenapa lainnya terus aku pertanyakan dengan angkuhnya.

    Memuakkan memandang aku yang lemah begini. Ingin aku tampar berulang kali, ingin aku maki ribuan kali. Biar sadar dan bangkit kembali. Bukan melakukan hal sia-sia, seperti menangis.

    Cengeng sekali. Seperti bocah yang merengek meminta permen pada ibunya di depan toko. Mengesalkan.

    Tuhan, jika besok masih ada untukku, dengan beban yang sama atau bahkan jauh lebih berat, tetap tolong ingatkan aku kalau Engkau Ada, Dekat, dan Melihat.

    Jangan buat aku berpikir jahat lagi.

    Jangan buat aku bertindak gegabah lagi.

    Jangan buat aku merasa bahwa bertahan saja kenapa begitu sesulit ini.

    Aku yakin kesabaran tak berbatas. Hanya manusia saja yang lemah dan kurang ajar, termasuk aku.

    NB.

    If you want to relate with me, please play a song from The Smiths - I know it's over (one of my favorite song ever).

    View Full
  • innaramadani
    25.12.2021 - 1 mont ago

    Ibu.

    Kalau-kalau seluruh dunia hancur, asalkan masih ada Ibu disampingku, maka aku akan tetap baik-baik saja.

    Kalau Ibu tak ada, tentu, sudah pasti aku gila.

    View Full
  • innaramadani
    03.03.2021 - 10 monts ago

    Untuk para penguntit

    Aku tahu mungkin kamu memiliki perasaan yang menggebu-gebu, meluap-luap, sampai-sampai kamu berusaha mati-matian untuk mendekat.

    Aku tahu mungkin itu salah satu usahamu untuk setidaknya mencuri perhatian agar kehadiranmu patut diperhitungkan.

    Aku juga tahu mungkin sebesar itulah perasaan yang sulit dikendalikan untuk mendapatkan apa atau siapa yang diinginkan.

    Namun...

    Kamu juga perlu tahu,

    Aku tidak lupa bahwa aku punya hak atas diriku dimana aku tak ingin diusik terlalu dalam, terlebih oleh orang asing yang tiba-tiba datang tanpa permisi lebih dulu.

    Aku tidak lupa jika hubungan dimulai secara wajar, tanpa paksaan. Tanpa memepet kepojokan hingga aku terjepit dan sulit keluar.

    Aku tidak lupa pula kalau-kalau aku punya akal untuk berpikir mana yang aku anggap waras atau gila. Mana yang aman atau mengancam. Mana yang santai atau sudah sangat meresahkan. Jelas aku paham.

    Sebut aku bodoh, tapi aku tak sebodoh itu hingga bisa-bisanya kamu dengan sok polosnya bersikap tidak sopan, seolah-olah menganggap semua perlakuanmu (yang seenaknya) termasuk hak untuk menunjukkan kasih sayang.

    Ya, semua wanita suka dikejar, tapi bukan aku.

    Boro-boro senang, aku lebih merasa frustasi, hilang akal, dan emosi atas semua tindakan yang menurutmu wajar, tapi bagiku tidak masuk akal.

    Ketika temanku berkata,"Kamu punya magnet untuk para stalker." Aku pikir itu hanya bercanda.

    Entah apa sebabnya, lambat-laun aku merasa perkataan temanku saat itu benar. Apalagi kejadian-kejadian ini terjadi berulang, dengan tokoh yang berbeda.

    "Sialan, apa aku dikutuk?" Kataku.

    Lagi-lagi, tidak semua wanita menganggap dikejar-kejar sebagai anugerah. Anggap saja aku si manusia langka, satu dari sekian juta milyar wanita yang amat, sangat, teramat risih dikejar-kejar.

    Kamu siapa?

    Bersikap tak manusiawi sampai punya hak untuk mengganggu hidupku yang membosankan. Tidak, kali ini aku sedang tidak sarkas. Aku benar-benar serius.

    Oke, maafkan aku kalau kalimat-kalimat ini menyakitimu. Tapi gimana dong, kesadaranmu sudah hilang. Apa mungkin pindah ke jempol?

    Hakmu untuk menyebut semua tindakanmu sebagai salah satu caara menunjukkan suka atau cinta atau apalah namanya. Tapi hakku pula untuk lebih menyebutnya sebagai cara berburu di hutan rimba. Siapa kuat, dia dapat.

    Kamu, si pemangsa. Dan aku, target mangsamu.

    Kamu memperlakukanku seperti mangsa, yang memang seharusnya diincar untuk makan malam. Tidak peduli apapun caranya hingga buta dengan apapun responku, baik suka ataupun tidak.

    Siapapun kamu, bagaimanapun penampilan dan tetekbengekmu, mau seganteng John Mayer, sekeren Alex Turner, atau sewah Atta Halilintar kalau caramu menurutku salah dan mengganggu ya lama-lama aku muak. Titik.

    Aku cukup sabar di titik mengabaikan. Jika diabaikan saja tidak membuatmu sadar untuk berhenti, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Apa perlu aku labrak? Lalu aku tunjukkan dimana letak nalarmu yang ternyata sudah nyasar ke jempol?

    Sekali lagi, yang aku muak adalah caramu. Bukan perasaanmu. Hakmu untuk memiliki perasaan pada siapapun, tapi kamu butuh sadar bahwa kamu tidak punya hak memaksakan perasaan pada siapapun, terlebih dengan cara yang mulai membuatku tak nyaman dan bulu kudukku berdiri.

    Ya, aku takut jika bertemu pemangsa liar sepertimu. Itu sebabnya, aku lebih suka menjaga privasi dalam banyak hal. Diprivasi saja masih suka diusik dan dikuntit, apalagi kalau terbuka lebar-lebar?

    Oke, aku instropeksi diri saja. Siapa tahu ini memang salahku. Apa mungkin murah senyum tidak selalu baik? Aku mulai lelah kalau ujungnya aku yang menggali lubang sendiri.

    Kalau tidak ramah, dipikir jual mahal. Padahal aku memang tidak berniat menjual apa-apa. Serba repot jadi wanita, kan? Mari bertukar posisi saja. Biar kamu paham posisi dan maksudku.

    Yasudah, aku hanya menuangkan unek-unekku. Terserah, kamu mau membaca dengan seksama atau tetap berdiri dengan pembenaranmu saja.

    Biar tidak berlarut-larut.

    Aku simpulkan saja, aku tutup dengan sebuah lelucon dari temanku yang berbunyi,"Perawakan wanita yang kecil itu membuat laki-laki punya hasrat ingin mengejar, menjaga, dan melindungi." Cukup baca saja paragraf terakhir ini karena semua memang salahku dan kamu, baik perasaan maupun tindakanmu semuanya benar. Lucu kan?

    ---

    NB. Setelah menulis ini, malam-nya aku mimpi buruk tentang si 'penguntit'. Naudzubillah. Kalau seperti ini rasanya mau buru-buru punya suami sebentar saja. Padune ben isoh tak wadulke.

    View Full
  • innaramadani
    01.03.2021 - 10 monts ago

    Dua Tujuh

    Hari ini tepat aku berumur 27 tahun.

    Kok ingat?

    Berterima kasihlah pada google. Haha.

    Tidak, tidak.

    Berterima kasihlah pada adikku dan teman tuli-ku yang tidak pernah lupa tanggal ulang tahunku. Mereka jauh-jauh hari sudah ancang-ancang kok.

    Padahal bagiku hari ulang tahun atau hari apapun itu sama saja. Tidak seperti kata google, tidak spesial sama sekali.

    Tetapi entah kenapa, sedari dulu, lingkunganku (termasuk teman-temanku) hampir selalu memberi kejutan atau setidaknya ucapan ulang tahun padaku. Lihat saja lemariku, penuh dengan boneka, souvenir dan semacamnya. Semua gratis hasil panen tahunan.

    Yahhh, makin tua malah makin malas berurusan dengan 'yang dianggap' spesial-spesial itu.

    Kalau dalam teori konspirasi 27 clubs, semua "tokoh dunia" yang masuk dalam 27 clubs mencapai kejayaannya di usia 27 tahun, seperti Kurt Cobain.

    Lalu kalau menilik pada kehidupanku?

    Boro-boro masa kejayaan, sampai hari ini saja aku masih meronta-ronta.

    Bukan, bukan berarti aku tidak bersyukur. Jauuuuh sekalilah kalau kejayaan dan kesuksesan versi "mereka" dijadikan tolak ukur untuk kehidupanku sekarang.

    Lah, aku siapa?

    Terlepas dari semua pencapaianku sampai hari ini (yang kayaknya juga nggak wah-wah banget), Alhamdulillah aku masih tetap bahagia. Walau kadang sakit-sakitan, capek, jalan sambil ngesot sampai maunya berhenti saja, namun aku masih tangguh dan gagah.

    Tidak perlu wow-wow amat. Takut gampang khilaf, wong imanku suka goyang-goyang kayak balon selamat datang di depan toko cat WAWAWA.

    Justru setiap umurku bertambah, aku merasa perlu melihat sebagaimana kuatnya aku berjalan sejauh ini, hingga entah sampai kapan waktunya aku harus benar-benar berhenti. Waktu manusia terbatas kan? Sedangkan batasku saja aku sendiri tak tahu sampai kapan. Coba tanya Allah.

    Tahun ini pun, aku tidak berharap apa-apa. Aku masih menganggap hari ini sama seperti hari kemarin atau lusa yang akan datang.

    Terlalu banyak berharap juga untuk apa kalau ujungnya tidak diusahakan.

    Sangat realistis bukan?

    Bila diijinkan ngelunjak sebentar, aku mau minta satu hal. Rahasia saja antara aku dan Allah. Misal aku tulis disini, nanti aku jadi menye dan aku tidak suka itu.

    Bukan kekayaan.

    Apalagi pasangan.

    Bukan hal-hal rumit dan muluk yang terlintas dipikiran kebanyakan orang. Walaupun seharusnya aku sudah waktunya memikirkan kerumitan manusia dalam cara berkembang-biak dengan baik dan benar.

    Dorr. Bercanda kok.

    Allah Maha Adil, chill.

    Dibanding fokus pada apa yang belum diraih, fokus pada yang sudah ada dulu saja. Dimanfaatkan dengan waktu sebaik mungkin.

    Disisa umurku ini aku maunya bermanfaat lagi, lagi, dan lagi. Aku cukup dewasa, memilih dan memilah mana yang seharusnya diberi perhatian dan mana yang seharusnya di-lalu-lalang-kan saja.

    Waktu berjalan. Bukan merambat pelan, yang bisa sesekali aku suruh berhenti seenaknya atau aku reverse balik lagi pada waktu tertentu semaunya.

    Fokus pada hal-hal baik, lakukan yang masih bisa dilakukan.

    Yang sudah terjadi, ya sudahlah yaw. Tidak perlu diratapi atau didramatisir terlalu dalam.

    Masih ada Allah, kalau-kalau capek tinggal mengeluh saja. Kalau nggak capek, lah kok koe sangar men?

    Aku hanya ingin bilang pada Allah. Terima kasih sudah memberi Inna hidup yang menakjubkan, maaf kadang masih cengeng dan mau menyerah. Aku yakin Allah tidak pernah salah untuk memilih aku menjalani hidup seperti aku saat ini.

    Terakhir, Ya Allah moga-moga asam lambung jangan sering kumat. Sakitnya itu luar binasa apalagi belum ada yang sayang-sayangin. Eh.

    View Full
  • innaramadani
    19.02.2021 - 11 monts ago

    Ikat (3)

    Maaf. Aku lupa melanjutkan ceritaku bulan lalu. Sebenarnya tidak akan aku lanjutkan, tapi buka draft ternyata tulisan sudah setengah jalan. Mubazir juga.

    Aku adalah manusia biasa saja, yang selalu menekankan diri sendiri bahwa hidup biasa saja tanpa perlu banyak ekspetasi. Bukan sok sangar, hanya malas meladeni diri sendiri yang sudah kepentok sakitnya ekspetasi berlebihan.

    Niat mulia, bukan? Niatnya saja kok. Realitanya masih jauh. Masih saja jadi manusia ngenyel tak tahu diri. Allah sudah beri banyak, maunya minta lebih terus.

    Sejujurnya, aku memang cuek. Sangat cuek. Hampir tidak pernah merasa iri atau dengki pada kehidupan orang lain. Atau bisa dibilang, aku 'cenderung' bodo amat.

    Mau mereka jadi PNS atau punya jabatan prestisius. Sabodo.

    Mau mereka punya mobil berjejer-jejer. Sabodo.

    Mau mereka punya rumah wah kayak punya Syahrini. Sabodo.

    Mau mereka melakukan apapun, bahkan sekedar punya sikat gigi baru pun aku tak pernah peduli. Sedikitpun. Aku hidup bukan untuk mengikuti kehidupan orang lain, kataku pada diriku didepan cermin setiap pagi.

    Iya, aku nyaris tidak pernah iri pada siapapun atau apapun.

    Sampai akhirnya Allah tampar dan ingatkan kalau aku bukan wayang. Aku tidak bisa terus mengatur si aku sesukaku. Aku, manusia biasa. Sudah sewajarnya ada sedikit 'tidak patuh' pada aturan yang aku buat sendiri dan munculah penyakit hati bernama iri.

    Aku ulangi sekali lagi dengan kalimat yang benar. Aku nyaris tidak pernah iri pada siapapun atau apapun, kecuali pada satu hal yaitu ikatan.

    Ikatan apa? Apalagi kalau bukan ikatan tentang hubungan antar manusia, yakali ikatan antar tiang listrik.

    Aku tidak tumbuh dalam lingkungan yang punya ikatan kuat tapi tidak renggang-renggang amat juga sih. Dih gimana gimana maksudnya?

    Sulit menjelaskannya.

    Ibarat tali-temali, simpulnya hanya terikat sekali. Memang terlihat terikat, namun tidak kokoh, tidak ruwet sampai-sampai butuh waktu lama untuk melepas simpulnya. Sekali lihat, siapapun tentu bisa melepas simpul talinya dengan mudah tanpa perlu pikir panjang.

    Ikatan yang mudah "cerai-berai". Itulah ikatan taliku.

    Aku tak pandai mengikat simpul tali dengan benar mungkin karena sering bolos Pramuka sewaktu sekolah dulu. Lalu bagaimana mungkin aku membuat ikatan yang kuat dan kokoh?

    Jelas tidak mungkin.

    Jangan bercanda.

    Ada hal-hal didunia ini yang bisa mereka lakukan, namun kamu tidak akan bisa lakukan. Sampai kapanpun, saat kamu mencoba, akhirnya hanya gagal.

    Gagal bukan karena tidak mau mencoba, tapi memang tidak bisa. Bukan ranah, kemampuan, atau takdirmu. Akui saja. Dipaksakan seperti apapun, ada yang namanya batas-batas yang tidak akan pernah bisa terlampaui.

    Itu yang motivator-motivator bullshit tidak pernah katakan. Mereka bisa lakukan, namun belum tentu kamu juga bisa lakukan. Tidak mutlak semua orang bisa melakukan hal yang sama. Keadaan orang berbeda-beda, kemampuan dan batasan-batasannya juga berbeda. Apalagi takdir tentu berbeda pula.

    Aku sudah belajar membuat ikatan dengan benar kok. Meskipun ujungnya mudah terlepas lagi, lalu ikat lagi, lepas lagi, ikat lagi. Begitu seterusnya. Dengan berbagai macam tali maupun bentuk simpul ikatan. Aku pernah mencoba, hanya hasilnya saja masih mengkhianati usahaku.

    Jika sampai saat ini aku belum bisa mengikat taliku dengan kuat ya sudah mau bagaimana lagi. Anggap saja nasib baik belum berpihak. (Aku bilang belum saja, siapa tahu besok sudah pandai ikat-mengikat).

    Nah, kalau aku terus-terusan belum juga bisa membuat ikatan dengan benar bagaimana ya?

    Hanya sisa opsi terakhir. Cari saja orang yang pandai mengikat.

    Rasanya opsi terakhir jauh lebih sulit. Misal pun bertemu dengan orang yang pandai membuat ikatan, belum tentu orang itu mau repot-repot membuat ikatan yang kuat di taliku. Iya kan?

    Serba repot.

    Mau membuat ikatan sendiri yang kuat, belum juga bisa.

    Mau meminta orang lain membuat ikatan yang kuat, belum juga bertemu. Nah kalau sudah bertemu pun, apa aku masih percaya diri meminta tolong padanya? Atau apakah mungkin dia mau direpotkan dengan membuat ikatan kuat di taliku?

    Tali dengan ikatan yang sampai hari ini pun belum juga bisa diajak kompromi untuk membuat simpul ikatan yang kuat.

    NB.

    Untuk semua yang sudah repot-repot menawarkan mengikat taliku dengan kuat (bahkan tanpa aku minta tolong). Terima kasih ya.

    View Full
  • innaramadani
    06.01.2021 - 1 year ago

    Tolak (2)

    Lanjutan tulisanku kemarin.

    Masih dengan unek-unek yang sama. Ini bagian kedua, mungkin berlanjut sampai tiga episode. Biar menarik seperti sequel film.

    Kalimat "yowes dicoba sek" benar-benar kalimat paling gapleki tahun kemarin, terutama tentang romansa. Alasan klasik karena sudah waktunya, sudah sewajarnya aku memikirkan hal itu, tentang percintaan yang berujung pernikahan. Pemikiran konservatif, kataku.

    Hingga akhir tahun, rasanya aku "terlalu muak" atau orang sekitarku biasa menyebutnya dengan "terlalu banyak melewatkan." Dua kalimat yang berbeda bukan?

    Entah. Sejujurnya, bukan hobiku untuk mengobrak-abrik hati seseorang. Hanya saja, mereka jatuh hati pada orang yang salah. Benar-benar salah.

    Orang yang acuh tentang segala hal hmm aku tidak mau menyebutnya secara spesifik but you know what I mean.

    Ibarat magnet, kutub antara aku dan "hati" selalu searah. Sama-sama kuat. Pasti bentrok. Pasti tolak-menolak.

    Jika banyak orang bilang, tingkatan paling sakit adalah patah hati itu salah besar. Mereka lupa bahwa orang yang mematahkan hati seseorang pun juga tak kalah sakitnya.

    Apa mereka pikir orang itu merasa keren setelah mematahkan hati? Jawabanku tidak.

    Bahkan mereka tak pernah berpikir rasanya menghadapi perasaan amburadul saat berpapasan atau bertemu lagi dengan seseorang yang seharusnya tak pantas diabaikan. Akhirnya bersikap pura-pura, seolah-olah semua sama, dengan kalimat bullshit, "Kita tetap berteman aja ya."

    Kalimat mengesalkan.

    Hingga bagian paling mentok adalah bertanya pada diri didepan cermin.

    Keputusanku benar kan?

    Apa dia baik-baik aja?

    Apa tidak apa-apa?

    Bukan penyesalan. Bukan. Hanya sedikit rasa bersalah meskipun aku merasa tidak salah. HAHA.

    Si egois jelas lantang berkata, salah sendiri repot-repot menyukaiku. Kan aku nggak minta. HAHA.

    Lalu jika mereka pikir menolak adalah hal mudah, justru bagiku menolak adalah hal tersulit.

    Rumusnya tak pasti. Dalam matematika ibarat menolak sebagai bilangan yang dibagi nol, jawaban tak terhingga. Tak terdefinisi. Tak tentu.

    Hasilnya benar-benar "tak jelas".

    Persingkat saja dengan dua pilihan, tak jelas mau jadi teman lagi atau mau jadi orang asing lagi.

    Alhamdulillah, tanpa kalimat bullshit diatas, setidaknya aku masih bersikap biasa saja. Akunya ya...

    Misal pun pihak "lawan" menarik mundur, aku tak terlalu ambil pusing. Mungkin lebih baik begitu. Mundur saja jika terlalu sulit berdampingan sebagai teman. Tak perlu dipaksakan.

    Aku selalu menganggap itu sebagai timbal-balik dari kebebasanku untuk tak memaksakan hatiku pula. Feel free. Anggap saja win win solution.

    Hati patah, pertemanan juga patah.

    Kamu kehilangan hatimu yang utuh, aku kehilangan temanku yang baik. Adil kan?

    Tapi seingatku, aku belum pernah di tahap saling terasing. Seringnya tetap kembali berteman. Seingatku ya.

    Ingatlah.

    Aku hanya keras kepala. Bukan keras hati.

    Meskipun aku tak bisa berteman baik dengan hati, namun si hati tetap disana. Duduk tenang sambil sesekali menghela nafas panjang seolah mulai bosan diabaikan. Tetapi tetap enggan beranjak kok. Masih ada dan tetap disana, dipojokan, tak terjamah.

    Akan tiba saatnya nanti aku hampiri dia. Entah kapan.

    Besok aku tanyakan pada Allah, kalau tidak lupa sih.

    Sementara saat ini (detik aku menulis ini) kutubnya masih sama. Sama-sama negatif. Ya sudah, tolak.

    Eh.

    Jika abai tak mempan, apa "tolak" masih menjadi senjata cadanganku? Nggak tahu deh kalau besok atau lusa.

    NOTE.

    Jika setelah membaca tulisan ini, berakhir pada kesimpulan bahwa aku skeptis tentang bau-bau romansa. Maka, pikiran itu sesat. Aku tak seskeptis itu kok.

    Berlanjut besok saja, ditunda dulu jawabannya karena aku mau tidur. Kan kata Dokter, jam tidurku harus kembali normal. (Kakehan alesan deng, asline kesel ngetik).

    Bye!

    View Full
  • innaramadani
    05.01.2021 - 1 year ago

    Abai (1)

    Hai.

    Sebenarnya aku tidak terlalu suka membicarakan perihal privasi, terutama tentang romansa. I keep my private life private. Aku tidak mau hidupku dipenuhi romansa saja atau diromantisasikan secara berlebihan.

    Akan tetapi aku tulis saja salah satu. Setelah ke-trigger suatu kejadian. Siapa tahu bisa jadi kenang-kenangan. Sebab ingatanku tak baik, bukan hanya tentang perkara ini saja kan?

    Alhamdulillah jika banyak orang harus susah payah untuk melupakan, bagiku tak perlu usaha lebih untuk sekadar lupa.

    Ingat slogan egoisme-ku.

    Yen aku lali, berarti ora penting.

    Tidak, tidak kok.

    Maksudku aku ceritakan disini, biar sesekali aku terlihat seperti manusia normal. Yang punya akal, sekaligus hati. Yang tidak melulu dikira lesbi saking tidak tertariknya aku dengan tetek-bengek permainan bersama hati. Yes, I'm not gay. Period.

    Tulisan ini tidak pula untuk menunjukkan "wah", bukan suatu kebanggaan menjadi sumber "malapetaka" orang lain. Hanya saja, siapa tahu kelak sebagai pengingat bahwa aku (pernah) terlalu memuakkan hingga tak bisa berteman akrab dengan hati siapapun.

    Aku sering heran dengan diriku sendiri. Menurutku, yang paling ribet adalah memahami diri sendiri yang sudah terlahir se-menyebalkan begini.

    -----

    Mereka bilang, ditolak itu rasanya sakit. Bagiku, justru saat menolak itu lebih menyakitkan.

    Mungkin?

    Aku meyakini itu bukan karena aku tidak pernah ditolak (seingatku) hingga tidak tahu rasanya ditolak dan mengambil kesimpulan bahwa "ditolak tidak sesakit itu".

    Justruuuu karena aku diposisi "menolak" dengan jelas aku bisa melihat bahwa memang "ditolak sesakit itu".

    Jika sulit dipahami. Mari aku jabarkan dengan analogi sederhana.

    Bukankah kita akan jauh lebih merasa sakit apabila melihat orang sakit atau sekarat sedangkan kita pada posisi tidak bisa menolong mereka? Kita hanya bisa melihat dan tidak bisa berbuat apa-apa saat mereka menghadapi rasa sakitnya dan butuh pertolongan. Apalagi saat kita sadar bahwa kita menjadi penyebab sakitnya. Mendekat pun hanya menambah derita bukan? Elah.

    Lalu yang bisa kita perbuat hanyalah tenang dan diam, sambil menelan sakitnya "tak berdaya" dan berusaha bersikap seolah semua pada akhirnya akan (tetap) baik-baik saja.

    Aku termasuk cuek dan bodo amat, tetapi tidak serta-merta membuatku menjadi tak manusiawi. Sejujurnya aku paling lemah dengan kata kerja yang berhubungan dengan "menolak".

    Oleh karena itu, daripada repot dan pusing, aku lebih suka mengabaikan. Ambil jalan pintas saja.

    Tanpa perlu dijelaskan pun, tentu mereka paham maksud diabaikan seperti apa. Manusia punya akal, kan? Meskipun mereka sedang bermain hati, terkadang perlu diingatkan bahwa mereka juga masih berakal.

    Lambat-laun, kalau akal mereka lebih dominan bekerja, kalau mereka mulai sadar, dan kalau mereka capek, pasti mundur perlahan.

    Kalau sudah mundur?

    Aku tidak ingin tahu dan tidak mau tahu. Begitulah aku.

    Abai adalah nama tengahku.

    Besok dilanjut... Capek.

    View Full
  • innaramadani
    03.01.2020 - 1 year ago

    Madu Pahit

    Tepat awal tahun ini, tanggal 1 Januari 2021, Mbak Nurul bilang kalau dia mulai merantau.

    Lalu hari ini, 4 Januari 2021 dia akan mulai hari-hari barunya di Kota yang bahkan sebelumnya tidak aku atau dia pikirkan.

    Terdengar sedikit galau memang.

    Aku mengenal Mbak Nurul hampir setengah dari usiaku. Sedikit lupa, mungkin sekitar kelas 2 atau 3 SMP. Jujur saja, sangat sulit bertemu manusia yang punya pemikiran dan sifat sepertiku. Tetapi Allah tidak tinggal diam, aku akhirnya dipertemukan dengan Mbak Nurul. Apakah Allah kasihan kala itu? Entah, yang pasti sampai hari ini salah satu hal yang paling aku syukuri adalah pertemuanku dengannya.

    Manusia yang 2 tahun lebih tua dariku, yang terkadang aku panggil Nurul saja, tanpa Mbak.

    Dasar ngelunjak, katanya.

    Manusia yang entah kenapa dari segi pemikiran hampir selalu sama denganku. Seperti panah yang menancap, tepat, tidak meleset sedikit pun.

    Saking seringnya kita sependapat, aku jadi merasa dia kembaranku. Kembar bukan dari segi wajah dan penampilan, namun kembar dalam cara berpikir. Namanya manusia kembar pun belum tentu memiliki cara pikir yang sama, kan?

    Manusia yang punya tingkat fast respon tidak jauh lebih parah dariku. Chat detik ini belum tentu langsung dibalas, bisa berjam-jam setelahnya atau sehari selanjutnya. Kecuali, sedang curhat kan sama-sama online. Dan tentu aku tetap menikmatinya, tanpa acara ngambek sedikitpun.

    Selayaknya manusia kembar, tentu ada bedanya.

    Begitu pula aku dan dia.

    Sifat kami berbeda. Aku sembarangan, dia planner sejati. Repot kalau pergi agak jauh dengannya. Menonton konser di Jakarta, misalnya. Aku cukup bawa satu tas, dia? Segala cemilan satu kresek dibawa, berasa anak SMP yang sedang ikut piknik sekolah.

    Paling berkesan kalau sedang nongkrong. Aku anak yang bedugal, suka seenaknya. sedangkan dia anak yang sangat-sangat rumahan, penurut, dan terkesan "dimanja". Pulang tepat sebelum jam 10 malam, kalau ngenyel ya kita (tepatnya, aku si teman nongkrong) yang jadi sasaran empuk Ibunya. Sampai-sampai aku simpan nomer Ibunya dengan nama "Calon Mertua" saking "wah keren"-nya.

    Everything gonna be change.

    Semuanya akan berubah.

    Kemarin aku kerumahnya sebelum dia berangkat.

    "Aku jek ora percoyo."

    "Aku mau nangis pas pamitan karo kucingku."

    Dan kalimat-kalimat seolah haru lainnya.

    Sungguh lompatan yang ciamik. Seorang Nurul Hasanah bisa-bisanya meninggalkan rumah cukup lama dan menjadi anak kost.

    Kalau dibilang sedih, ya tentu tidak mungkin.

    Aku lebih merasa bahwa ya sudah memang seharusnya begitu. Ini salah satu cara Allah supaya dia belajar mandiri, dan juga supaya aku tidak terlalu bergantung padanya. Wkk.

    Tahun lalu aku sering bilang,"Ra popo ana Corona ngajari dewe jarang ketemu, ben terbiasa."

    Lalu awal tahun dia merantau. Seperti ramalan saja, bukan?

    Lagi-lagi, setengah umurku ada kamu sih.

    Oiya, aku memberinya madu pahit dan notes. Lupa aku foto karena buru-buru.

    Inti notes-nya berisi:

    "Mungkin bariki koe bakal ngerasa luweh "'paet'. Tapi seenggake uripmu ora bakal luweh paet saka madu iki. Biasakanlah. Diminum 1x sehari kalau kangen aku."

    Begitu intinya, sedikit lupa tatanan kalimatnya.

    Kenapa madu pahit?

    Karena aku dan dia pernah berbincang tentang ini. Aku bilang sekarang biasa minum madu pahit dan Mbak Nurul merasa heran karena menurutnya madu pahit ya benar-benar sangat pahit.

    Terlepas dari banyak khasiatnya. Daripada aku menjelaskan fafifu, sekarang aku ingin dia mencobanya sendiri. Mencoba merasakan "sensasi asli" madu pahit.

    Mungkin, dia akan paham kenapa aku belajar "menjadi" terbiasa meminumnya.

    Sekali-kali perlu merasakan pahit, biar paham betul bahwa "rasa" itu bukan hanya manis saja. Ya, rasa manis adalah rasa paling favorit untuk semua orang yang justru berbahaya saking candunya.

    Manis tidak selamanya baik. Begitu pula pahit tidak selamanya buruk.

    Seperti madu pahit, bukan? Menurutku, madu pahit memiliki perpaduan rasa yang pas.

    Disaat terasa manis, tak lupa juga diingatkan tentang rasa getir pahitnya. Mirip kehidupan.

    Jadi biasakanlah.

    Semoga Allah permudah segala urusanmu disana, Mbak. Kamu orang baik kok, pasti dipertemukan dengan orang-orang baik. Ada aku disini, mangan gedang karo ngekek-ngekek nyawang koe sing ajar mlaku dewe. Chill!

    Bonus foto luamaaa.

    View Full
  • innaramadani
    01.01.2020 - 1 year ago

    1 Januari 2021

    Solo kembali hujan deras. Awal tahun aku bangun kesiangan, bukan karena perayaan begadang akhir tahunan. Maunya tidur nyenyak, tapi duh asam lambung kumat. Sakitnya minta ampun.

    Tahun kemarin, sebenarnya aku punya banyak sekali target. Alhamdulillah, sebagian terlaksana dan sebagiannya lagi menguap entah kemana.

    Awal tahun ini, aku menuliskan lagi target tahunan. Bukan sok terorganisir, aku hanya pelupa. Tanggal ulang tahun sendiri saja sering lupa, apalagi list-list target tahunan.

    Lagipula aku ingin banyak belajar lagi. Kalau dibilang aku belum matang. Belum musimnya berpuas dan senang-senang. Ibarat sirkaya, aku mau semakin matang hingga membusuk di pohon saja. Tidak diusik orang dengan ekspetasi mereka.

    Dasar keras kepala.

    Namun rasanya aku cukup bahagia dengan menjadi aku yang seperti ini.

    Tidak melulu memenuhi ekspetasi orang lain, bahkan orang tuaku sendiri.

    Meski aku menulis banyak target tahunan, aku juga tidak terlalu memikirkan kok. Sekenanya saja daripada terlalu mematok target yang harus terlaksana malah menyiksa. Aku bukan kuda penurut, bahkan untuk menuruti keinginan diriku sendiri saja kadang ogah-ogahan.

    Lain kali aku akan bercerita tentang hal-hal yang sedang atau akan aku pelajari. Belakangan aku merasa malas menulis di Tumblr, tidak aman.

    "Mbak, Mas e kae nganggo Converse loh," kata teman baruku yang entah tahu darimana tentang kesukaanku dengan Converse.

    Sialan, jangan-jangan baca Tumblr-ku.

    Jadi, diskon shopee kemarin aku beli buku catatan baru. Bukan diary kok, hanya buku catatan biasa yang nantinya akan jadi teman baruku. Setidaknya disana aku merasa aman berkeluh-kesah dan mbacot, termasuk tentang target tahunanku.

    Kan sudah aku bilang, kalau jadi buah, aku mau jadi sirkaya saja. Besok akan aku ceritakan tentang sirkaya.

    Oiya, aku tidak merayakan tahun baru. Untukku, tahun baru hanya ganti kalender saja. Toh, hujan hari ini tetap sama dengan hujan tahun kemarin. Apa bedanya selain tahun yang berganti?

    Kalian tetap kerja seperti biasa, makan dengan lauk biasanya, dan tidur dengan kasur yang biasanya juga.

    Tahun baru yang kata orang-orang penuh resolusi paling hanya digaungkan awal tahun saja, selebihnya menguap seperti air yang mendidih terlalu lama.

    Yang aku suka dari tahun baru hanya evaluasiku dengan memulai list ulang keinginan baruku yang ingin aku laksanakan. Walaupun aku anak yang sembarangan, lagi-lagi aku ingin hidup sebaik-baiknya dan menjadi manusia yang bermanfaat.

    Tak perlu menonjol, yang penting dengan adanya aku didunia ini tidak hanya menghabiskan oksigen gratis saja. Sayang, jika aku nantinya mati dengan mubazir. Hingga Allah merasa menyesal membuatku hidup. Wkk.

    Sudah ya. Aku banyak kerjaan. Banyak buku yang terbengkalai belum aku baca tahun kemarin, mungkin baiknya aku puasa media sosial lagi.

    Aku menulis ditemani Mbak Taylor Swift dengan album barunya yang folk-able dan cocok didengarkan dikala hujan seperti ini.

    View Full
  • innaramadani
    27.12.2020 - 1 year ago

    Andin Ikatan Cinta

    Beberapa waktu lalu, aku potong rambut.

    Setelah sekian abad karena takut corona, aku mengabaikan rambut panjangku (yang sebenarnya pun kalau kata Balqis, rambutku ya nggak panjang-panjang amat).

    Mau gimana lagi, seumur hidup jarang banget atau malah nggak pernah memanjangkan rambut. Powwl paling seleher, itupun menurutku sudah terlalu panjang.

    Aku tipe cewek yang males ribet dan bagiku rambut panjang salah satu dari sumber keribetan dunia.

    Mesti butuh perawatan khusus, rajin keramas, kalau nggak bisa lepek dan apek. Belum lagi kalau keringat mengucur deras, haduh membayangkannya saja sudah risih.

    Benar-benar risih. Ditambah kulitku sensitif (elah) kalau sudah berkeringat terus-terusan gampang gatal, terutama bagian leher. Jadi mending, botak sajalah.

    Pernah saking nggak mau ribetnya, aku bilang ke Ibuk,"Buk, kalau aku botak boleh nggak? Kan jilbaban, nggak kelihatan juga."

    Jawabnya,"Ra sisan ganti kelamin?"

    Sial.

    Back to topic.

    Akhirnya aku potong rambut didekat rumah, anggap saja tetangga. Dengan riangnya si tukang cukur, yang kebetulan aku kenal juga, panggil saja Bude Sutini.

    Beliau menyambutku dengan senyum selebar buah semangka. Seperti telah ada chemistry yang mengikat Romeo dan Juliet dalam sekali pandang, tanpa aku bicara panjang-lebar maksud kedatanganku, beliau tampaknya paham.

    "Mau potong rambut to? Tak model Andin Ikatan Cinta wae ya."

    "Niku sinten?" Jawabku sopan dong.

    "Haduh, sing lagi tren kui loh. Wes pokoke jos."

    "Yawes, manut aja." Jawabku sekenanya karena lagi-lagi malas ribet. Yaampun.

    Beliau memotong rambut sambil mengajak bergosip seolah-olah aku peduli dengan berita-berita sekitar. Alhamdulillah, pernah kuliah di Komunikasi jadi paham betul bagaimana cara membangun komunikasi yang baik. Dari bicara tentang isu berat Corona sampai sereceh senam aerobik kampung yang berisi Ibuk-Ibuk penuh kewibawaan.

    Meskipun harus dengan kepura-puraan. Berlagak antusias saja.

    "Uwes selesai, apik to?"

    Aku yang menatap kaca sambil mengernyitkan dahi. Sedikit syok.

    "Kayake sing jenenge Andin i anake Alam Mbah Dukun," bantinku.

    Aku tersenyum lalu menjawab,"Josss!" Dengan tangan mengepal penuh tekanan kuat, mirip-mirip caleg lagi orasi visi-misi sambil bagi sembako.

    Aku pamit dan tak lupa aku bayar dong.

    Sesampainya dirumah. Hal pertama yang aku lakukan adalah browsing.

    Who is Andin Ikatan Cinta?

    And the answer is...

    Woalah koe toh Din Andin, jebul modelanmu kaya ngono.

    Sampai aku save di galeri HP untuk kenang-kenangan.

    Mana mirip?

    Bude budeee Sutinii, bar delok raiku sing bar potong rambut neng pikiranku malah ora kaya Andin Ikatan Cinta. Neng luweh mirip Alam Penyanyi Dangdut.

    Mari aku beri petunjuk dengan ini...

    Aku juga save screenshoot-nya.

    Lebih jelasnya. Mari kita sandingkan dan lihat perbedaannya...

    Maunya sumpah serapah, tapi percuma, sudah terlajur. Jadi bawa santai aja. Toh, aku pakai jilbab. Mau rambut kaya Alam Penyanyi Dangdut atau alam ghaib juga nggak masalah.

    Menurutku, tapi...

    Lain dengan Ibuku. Ngomel-ngomel hampir 2x24 jam dibahas terus, layaknya malaikat Atid yang mencatat sebuah dosa besar tak terampuni. Kaya o anake dadi koruptor wae.

    Aku malah menganggap ini sebuah lelucon. Sesantai itu akutu. Apa-apa ngga mau ribet, yang sudah terjadi yasudah.

    Btw aku cerita ini ke teman-temanku di group whatsapp, lalu reaksine luweh gapleki.

    Segaple opo? Iki jawabane...

    Sempet-sempete dieditke merga aku wegah ngirim foto rambut anyarku. Alangkah gaplekinya.

    Sudah cukup rasa sakitnya, diguyoni wae.

    Terima kasih, akhir tahun rambutku baru!

    Ora kudu kaya Andin Ikatan Cinta, wes tak terimo kaya Alam Penyanyi Dangdut yo rapopo.

    Aku posting semua saja. Tanpa rasa malu. Sebagai kenangan kalau aku pernah segoblok ini di akhir tahun 2020.

    Tanpa tahu siapa modelnya, yayo-yayo wae.

    Setidaknya sekarang pengetahuanku bertambah, aku jadi tahu siapa itu Andin Ikatan Cinta. Pelajaran baru di akhir tahun.

    Saatnya menyambut tahun baru dengan penuh harap dan semangat menggebu sebagai Alam Penyanyi Dangdut!!!

    Bruuurrrr!

    NB:

    Kata Mba Tiwik (setelah kerumahmu dan melihat rambut baruku), model rambutku nggak mirip-mirip banget Alam sih, mungkin aku yang terlalu mendramatisir. Ya, karena aku cuma tahu model rambut Bob seperti itu ya cuma punya Alam Penyanyi Dangdut.

    View Full
  • innaramadani
    24.12.2020 - 1 year ago

    Tulisan Singkat di Bulan Desember

    Ada yang bilang, akhir tahun jadi penentu.

    Apa rancangan keinginan jadi nyata atau hanya berakhir lembar-lembar semu yang (lagi-lagi) akan berlanjut tahun depan?

    Setidaknya sepanjang tahun masih terlewati dengan gagah,

    meski kadang harus mencari-cari bahkan menyerok-nyerok remahan semangat yang entah tercecer dimana.

    Sulit ditemukan, bukan berarti hilang dan lenyap, kan?

    Hanya butuh usaha lebih, katanya.

    Bahkan sekadar mengeluh pun mulai enggan. Bukan sok kuat, lah wong mengeluh juga butuh usaha.

    Terlalu banyak mengusahakan,

    hingga lelah,

    muak dan mau muntah.

    Sudahi dan terima saja.

    Mungkin, buruknya jalanan tahun ini pertanda manusia memang makhluk lemah.

    Ibarat jalan pulang penuh kerikil tajam, ditambah polisi tidur tiap satu meter. Membayangkan saja sudah geram.

    Mau tidak mau,

    suka tidak suka,

    tetap harus lanjut untuk pulang kan?

    Jika perlu keluar dari kendaraan, berjalan kaki, sambil sesekali beristirahat.

    Siapa tahu mata lebih leluasa memandang sekeliling, tidak terfokus hanya pada titik-titik jalan yang rusak.

    Yang rusak biarlah Tuhan yang urus.

    Kita manusia, ambil nikmat sebisanya saja.

    Kalau kurang nikmat, yaudah sini ngeteh bareng.

    Dari,

    yang paling muak dengan kalimat "yowes dicoba sek".

    View Full
  • innaramadani
    29.11.2020 - 1 year ago

    Arti Bahagia, menurutku.

    Malam ini, sebelum tidur, lagi-lagi aku berbincang dengan Ibuk.

    Hampir setiap hari, aku dan Ibuk ada perbincangan sebelum tidur. Bukan sebuah kewajiban, namun terkadang aku merasa kegiatan ini adalah kebutuhan pokokku saja.

    Aku jabarkan percakapan kami dalam bahasa campur saja, malas menulis dua kali dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia.

    Pembahasan tentang kenapa aku dan Masku selalu ingin mengajak Ibuku jalan-jalan, terutama ketika ada waktu dan rezeki lebih.

    Contohnya hari ini. Masku mengajak kami sekeluarga jalan-jalan, lagi. Kami sering jalan-jalan sekeluarga dan tentu dianggap Ibuku sebagai dana pengeluaran yang bocor, apalagi di masa (yang terlihat) sulit ini.

    Iya, Ibuku hampir selalu menyuruh kami (aku dan Masku) hemat. Demi masa depan, katanya.

    Lalu aku jelaskan panjang lebar, selagi Ibuk masih ada dan anak mampu ya nggak masalah. Masa harus tunggu aku sukses dan punya banyak uang dulu, baru bisa membahagiakan Ibuk apalagi hanya sekadar jalan-jalan.

    Waktu nggak bisa menunggu, takutnya menyesal. Entah, Ibuk yang semakin tua dan tidak kuat jalan-jalan lagi atau aku yang tidak diijinkan Allah punya umur panjang.

    Langsung Ibukku menyentak,"Hus ora, durung waktune. Koe durung seneng-seneng."

    Jawabku,"Aku udah cukup bahagia kok."

    Mungkin, karena Ibuk pikir bahagiaku belum sempurna jika aku belum punya pasangan dan berkeluarga alias menikah.

    Baik mari aku jabarkan.

    Alasan aku merasa cukup bahagia, bahkan ketika menurut sebagian orang (diluar sana) hidupku (seharusnya) masih jauh dari bahagia.

    Aku bukan pegawai swasta berpangkat apalagi pegawai pemerintah yang (katanya) terjamin masa depannya.

    Bukan juga wiraswasta yang bisa dipanggil bos dan patut di-wah-kan. Boro-boro bos, jam kerja dan penghasilanku saja tidak menentu. Aku menjadi bos untuk diriku sendiri. Kalau mau kerja, ya kerja. Kalau capek, ya sudah libur, istirahat. Pokoknya, sama sekali tidak prestisius dengan jaminan jangka panjang.

    Untukku bahagia nggak harus mesti sukses dan punya banyak uang dulu. Bahagia nggak harus mesti punya pasangan dulu. Dan bahagia nggak harus banyak alasan lainnya.

    Aku sudah merasa cukup bahagia. Benar-benar cukup.

    Ketika tanggal kontrol, aku bisa langsung mengantar Ibuk ke dokter. Bahkan tanpa harus ribet birokrasi hanya demi pelayanan kesehatan yang layak dan baik. Atau ketika Ibuk bilang mau makan sesuatu yang dipengen, aku bisa bilang,"Bentar, aku pesankan lewat Grabfood, Buk."

    Ketika sepatu Babeku rusak atau lensa kacamatanya tidak pas sampai-sampai memakainya pun tulisan masih terlihat buram. Aku bisa langsung bilang,"Besok kita beli yang baru, Be."

    Ketika adik-adikku (ponakan) kepengen jajan, aku bisa ajak meraka ke Sinder (toko semacam Alfamart mini dekat rumahku) sambil berkata,"Ambil aja yang di-mau asal dimakan dan nggak mubazir."

    Ketika tetanggaku bingung mencari baju ukuran besar yang pas dibadannya atau khimar yang sesuai bajunya. Aku masih dimampukan bilang,"Aku ada barang dagangan dirumah (biasanya sisa cancel customer). Ambil aja yang sekiranya cocok."

    Atau ketika aku beli bakso goreng di depan rumah, lalu ada anak tetangga bergerombol. Lagi-lagi, aku masih diberi kemampuan bilang,"Kalian mau bakso goreng? Biar sekalian sama punyaku."

    Atau sesepele pulang dari nongkrong, aku masih dimampukan bilang,"Parkirnya udah sekalian sama punyaku tadi."

    Dan untuk semua hal-hal sepele yang masih dimampukan lainnya.

    Aku kurang apa? Aku sudah cukup bahagia dengan keadaan-keadaan seperti itu.

    Cukup sederhana, kan?

    Aku nggak perlu kaya.

    Aku nggak perlu punya banyak uang.

    Aku (saat ini) nggak perlu pasangan.

    Tidak apa. Sudah dicukupkan dan dimampukan saja, aku bahagia.

    Sesederhana itu.

    Uangku nggak banyak kok, yakin deh. Hanya saja, kalau sudah cukup dan bisa dibagi ya dibagikan saja yang seadanya.

    Dibagi dalam banyak rupa. Sesederhana mungkin tak masalah.

    Semampunya. Yang jelas, tidak harus tunggu untuk jadi 'wah' dan prestisius dulu.

    Waktu itu egois. Jangankan menunggu, tanpa sadar, saat ini saja waktu terasa berjalan lebih cepat setiap harinya.

    Seadanya saja. Secukupnya saja. Sesuai kemampuan.

    Bahagia tidak butuh banyak alasan. Bahagia itu berasal dari diri kita sendiri. Tidak bergantung materiil, barang, jasa, atau bahkan manusia lainnya.

    Lalu, sudah bahagiakah hari ini?

    View Full
  • innaramadani
    21.11.2020 - 1 year ago

    Apa nggak capek?

    Jawabannya....

    Capek.

    Bosen nggak aku mengulang kata yang sama terus-menerus selama setahun?

    Dari Januari sampai saat ini hampir habis Bulan November, keluhannya sama woyy.

    Aku-nya bosen, tapi si capek ini nggak capek dan nggak bosen-bosen nemplok terus.

    Mirip-mirip manusia yang sedang jatuh cintalah, maunya nempel terus serasa nggak ada kerjaan lain.

    Si capek yang menyebalkan.

    Seusai Subuh ini aku ngobrol dengan Allah dan aku bilang,"Ya Allah aku capek terus-terusan capek."

    Aneh, kan?

    Mungkin kalau aku ngobrol sesama manusia bakal bingung respon seperti apa, iki karepe menungso iki piye. Paling cuma dijawab, mongopok.

    Tapi kan aku ngobrolnya sama Allah, pendengar terbaik di dunia. Jelas responnya lain.

    Aku yakin jawabnya: Tenang, biar AKU yang atur, kamu tenang, yutuban apa ngeteh dulu aja.

    Wkwkwkwkkkwk.

    Yowes, mending aku yutuban.

    Makin tua, makin yoweslah.

    Biar hidup lebih tenang dan gampang bahagia.

    Toh, hidup yang dicari apa?

    Pengennya cari kekayaan yang buanyakk. Haha. Canda dong.

    Hidup yang penting prosesnya, bagaimana menjalaninya. Mau hasilnya seperti apa, jangan terlalu dipikir ribet.

    Kalau terlalu dipikir, malah stagnan ndeprok disitu sampai asam lambung naik.

    Kadang ketakutan dan keribetan tentang hidup hanya berakhir di pikiran saja. Belum tentu terjadi.

    Yang toxic terkadang ya pikiranmu sendiri. Saking toxic-nya bikin susah.

    Jadi kalau aku capek, ya mengeluhlah. Manusiawi, nggak apa-apa.

    Cuma, kalau bisa, seharusnya mengeluh di tempat yang tepat. Mengeluh dengan Tuhan, misalnya.

    Kenapa?

    Karena mengeluh dengan manusia lain pun sama saja. Percuma. Temanmu atau siapapun disekelilingmu pun punya keluhan sendiri.

    Rasanya egois menimpalinya lagi dengan keluhanmu. Double attack, namanya.

    Sekali-dua kali mungkin nggak apa-apa, apalagi kalau ia manusia super peduli dengan sesama. Tetapi mau sampai kapan?

    Padahal, hidup itu ya tempatnya mengeluh dan bersusah. Masa seumur hidup mau mengeluh di kuping tetangga?

    Lagi-lagi, kembalikan pada yang LEBIH mampu dalam segala hal.

    Tempat curhat ternyaman yang pernah ada, selain kuping Ibuk, ya siapa lagi kalau bukan Allah?

    Seusai sholat, luangkan waktu bercerita tentang semua keluhan. Semuanyaaaa.

    Seringnya, manusia saja yang tak punya waktu untuk bercerita hingga akhirnya meratapi sendiri, susah sendiri. Ribetnya dibikin sendiri.

    Jelasss Allah selalu ada. Kapanpun, dimanapun, saat apapun.

    Kitanya saja yang sok sibuk. Manusia nggak tau diri.

    Giliran ngobrol atau nggosip sesama manusia. Dari sebelum Maghrib sampai tengah malam punya waktu.

    Lagian mengeluh dengan sesama paling jawabannya seklise "yang sabar ya". Bahasa gaulnya semacam toxic positivity.

    Jangan bilang aku terlalu skeptis.

    Woh, tidak.

    Aku hanya mencoba meletakkan Allah dalam prioritas tempat keluh kesahku.

    Mungkin dari setiap keluhan, kecapekan, keruwetan hidupku tidak langsung terjawab.

    Eh tapi yang aku butuhkan ya tempat bacot saja. Biar lega.

    Didengarkan saja sudah cukup.

    Perkara mendapat jawaban maupun pertolongan dari segala keluhanku anggap saja bonus.

    Sttt, wong tanpa dimintapun Allah pasti beri bonus kok. Selalu.

    View Full
  • innaramadani
    18.11.2020 - 1 year ago

    Cahaya Senter

    Yang haram, bukan berarti harus dibenci, kata Emha Ainun Nadjib atau biasanya dikenal dengan Cak Nun.

    Sudah berulang-kali, perkataan-perkataan beliau mengendap di otakku tanpa sengaja. Termasuk kalimat pembuka tulisan ini.

    Semakin banyak orang merasa bahwa apa yang haram berarti 'harus dibenci'. Padahal, menurut Cak Nun itu belum tentu benar.

    Apakah babi itu haram? Tentu tidak. Babi tidak haram kalau diajak jalan-jalan atau tidur bersama, tetapi babi menjadi haram kalau dimakan.

    Begitu jelasnya.

    Konteksnya berbeda, kan?

    Ya, begitulah. Manusia sukanya instan. Apalagi jaman sekarang dari judul berita saja sudah menyimpulkan isinya.

    Ada lagi satu cerita teman yang aku ingat.

    Temanku (kebetulan muslim) bercerita bahwa hanya karena posting foto anjing peliharaannya saja lalu beruntun muncul komentar 'penghakiman', dari haram untuk dipelihara hingga betapa najisnya binatang tersebut.

    "Tanpa mereka bilang pun, aku tahu anjing itu haram. Tapi yang mereka ngga tahu adalah saat dulu aku ngga punya siapa-siapa, merasa sendirian, justru yang mereka bilang haram itu tetap setia di sampingku."

    Begitu inti pembicaraanya denganku kala itu (neng nganggo boso jowo loh).

    Kadang manusia lebih cepat menghakimi tentang sesuatu, ya?

    Kecepatannya mungkin tinggal sekali klik tombol senter yang seketika memancarkan cahaya, menembus ruang kosong dan gelap. Seolah pancaran cahaya senter memenuhi semua sudut ruangan tersebut. Padahal tidak. Cahaya senter hanya fokus pada titik tertentu dan tidak menyeluruh.

    Lalu bagaimana sudut-sudut ruang yang masih gelap yang tidak terkena cahaya senter?

    Itulah kemungkinan-kemungkinan lain dari 'penghakiman' mereka.

    Bukan hanya satu sudut, bisa saja banyak sudut yang masih gelap. Sebanyak itu pula kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja ada diluar 'pikiran' mereka.

    Komentar-komentar mereka yang menjurus pada penghakiman tentang halal atau haram hanya dari sebuah postingan rasanya tidak tepat, seperti cahaya senter yang hanya fokus pada satu titik.

    Bukan, bukan karena dia adalah temanku ya lantas aku membela apapun yang dilakukannya, termasuk tentang anjing peliharaannya.

    Oke, misalpun kita anggap komentar mereka benar. Lalu apa pantas mereka (apalagi jika mereka sesama muslim juga) berkomentar seakan berniat 'menasehati' di kolom komentar secara publik?

    Oh tentu tidak.

    Adab seorang muslim untuk menasehati adalah diam-diam, hanya diantara dua orang (si penasehat dan pihak yang dinasehati). Tidak terbuka hingga semua orang bisa melihat dan tahu. Kalau secara terang-terangan, terbuka ke khalayak umum namanya mempermalukan, bukan menasehati.

    Lagipula, aku siapa? Berhak menghakimi halal dan haram hanya dari sekali pandang.

    Jikalau pun hukum halal dan haram mutlak, bukan berarti kita berhak 'mengajari' setiap orang tentang hukum tersebut, apalagi bukan orang terdekat.

    Nah, masalahnya banyak orang (merasa) 'lebih berilmu' hingga merasa berhak memberi pelajaran kepada orang lain, terutama kepada orang yang 'terlihat' kurang ilmu.

    Seolah-olah ilmu yang dimiliki memang diwariskan untuk memberi pengajaran dan pelajaran pada orang lain.

    Secethek "aku luweh mudeng, makane koe tak kandani, manuto".

    Lah koe sopo? Nabi?

    Haduh.

    Aku miskin ilmu. Jadi rasanya aku tidak pantas memberi label halal dan haram tindakan seseorang secara mutlak.

    Takutnya, cahayaku hanya sebatas cahaya senter. Kecil, terfokus, dan tidak menyeluruh. Lantas mengabaikan sudut-sudut gelap lain yang tidak terjamah cahaya senterku.

    Kecuali, cahayaku sebenderang cahaya Nabi dan Rosul yang mutlak kehadiran dan ilmunya untuk mengajarkan seluruh umat.

    Eh tapi, Nabi dan Rosul berhak menghakimi enggak ya? Hihi.

    Yowes rasah spaneng, ndak darah tinggi.

    Dipikirkan besok lagi, kalau tidak malas.

    View Full
  • innaramadani
    12.11.2020 - 1 year ago

    Hantu Sesungguhnya

    Aku tidak bisa tidur seperti biasa. Padahal sudah lewat pukul 12 malam. Niatnya, mau hidup sehat. Bangun pagi, rajin olahraga (belajar senam via online aja sih), lalu tidur teratur. Iya, teratur sebelum jam 12 malam.

    Sudah berjalan hampir seminggu dan berhasil.

    Harusnya.

    Tapi entah hari ini mulai ngaco lagi.

    Hmm.

    Akhirnya aku menonton jurnal Cak Nun saja.

    Kalian tahu aku cinta setengah mati dengan Cak Nun? Cukup cinta setengah saja, sisa setengahnya kelak untuk calon suamiku (kalau dimampukan Allah).

    Namun, baru setengah jalan menonton. Ada seperti suara berisik mengobrol dibawah. Tapi aku abaikan.

    "Suara TV tetangga mungkin," pikirku.

    Lanjut menonton lagi.

    Eh tahu-tahu, seperti merasa ada suara pintu diketuk dua kali. Tapi aku abaikan lagi.

    Aku anggap salah dengar karena terlalu fokus menonton dengan volume tak manusiawi di tengah malam.

    Lalu aku beralih menonton Foo Fighters live music.

    Tebak apa yang terjadi?

    Tidak, tidak ada suara gedoran pintu dengan adegan nafas tersengal dan mata terbelalak kaget seperti dalam film horor kok. Terlalu drama dan lebay.

    Saat asik menikmati video musiknya, aku sedikit pelankan suara videonya karena tau dong Foo Fighters gitu loh. Ibuku memasukkannya dalam golongan musik howok-howok padahal enggak sama sekali, kan?

    Hush.

    Back to topic, setelah aku kecilkan suara videonya tiba-tiba ada suara orang bersiul dari luar.

    You don't say.

    Benar-benar siulan.

    Aku matikan videonya supaya aku benar-benar jelas mendengar suara diluar. Kali ini aku yakin tidak salah dengar.

    Awalnya aku diam dan berpikir,"Siapa orang siul-siul jam 1 malam?" Apa tukang bakso mari-mari sini aku mau beli?

    Jelas bukan. Yakali, tukang bakso jam 1 bengi jek dodol lakok ngonyo men kaya meh nyaleg wae.

    Akhirnya aku menyimpulkan kalau aku seharusnya tidur saja (yora deng wong buktine malah nulis Tumblr).

    Benar kata Ibuk, musik howok-howok itu mengganggu, termasuk mengganggu para setan dan makhluk astral. Lol.

    Bukan takut sih.

    Aku sejujurnya tipe manusia yang cenderung mengabaikan hal-hal seperti ini. Toh, mereka memang ada ya harus dipercayai, bukan ditakuti.

    Menurutku, jauh lebih menakutkan bertemu atau ditegur manusia "asing" di tengah jalan saat perjalanan malam untuk pulang kerumah daripada bertemu dengan ehemhantuehem. Atau jauh lebih menakutkan dipanggil "dek-dak-dek" oleh orang tak jelas, ya?

    Hal-hal mistis atau semacamnya tidak semenyeramkan itu. Seharusnya.

    Sederhananya, aku merasa lebih gagah menghadapi hal-hal horor seperti ini daripada harus menghadapi orang-orang yang hobi mengakrabkan diri dengan panggilan "dek". Aku memang sepengecut itu.

    Iya, terkadang manusia "lebih kelihatan" seperti hantu. Manusia juga dapat menghantui secara abnormal, diluar nalar, bahkan nyaris membuat gila. Sampai-sampai hanya dengan menyinggung sedikit saja keberadaan manusia tersebut sudah membuat bulu kuduk merinding.

    Asli, hantu sesungguhnya ya manusia itu sendiri.

    Yasudah, anggap saja suara-suara yang aku dengar kali ini sebagai teguran. Toh sudah malam, jangan berisik. Ganggu, nyet.

    Mungkin juga para hantu tidak suka lagu-lagu Foo Fighters. Coba besok kita setel lagu lainnya, lagu-lagu dari Ayu Ting-ting misalnya.

    Btw, silakan dengarkan single baru dari Foo Fighters - Shame Shame. Walau aku tidak terlalu suka (entah kenapa) tapi cukup menyenangkan mendengarkannya. Ibaratnya saat aku mendengarkan lagu itu, aku merasa musiknya membuatku menjadi Ibu muda juragan kos-kosan yang kaya raya tanpa hutang, pakai daster selonjoran karo wayeran di teras sambil bertanya kepada langit biru tentang bagaimana cara menghabiskan uang dengan cepat.

    View Full
  • innaramadani
    28.10.2020 - 1 year ago

    Bapak Tua

    Pagi ini, usai Shalat Subuh, tiba-tiba aku mengingat kembali seorang bapak tua (selanjutnya mari kita sebut Bapak Tua).

    Bapak Tua yang beberapa kali aku temui (tanpa sengaja) di jalan. Beliau adalah seorang penjual terang bulan keliling yang sampai saat ini aku belum tahu namanya.

    Agak aneh. Tapi memang kadang aku seperti ini.

    Seperti kadang saat aku makan sate, aku akan ingat kembali seorang anak kecil yang pernah bilang bahwa makanan kesukaannya adalah sate namun dia merasa sudah lama sekali tidak bisa makan sate.

    Kadang saat aku ingin membeli sepatu, lalu aku diingatkan kembali tentang seorang anak jalanan yang menginginkan sepasang sepatu baru untuk sekolah, tapi sulit sekali membelinya.

    Bahkan sekadar aku jajan di minimarket, aku pun kadang ingat tentang seorang Ibu yang tanpa sengaja aku temui di kasir minimarket. Ibu peminta-minta yang menolak rengekan anaknya untuk membelikannya sosis so nice.

    Aneh, kan?

    Menurut banyak orang, aku sulit mengingat hal-hal penting, janji bertemu, nama teman lama, dan sebagainya. Tapi anehnya, malah aku mudah mengingat hal-hal sederhana seperti itu.

    Kembali tentang si Bapak Tua.

    Bapak Tua yang beberapa kali berpapasan denganku ketika aku hendak kulakan atau ketika aku akan ke ATM.

    Sampai saat ini aku belum sempat bertemu dan berbincang secara langsung dengannya.

    Aku mulai memperhatikannya ketika aku berpapasan dan ia sedang makan terang bulannya di pinggir jalan. Iya, ia memakan dagangannya sendiri untuk sarapan. Entah kenapa saat itu aku sadar bahwa tidak ada yang namanya kebetulan.

    Eh lah kok sekarang malah rasanya sulit sekali untuk kembali bertemu dengannya.

    Kemarin sore, aku ingin sekali menemuinya sampai-sampai di tengah jalan aku berbicara dengan Allah.

    "Ya Allah, pertemukan aku dengan Bapak itu." Tidak perlu spesifik, bapak siapa dan dimana, tentu saja Allah paham maksudku.

    Tetapi,

    Lagi-lagi nihil.

    Iya, beberapa kali aku mencarinya di jalan biasa aku berpapasan dengannya tapi tidak ketemu juga.

    Ya sudah, aku bawa pulang.

    Oiya, kenapa sewaktu berpapasan aku tidak membeli dagangannya?

    Haha. Simpel, karena aku tidak suka terang bulan.

    Bisa saja aku membelinya sih tapi rasanya semakin tidak manusiawi jika makanan yang dibeli berakhir mubazir dan terbuang.

    Lagipula, Ibuku sering menggerutu kalau aku pulang membawa 'benda' yang tidak dibutuhkan. "Wes mesti muleh nukoni barang ra penting," katanya.

    Iya, terlampau sering. Bukan karena Ibuku tidak suka atau pelit ya, jelas bukan wong ibuku sendiri yang mengajari untuk selalu berbagi sejak kecil.

    Ibuku hanya tidak suka karena mubazir. Rasanya barang-barang itu semakin membuat rumahku yang kecil makin sesak atau kalau makanan berakhir mubazir di tempat sampah.

    Kenapa tidak dibagi ke tetangga saja? Kadang kalau enak, aku bagi. Tetapi kalau enggak enak? Masa mau dibagi ke tetangga?

    Tidak baik memberi hanya karena kita tidak membutuhkannya atau karena kita tidak menyukainya. Justru kita harus memberi sebaik-baiknya.

    Ya sudah, mungkin belum waktunya bertemu saja dan maunya dapat segera kembali bertemu. Doakan ya.

    Dimanapun Bapak Tua berada, aku berharap Allah selalu memberi perlindungan. Segala kesulitannya dipermudah, bahkan bila perutnya kosong dan laparpun segera Allah kenyangkan.

    Semoga Allah 'ciptakan' kebetulan-kebetulan lain biar hidupku lebih bermanfaat.

    EDIT EDIT EDIT WOYYYY!!!

    Setelah beberapa Minggu, aku menulis cerita ini. Akhirnyaaa.....

    Aku menemukannya....

    Tanpa sengaja, aku lewat, beliau sedang istirahat di pinggir jalan.

    Lalu tanpa pikir panjang aku putar balik, mencari sesuatu dan menemuinya.

    Tidak, aku tidak memberi hadiah rumah kok. Uang darimana? Wong aku saja masih numpang dirumah orang tua.

    Semampuku saja.

    Kalau kalian tanya bagaimana perasaanku saat itu?

    Wah aku senang sekaliiiii.

    Leganyaaaaaa....

    Seperti sudah berhari-hari perut melembung kayak orang hamil, ngempet nggak bisa eek eh ujuk-ujuk dimudahkan untuk pembuangan seketika itu juga.

    Sedikit berlebihan, mungkin? Entah, rasanya lega saja. Ada keinginan yang tercapai pasti senang, kan?

    Cobalah.

    Aku selalu berpikir, ada hak-hak orang lain dalam setiap rezeki yang aku miliki.

    Adilnya Allah itu disaat kita diberi rezeki, ya berbagilah. Nggak mesti Allah turun tangan langsung meratakan semua rezeki setiap manusia. Si A punya ini, si B juga harus punya. Lah kok penak men.

    Justru harusnya kita, manusia yang turun tangan berbagi.

    Katanya mau surga, masa mau enak-enaknya aja? Ngga tahu diri, namanya.

    Rezeki bukan hanya materi ya.

    Misalnya, rezeki sehat. Siapa tahu saat kita sehat, ketika air kran mati, ada tetangga yang tidak mampu menimba air sumur, kita dimampukan menimba untuk membantunya.

    Atau ketika kita nongkrong di hik bersama teman. Lalu lewat seorang pemulung. Meskipun sisa uang hanya lima ribu rupiah dikantong, hati tergerak membelikan nasi kucing dan tempe. Itu sudah cukup.

    Tidak perlu muluk-muluk harus ini-itu dulu. Apalagi menunggu kaya atau berlebih untuk memberi.

    Ngenteni sugeh, selak modyar.

    Selak nganti mati yora isoh ngekeki.

    Pora eman?

    Berbagi semampunya saja. Seadanya.

    Kan nggak ada syarat dan ketentuan berlaku. Jadi sesukanya saja deh.

    Banyak kemungkinanlah. Terka saja. Lalu lakukan.

    Tidak ada namanya kebetulan, kan? Dipertemukan pasti ada sebab.

    Semoga Allah rendahkan hati sajalah, nggak minta neko-neko.

    Secukupnya. Seadanya, tapi tetap selalu dimampukan berbagi dan memberi.

    View Full
  • innaramadani
    21.10.2020 - 1 year ago

    Gulma

    Hujan sejak tadi pagi. Mungkin, orang akan bosan jika aku terus-terusan berbicara tentang hujan.

    Apa yang bisa diharapkan dari hujan? Katanya.

    Tidak ada. Aku suka saja.

    Sama seperti seorang manusia yang membutuhkan makanan untuk tubuhnya. Tak henti-hentinya makan setiap hari.

    Seolah kewajiban.

    Dan memang seharusnya dilakukan.

    Ya, anggap seperti itu saja.

    Daripada bicara tentang cinta dimana kata orang, jangan bicara cinta kalau kamu belum merasakannya.

    Atau bicara tentang cinta terus kayak bucin saja.

    Sialan.

    Benar-benar kata orang itu sesat.

    ---

    Berbicara kata orang saja ya. Satu kalimat saja, persetan dengan kata orang.

    Lama-lama yang mematikan mental dan harapan seseorang hanyalah perkataan dari seonggok mulut.

    Satu mulut yang bisa mengeluarkan kalimat-kalimat jahat dan tak manusiawi.

    Untuk orang secuek aku sekali pun.

    Bahkan kadang aku berpikir bagaimana jadinya jika perkataan-perkataan 'jahat' didengar oleh seseorang yang kelewat sensitif. Bukan, baper ya. I hate this word.

    Mereka akan cenderung menelan mentah-mentah bibit racun yang seharusnya bisa dihindari. Siapa bilang tidak ada namanya bibit-bibit racun?

    Ada.

    Bibit yang tidak seharusnya tumbuh. Tapi tetap terus-menerus tumbuh, tanpa sepengetahuan. Tanpa diinginkan.

    Atau tepatnya kita sebut saja gulma.

    Gulma adalah tumbuhan yang tidak diinginkan. Jika tidak diinginkan tentu ada sebabnya kan?

    Sebab merusak.

    Merusak kehidupan tanaman lain. Hidup seperti gulma, yang tidak jelas keberadaannya mau apa.

    Mencuri sumber makanan tanaman lain, terus menggerogoti tanpa ampun, sampai-sampai menghambat pertumbuhan baik secara kualitas atau kuantitas. Parahnya, hingga kematian.

    Gulma, tanaman yang tidak dikehendaki keberadaannya akan terus ada disekitar kita, baik secara sadar atau tidak.

    Lalu harus apa?

    Berdoa.

    Canda.

    Kalau kamu tanya aku, jawabannya balik pada kalimat awal paragraf pembuka.

    Persetan kata orang.

    Persetan dengan gulma.

    Aku akan terus tumbuh dan mengabaikan.

    Tidak perlu mencabut atau menghilangkan keberadaannya.

    Perkara dia yang terus menggerogoti pun tak masalah, justru aku akan terus berusaha semakin kuat.

    Biar saat digerogoti pun, aku punya cadangan makanan lain. Aku tetap harus hidup dengan caraku sendiri.

    Kalau dia hidupnya terus menggerogoti, ya silakan.

    Justru aku malah kasihan. Benar-benar kasihan. Gulma, jauh lebih mengenaskan daripada seorang pengemis sekalipun, yang memang mendedikasikan hidupnya hanya untuk meminta-minta.

    Sedangkan gulma, bukan hanya meminta-minta. Tapi juga mengambil yang bukan haknya saking (mungkin) tidak tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri hingga harus nggriseni uripe wong liya.

    Perlu lebih dikasihani, kan?

    Idep-idep kita bagi rezeki. Meskipun hidupnya memang harus merusak tanaman lain, ya biarlah caranya seperti itu.

    Kita tidak bisa mengubah cara hidup seseorang, yang bisa dilakukan hanya mengubah cara hidup kita.

    Pasti ada sebab keberadaan. Bahkan untuk sekelas gulma.

    Entah, dengan adanya gulma, kita harus menjadi tanaman yang lebih kuat dan bernutrisi agar tidak mudah mati.

    Atau mungkin kita yang memang seharusnya 'berbagi' agar mereka senang, kenyang, dan puas.

    Lagi-lagi. Itu caraku.

    Tidak perlu ditiru, apabila kamu tanaman yang sensitif.

    Kalau menurutmu, berbagi makanan terus-menerus itu meracuni dan tidak baik. Yasudah, cabut saja si gulma, perusak ekosistem.

    Kalau tidak punya kekuatan mencabut, ya hindari.

    Cari ladang lain untuk kamu hidup.

    Masih banyak kok. Tetapi ingat, gulma akan selalu ada di manapun kamu berada.

    Kan sama-sama makhluk hidup. Mereka, gulma juga berhak hidup.

    Meskipun kamu menghindar sekeras apapun, nyatanya akan tetap ada. Bisa saja dengan wujud tanaman yang berbeda, mungkin disini ketemu alang-alang, eh disana ketemu eceng gondok.

    Ya sudah kembali pada diri masing-masing.

    Mereka punya hak hidup dengan cara mereka, aku punya hak hidup dengan caraku. Mereka tidak berhak ikut campur caraku hidup, sekaligus aku sendiri pun tidak punya hak mengubah cara mereka hidup.

    Sesimpel itu.

    Jangan terlalu lama fokus dengan gulma. Cepat pilih, hindari, buang, atau abaikan.

    View Full
  • innaramadani
    06.10.2020 - 1 year ago

    Kapan menikah?

    Oke. Aku menulis lagi.

    Aku sampingkan dulu persoalan negara yang marai met ndase. Rasanya kok jadi warga Indonesia gini amat.

    Tapi ya sudahlah.

    Jangan bahas itu. Dibahas pun tak ada habisnya.

    Aku menulis, mumpung masih ingat dan tentu ada niat.

    Terutama tentang obrolanku dengan Ibuku malam ini.

    Sebelumnya, jangan terlalu berharap menemukan jawaban dari judul tulisanku.

    ---

    Ketika Ibu hendak tidur, beliau mencercaku dengan pertanyaan yang dimulai dengan,"Kapan?"

    You know what I mean...

    Perkara (yang dianggap) penting untuk perjalanan hidup seseorang tapi entah apa mungkin untukku yaitu menikah.

    Aku bilang mungkin ya. Saat ini. Tidak tahu satu jam lagi, besok, lusa, atau bulan depan.

    Lalu apa jawabanku?

    Beginilah jawabanku...

    "Mungkin, Allah belum kasih jodoh, bukan karena aku kurang pantas, tetapi Allah maunya aku mengurus Ibuk dulu. Wanita kalau sudah menikah surga-nya berada pada suami, sebelum itu, mauku, sebisa mungkin sebagai anak membahagiakan Ibuk dulu."

    Iya, aku jawab sejleb itu (tapi pakai bahasa Jawa).

    Karena aku yakin, menikah bukan tentang kepantasan.

    Lagi, lagi, pendapatku berbeda dengan kalimat-kalimat mainstream diluar sana.

    "Ya, sebelum kita menikah lebih baik memantaskan diri dulu."

    Boleh aku tertawa?

    Pantas yang bagaimana?

    Kepantasan yang diukur dari mata siapa? Sesama manusia?

    Lantas bagaimana batas antara pantas dan tidak pantas?

    Bias sekali.

    Iya, kebanyakan orang ingin mencari jodoh sebaik mungkin. Makanya mereka berusaha "mati-matian" memantaskan diri. Biar dapat yang berimbang, katanya.

    Mungkin begitu maksudnya, ya?

    Namun bagiku, kalau mau jadi orang baik ya baik saja. Tidak perlu dengan maksud tersembunyi untuk memantaskan diri untuk orang lain.

    Lah, die siape?

    Apa tidak capek? Sedangkan kata "pantas" bagiku, tentu berbeda dengan "pantas" bagimu atau baginya.

    Lalu mau sampai kapan berusaha memantaskan diri? Sampai bertemu jodohmu?

    Halah, munafik.

    Aku manusia biasa, yang tidak sesuci Khadijah yang pantas mendapatkan Rasulullah.

    Ketimbang memantaskan diri untuk orang lain (yang dituju untuk menjadi jodoh kita), lebih baik memperbaiki diri sendiri karena ya memang maunya aku jadi manusia yang lebih baik.

    Niatkan dari sendiri, bukan karena iming-iming biar dapat jodoh yang sepadan baiknya.

    Tujuan manusia hidup supaya bermanfaat bagi sesama, bukan berlomba-lomba menjadi pantas untuk orang lain. Apalagi, berlomba-lomba mendapat "jodoh" yang sebaik-baiknya.

    Hidup jangan terlalu banyak moduslah.

    Mau dapat yang baik, makanya jadi orang baik dulu.

    Kebalik dong ya.

    Semestinya, jadi orang baik dulu, sisanya biar Allah yang atur. Misal dapat yang baik pula (misalnya jodoh) ya Alhamdulillah, anggap saja itu bonus dari Allah.

    Toh, lagi, lagi, Allah itu Maha Melihat.

    Kita sebagai manusia, tidak perlu menuntun atau menuntut Allah untuk bertindak.

    Makanya jika sampai detik ini aku belum menikah, bukan karena kepantasan.

    Kok percaya diri sekali? Ya dong. Harus.

    Sebab aku yakin bukan karena aku harus memantaskan diri dulu, tetapi ya karena menurut Allah waktunya belum tepat.

    Mungkin...

    aku "disuruh" kerja dulu, punya uang, dan menabung.

    Mungkin...

    Aku "disuruh" merawat Ibuk. Membelikan apa yang beliau mau, mengajak ketempat yang beliau sukai, dan sebagainya.

    Mungkin...

    Aku "disuruh" membahagiakan keluargaku dan orang sekitarku, termasuk ponakan-ponakanku yang hampir selalu tanya,"Nanti kalau Mbak Inna menikah, masih bisa jajanin ngga ya?"

    Bahkan ponakanku, Balqis, pernah bilang,"Aku bingung minta Allah biar Mbak Inna cepat nikah atau nggak, apa Mbak Inna nggak usah nikah aja ya?"

    Lalu, mungkin...

    Banyak orang diluar sana yang punya "hak" untuk mendapat "secuil" kebahagiaanku. Iya, apa yang kita miliki, tidak sepenuhnya milik kita. Ada hak-hak orang lain (yang membutuhkan) didalamnya, kan?

    Banyak kemungkinan yang terjadi mengapa sampai saat ini aku belum menikah.

    Aku bilang belum ya, bukan tidak. Artinya aku khusnudzon.

    Hanya Allah yang tahu jawabannya.

    Aku hanya menebak-nebak, sekaligus mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda.

    ---

    Jadi, apabila kamu sampai detik ini belum menikah, tenang saja. Ketahuilah bukan karena kamu kurang pantas.

    Tetapi (mungkin) karena Allah memberi lebih banyak waktu padamu untuk melakukan hal-hal yang "pengen" atau "harus" kamu lakukan. Dalam hal positif, tentunya.

    Memang menikah artinya mengengkang? Bukan, bukan mengengkang. Hanya saja seorang istri mempunyai batasan-batasan dan harus seizin suami (terutama jika kamu seorang Muslim yang paham ajaran).

    Lagipula...

    Menikah tidak melulu menjamin dia adalah jodohmu juga kok. Justru dengan menikah, seharusnya kita berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan bahwa dia loh jodoh yang dipilih Allah untukku.

    Ijab sah bukan puncak, perjalanannya masih panjang.

    Perjalanan yang malah (mungkin) menjadi lebih berkelok dan rumit dari sekadar mencari jawaban pertanyaan "kapan menikah?"

    ... eh secara teori ya.

    Kan aku belum menikah. Yosori, yen luput. Aku buktikan jawabanku lagi setelah aku menikah saja :)

    ---

    Btw, mari mendengarkan lagu lama dari The Sigit - All The Time, salah satu lagu yang bisa dijadikan backsound pernikahan nantinya.

    View Full
  • innaramadani
    03.10.2020 - 1 year ago

    Malming-shit

    Hari ini aku bangun lebih awal, bergegas mematikan AC, membuka jendela kamar berharap sinar matahari menghangatkan eh ternyata malah mendung.

    Dasar, hidupku memang tidak bisa didramatisir layaknya episode pertama dalam Korean Drama dimana sang tokoh utama menjadi spotlight dan setting sempurna.

    Sempurna darimana? Baru adegan membuka jendela kamar yang seharusnya penuh warna-warna cantik bak filter Instagram eh malah gelap akibat mendung, tak nampak matahari sama sekali. Boro-boro matahari, sinar pagi yang cerah saja menghilang entah kemana.

    Aku buru-buru membuka laptop, melanjutkan 'garapan' kemarin malam yang terbelangkai, ditinggal menonton YouTube.

    Kemarin, Jumat malam, hari yang selalu sibuk.

    Dan hari ini, Sabtu, seharusnya hari yang selow.

    Tepatnya hari yang hampir selalu aku luangkan untuk me-time. Tapi tidak hari ini.

    Bicara tentang Sabtu tentu identik dengan Malam Minggu dan aku tidak mengenal malam Minggu. Bagiku, malam Minggu justru waktu dimana aku santai-santai dirumah. Melegakan diri sendiri saat sebelumnya menjadi robot yang diprogram kesana-kemari.

    Aku menulis sambil mendengarkan Tame Impala - Borderline seolah dinyanyikan tentang Malam Minggu sebenarnya.

    "I'm gonna have strangest night on Sunday"

    Jadi, Malam Minggu hanyalah hari yang selalu sama, tidak spesial sama sekali, hari dimana kita seharusnya bersiap untuk hari Minggu yang sebenarnya.

    Kenapa orang-orang seolah-olah menspesialkan Sabtu Malam dengan menyebutnya Malam Minggu? Hari yang jauh lebih beken ketimbang hari lainnya.

    Dulu pikirku, mungkin karena Malam Minggu hari untuk pacaran ya karena hampir di sepanjang jalan ramai muda-mudi berduaan.

    Pikirku duluuuu ya. Sewaktu aku masih abege.

    Kalau sekarang sih, lebih bodoh amat. Toh, Malam Minggu-ku lebih banyak aku luangkan dirumah bersama keluarga, terutama ponakan. Cieilah.

    Btw kenapa membahas Malam Minggu di Sabtu Pagi?

    Ya terserah dong.

    Efek mendung, aku harap malam nanti hujan turun dengan deras seperti malam kemarin.

    Biar Malam Minggu makin syahdu, katanya.

    Salah.

    Bagiku, doa berharap hujan di Malam Minggu agar mereka yang pengennya keluar rumah untuk bersenang-senang sedikit mengeluarkan usaha. Ya setidaknya ada pikiran dua kali, untuk memakai jas hujan atau malah basah kuyup hujan-hujanan.

    Ya sori, aku tidak iri loh. Tapi aku 'lebih senang' melihat orang-orang sedikit bersusah-susah untuk senang-senang saja. Apalagi dimasa seperti ini, dengan mimpi buruk yang belum berakhir yaitu pandemi.

    Kapan-kapan aku akan bercerita Hari yang paling menyenangkan untukku, bukan Sabtu ataupun Minggu.

    View Full