#kehidupan baru Tumblr posts

  • Pertama, aku mengingat hari ini dalam  pembelajaran Geografi semasa kelas X SMA, bahwa pada setiap tanggal 21 Maret matahari berada tepat di atas garis Khatulistiwa. Maka seharusnya hari-hari lalu dan yang akan datang bersuhu tinggi dan panas menyengat di kawasan Inonesia yang dilintasi garis Khatulistiwa. Namun ternyata tidak demikian, mungkin orang-orang lupa dengan tanggal ini sehingga panas dan terik itu tidak dirasakan. Atau orang-orang sudah bersembunyi di rumah masing-masing dengan stok makanan melimpah untuk persiapan isolasi 14 hari ke depan. Sungguh virus ini membawa kecemasan dan kekagetan bagi rakyat biasa sehingga berlaku di luar batas kebiasaan. Coba bayangkan jika setiap rumah menyetok bahan makanan selama 14 hari saja, apa yang akan terjadi di pasar? Kekosongan stok pasti, dan itu akan membuat harga barang-barang lain melonjak derastis. Kasihanilah kami keluarga kecil ini. Yang makan sekadar untuk menyambung nafas diantara zikir-zikir kepada Tuhan kami. 

    Kedua, aku mengingat bahwa hari ini usiaku di kitab induk (Lauh Mahfudz) tercatat sudah berkurang 21 tahun. Suatu hal yang sangat cepat dan sangat mengagetkan. Aku serasa cepat sekali melewati masa demi masa. Rasanya baru kemarin aku masih bermain di sungai, sawah, dan berenang di Bengawan Solo. Dan pada hari ini aku sudah berkepala 2 lebih 1 tahun. Hal yang paling kuanggap rugi adalah aku belum bisa menyamai Nabi Muhammad dan para sahabat pada usia 21 tahunnya. Aku sungguh banyak bermain dan bermain-main. Kesungguhanku untuk bermain sangat kurang, sehingga aku tidak berhasil menyelesaikan permainan itu dengan kualitas baik. Aku sekadar menjalani permainan demi permainan dengan hati yang bermain-main. Ya Allah, ampuni aku dalam kebermainanku ini.

    Tidak ada yang patut dilisankan olehku kecuali “laa haula wala quwwata illabillahil’aliyyil’adzim”, tiada daya atasku, tiada kuat atasku, tiada kebaikan atasku Ya Allah kecuali atas percikan cahayaMu. RasulMu Muhammad telah datang kepadaku membawa kitab firmanMu.

    Dalam batin yang masih terisak-isak ini Ya Allah, aku memohon keberkahan dalam setiap langkahku menuju kelahiran baru, esok yang cerah, dan senja yang hangat. Aku menapaki titian-titian itu dengan petunjukMu Ya Allah. Nafasku dalam bejanaMu ini sudah sesak, penuh oleh virus-virus kesombongan dan takabur. Bahwa apa-apa yang telah kulakukan dan kudapatkan adalah semata pemberianMu Ya Allah. Tiada daya atas diriku untuk mencapai semua ini. Termasuk jemariku yang lihai menari di atas papan ketik ini, ini adalah bimbinganMu Ya Allah. Aku tidak bisa apa-apa kecuali Engkau suruh dan beri petunjuk.

    “Aku melihat sekumpulan itu mendekat kepadaku, entah bagaimana aku memanggilnya. Wajah mereka bercahaya sambil membawa tempayan berisi pasir dan air. Mereka menebar-nebarkannya dari atas rumah-rumah yang juga bercahaya.”

    Aku bertanya kepada mereka karena ketikdakpahamanku atas apa yang baru saja kulihat. “Baginda, untuk apakah engkau menebar-nebar itu semua di atas rumah yang juga bercahaya. Ada gerangan apakah di dalam rumah-rumah itu?”

    Baginda yang rambutnya sebahu itu menjawab, “Aku menaburkan berkah atas manusia-manusia yang senantiasa menghiasi bibirnya dengan zikir dan selawat kepada kekasihnya. Dan di dalam rumah-rumah itu terdengar lantunan-lantunan merdu atas zikir dan selawat. Maka segenapku mendoakan mereka dengan berkah yang disebar-sebarkan.”

    Malam ini akan berlalu, dan aku tidak ingin melewatkannya dengan tidak berbekas. Maka aku mengambil pilihan berdasarkan suara hatiku untuk menuliskannya. 

    Bisikan yang menguat di telingaku adalah mengganti CORONA menjadi QUR’ANA.. QUR’ANA.. QUR’ANA..


    Yudha Payana

    Sragen, 21 Maret 2020

    #kehidupan baru #bersama  Allah dan Rasulullah
    View Full