#tahunbaru Tumblr posts

  • diarisehat
    22.01.2022 - 6 days ago
    #dr.healthy diari diari.sehat sehat jagalahkesehatan semangatsehat tahunbaru sabtu sabtuceria januari 2022
    View Full
  • diarisehat
    22.01.2022 - 6 days ago
    #dr.healthy diari diari.sehat sehat jagalahkesehatan semangatsehat tahunbaru sabtu sabtuceria januari
    View Full
  • dediaprilianta
    15.01.2022 - 1 week ago

    Mau tahu cara tepat untuk sistem hybrid learning?🏫 Untuk Sekolah Kekinian Waktunya bapak/ibu guru pakai FEdu.iO, belajar - mengajar anti ribet yang mudah dipakai 😉. Baik daring atau tatap muka, lebih mudah atur jadwal belajar sekolah. Mau tahu apa aja kemudahan yang ditawarkan FEdu.iO? 👇🏽 📱 Absensi kehadiran pakai scan GPS 🖥Ujian online standar UNAS 📤Kirim izin ketidakhadiran siswa ke wali kelas 👧🏻 Kelola absensi siswa, guru, & staf sekolah 📑Mendukung impor DAPODIK 📆Pengaturan jadwal belajar, ujian, bank soal, hingga ujian online 📚 Akses materi pembelajaran & laporan hasil belajar siswa 🪑Pantau inventaris sekolah 📔 Kelola administrasi perpustakaan & sekolah dan masih banyak lagi... Yuk pakai sekarang juga! Gunakan GRATIS FEdu.iO sekarang juga!🎉 More info : 081805590999 #dnagroup #dnachannel #dnagroupdesign #dediaprilianta #dedidahsyat #purialangalang #warungbusiki #viral #natal #merrychristmas #harinatal #happynewyear #HRDMantul #BPJS #hashtag #absensi #BPJSKesehatanRI #hny2022 #BPJSindonesia #tahunbaru #Fingerprint #happynewyear2022 #sekolah #karyawan #lowongan (di Indonesia) https://www.instagram.com/p/CYxO4yhP9Ti/?utm_medium=tumblr

    View Full
  • ibnuamirworld
    08.01.2022 - 2 weeks ago

    BOLEHKAN SAYA MERAYAKAN TAHUN BARU MASEHI?

    Hal selanjutnya atau yang terakhir dari bulan Desember yang paling mengendap di kepala saya adalah Tahun Baru. Tidak lepas juga dari segala perdebatan tentang perayaan Tahun Baru tersebut. Walaupun memang perdebatan yang muncul tidak segarang perdebatan tentang pengucapan Selamat Natal. Kalau boleh dibuat urutan pasti yang nangkring di posisi pertama adalah polemik mengucapkan Selamat Natal, kemudian polemik perayaan Tahun Baru, dan terakhir adalah polemik merayakan Hari Ibu.

    Mari ditelisik bareng-bareng dimana akar masalah atau pemicu mengapa merayakan Tahun Baru masih saja dibahas boleh atau tidaknya. Hemat saya polemik dipicu karena adanya anggapan bahwa Tahun Baru tersebut karena diambil dari kelahiran Nabi Isa AS. Nabi Isa adalah tokoh sentral dalam agama Nasrani atau yang lebih dikenal dengan Yesus yang diakui sebagai anak tuhan. Karena Nabi Isa AS mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan agama Nasrani/Kristen maka tahun kelahiran beliau yang juga disebut masehi menjadi sebuah masalah ketika dirayakan. Terutama bagi penganut agama Islam.

    Sehingga fakta diatas menjadikan tahun Masehi disebut sebagai “tahunnya” orang Kristen. Merayakan tahun Masehi sama halnya dengan merayakan tahunnya orang Kristen. Apabila melakukan hal yang sama dengan orang Kristen berarti termasuk meniru apa yang mereka lakukan. Implikasinya ketika meniru yang dilakukan orang Kristen maka dianggap termasuk bagian dari mereka. Kurang lebih seperti itu yang sering didengar di kalangan masyarakat. Malah yang lebih ekstrem lagi, merayakan tahun Masehi sama halnya meniru budaya orang Kafir. Istilah Kafir inilah yang sampai saat ini selalu memicu polemik dan kekerasan.

    Harus diakui ada beberapa hal yang memang diidentikkan dengan agama tertentu. Misalnya saja seperti pohon Cemara yang sebagian masyarakat menyebutnya pohon orang Kristen. Mengapa streotipe itu muncul? Tidak lain dan tidak bukan karena pohon Cemara adalah pohon yang digunakan umat Kristiani sebagai pohon Natal. Kemudian yang paling masyhur adalah sebutan Burung Gereja hanya karena sering nangkring di Gereja. Kemudian timbul pertanyaan, apakah boleh Burung Gereja masuk masjid?

    Anggapan apabila tahun Masehi adalah tahun umat Kristen dikarenakan penanggalan dimulai ketika Nabi Isa lahir. Tentu timbulnya polemik akan mengerucut pada dua hal yakni boleh dan tidak. Padahal pada dasarnya tahun Masehi perhitungannya didasarkan pada pergerakan Matahari. Sehingga sebenarnya tidak bisa dikaitkan dengan agama atau kelompok apapun. Namun sayangnya penggunaan kata Masehi menjadikan tahun yang berdasarkan pergerakan matahari tersebut lebih berafiliasi dengan agama Kristen.

    Tahun masehi dapat pula disebut Tahun Syamsiyah karena memang berdasarkan pergerakan matahari. Adapula beberapa tokoh agama yang menyebutnya dengan Miladiyah. Mungkin hal tersebut karena awal penetapannya didasarkan pada kelahiran Nabi Isa AS. Kemudian ada pula tahun Qomariyah yang perhitungan menganut pergerakan bulan.

    Tahun Qomariyah disebut pula tahun Hijriyah. Penyebutan ini tentu berawal dari dimulainya awal perhitungan yang mengambil peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Hingga akhirnya disebut Tahun Baru Islam. Dua jenis penanggalan inilah yang terkadang menimbulkan polemik di masyarakat. Padahal selain dua penanggalan tersebut masih ada yang lain yakni penanggalan Jawa, Sakha, Sunda, China. Untungnya hanya Masehi yang seringkali menimbulkan perdebatan ketika dirayakan.

    Kalau dicermati mengapa perayaan Tahun Masehi/ Syamsiyah/ Miladiyah menjadi polemik hemat saya ada beberapa penyebab. Pertama karena awal tahun diambil dari kelahiran Nabi Isa AS yang harus diakui beberapa orang menganggapnya “Nabinya Orang Kristen”. Kedua, perayaan tahun masehi dinilai meniru budaya umat lain bahkan adanya yang bilang budaya orang kafir. Kemudian bagaimana menyikapinya?

    Pertama, apabila yang menjadi alasan polemiknya adalah karena yang dijadikan patokan kelahiran Nabi Isa AS yang disebut “Nabinya Orang Kristen”, maka harus diketahui bahwasanya Nabi Isa AS juga adalah nabi dalam agama lainnya yakni agama Islam. Sehingga sebenarnya tidak ada masalah untuk merayakan tahun tersebut karena penetapannya berawal dari seorang nabi dan rasul yang harus diimani. Kemudian dikatakan perayaan tahun baru adalah budaya umat lain, budaya orang kafir. Dimana merayakan tahun baru dengan hura-hura, meniup terompet, menyalakan kembang api.

    Maka solusinya cukup dengan merayakan tahun baru namun tidak usah hura-hura, meniup terompet, dan tidak usah menyalakan kembang api. Tentu hura-hura, pesta-pesta dapat digantikan dengan kegiatan-kegiatan yang positif misal mengadakan acara bakti sosial, kegiatan amal, vaksinasi gratis, khitan gratis hingga nikah gratis. Tentu banyak orang yang akan bahagia dan tersenyum merona. Karena ketika awal tahun nanti tidak hanya tahun yang baru, namun mereka juga mendapat pasangan baru. Bisa pula dengan mengadakan acara pengajian, khataman, atau sholawatan. Namun harus diakui sepertinya masih jarang perayaan tahun baru mengadakan acara-acara tersebut.

    Budaya tiup terompet bisa diganti dengan tiup-tiup bara api agar jagung, dan ayam gorengnya cepat masak. Atau kalau capek tiup-tiup bisa pula tiupannya diganti dengan hembusan dari kipas angin. Kalau jagung bakar, dan ayam bakar sudah masak tentu kegiatan kumpul-kumpul menjadi lebih mantap dan akrab. Terkait budaya tiup terompet ini saya menjadi ingat teman saya yang bingung ingin merayakan tahun baru namun tidak boleh oleh orang tuanya. Karena ada budaya meniup terompet. Teman saya menceritakan sepengetahuan orang tuanya meniup terompet adalah budaya orang barat jadi tidak boleh ditiru.

    Mendengar cerita teman saya, akhirnya saya menyarankan kepadanya agar ketika merarayakan tahun baru, acara tiup terompet diganti saja dengan meniup seruling bambu. Karena seruling bambu adalah budaya Nusantara. Tentu mengganti terompet dengan seruling bambu dapat menjadikan larangan merayakan tahun baru akan gugur. Karena tiup terompet yang dikatakan budaya barat sudah diganti dengan tiup seruling bambu. Padahal apabila larangan tiup terompet benar-benar dilaksanakan tentu yang akan rugi adalah pedagang-pedagang kecil yang rezeki mereka berasal dari jualan terompet tersebut.

    Kemudian budaya menyalakan kembang api dapat diganti dengan kegiatan menyalakan semangat dan harapan orang-orang sekitar kita yang merasa kesusahan dan kekurangan agar menjadi lebih optimis dan semangat menyambut tahun yang baru. Kemudian bagaimana cara menyalakan semangat mereka? Tentu dengan memberikan bantuan berupa pelatihan usaha, kredit usaha, workshop, seminar yang berguna untuk mengembangkan skill dan kemampuan dalam berwirausaha. Banyak hal positif dan bermanfaat yang dapat dilakukan sembari menunggu pergantian tahun. Tidak usah tersempitkan dengan hura-hura, tiup terompet dan menyalakan kembang api.

    Saya juga termasuk orang yang merayakan pergantian Tahun Baru Masehi. Namun tentu bukan dengan tiup terompet, hura-hura, hingga menyalakan kembang api. Saya dan segenap tetangga cukup merayakan tahun baru dengan kumpul-kumpul terbatas. Karena memang masih pandemic corona. Kemudian kami melengkapi kumpul-kumpul tersebut dengan membakar jagung, ayam, menggoreng sossis, hingga membuat lontong sayur. Tentu acara ini bukan diniatkan untuk meniru budaya umat lain, atau bahkan orang kafir.

    Perayaan Tahun Baru yang kami laksanakan juga bertujuan untuk silaturahim. Sehingga tetangga dan keluarga yang mungkin jarang bersua dapat saling mengobrol dan bertatap muka. Tentu dikarenakan kesibukan masing-masing sehingga jarang untuk dapat berkomunikasi secara langsung. Terkait jagung, ayam, sossis hingga lontong sayur juga dibeli dengan gotong royong. Ada yang membeli jagung, sossis, ayam, dan lontongnya. Kemudian apa yang saya beli? Tentu membeli yang belum dibeli oleh yang lain.

    Tahun Baru hanya sebuah kegiatan menunggu pergantian tahun. Alangkah lebih baiknya tidak lagi dijadikan polemik. Karena sudah terlalu banyak polemik di negeri ini. Sehingga tahun depan tidak usah lagi dibahas Hukum Merayakan Tahun Baru 2022. Kalau ingin merayakan cukup dirayakan saja. Bila tida setuju dengan perayaan tersebut cukup bersikap arif dan bijaksana dengan tidak menghujat yang melakukan perayaan. Jadilah pribadi yang konsisten. Jangan menjadi orang yang melarang perayaan Tahun Baru, menghujat yang merayakannya, namun menikmati libur di Tahun Baru, memburu potongan atau diskon di Tahun Baru hingga bersedia makan ayam, jagung bakar, sossis, dan lontong sayur yang dimasak untuk merayakan Tahun Baru.

    Dadi Wong Ojo Mung Golek Kepenake Thok?

    View Full
  • ndadakpos
    07.01.2022 - 3 weeks ago

    Para Pangageng Al-Azhar Rawuh Dhateng Katedral

    Pucuking riaya dinten Natal kagem umat Kristen Koptik dhawah saben 7 Januari. Menika pesen ingkang dipunsanjangaken Imam Ageng wekdal rawuh dhateng katedral.

    Selasa (4/1/2022) enjing, Imam Ageng Syekhul-Azhar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib mimpin delegasi Al-Azhar lebet kunjunganipun dhateng markas ageng Katedral Santo Markus wonten Al-'Abbasiyyah, kunjungan menika kunjungan reguler ingkang panjenenganipun tindakaken ing dhalem ngaturaken sugeng Natal dhateng Paus Theodoros II saking Aleksandria, Paus lan Patriark Gereja Ortodoks Koptik, saha sadherek-sadherek Kristen sanesipun.

    Lebet kunjungan dinten punika, panjenenganipun dipundereaken dening sacacah tokoh lan pangageng Al-Azhar kados Prof. Dr. Muhammad Mukhtar Gomaa (Menteri Wakaf), Prof. Dr. Muhammad Adh-Dhuwaini (Deputi Al-Azhar), Prof. Dr. Nazhir 'Ayyad (Sekretaris Jenderal Lembaga Riset Islam), Prof. Dr. Salamah Daud (Mustaka Sektor Ma'had Al-Azhar), Prof. Dr. Muhammad Abu Zaid Al-Amir (Wakil Rektor Universitas Al-Azhar), lan Dr. Nahlah Ash-Sha'idi (Mustaka Tuntunan Pengembangan Pendidikan Mahasiswa Internasional Wonten Al-Azhar). Rawuh para pemuka Islam wonten Mesir kasebat dipunsambut kaliyan bingah dening Paus Theodoros II wonten aula pepanggihan.

    Ing kesempatan menika, Paus medharaken raos bahagianipun kanthi sambutan ingkang pesenipun nyatakaken kagem tansah ngenyari tangsulan tresna lan memitran antawis umat agami. Miyos mligi memitran antawis umat Islam lan Kristiani wonten sedaya tatanan nasional Mesir, ingkang pundi bab kasebat nggambaraken setunggaling kekiyatan. Panjenenganipun ugi negasaken, menawi nglestantunaken wujud kekeluargaan wonten Mesir menika tanggel jawab sareng antawis awak agami, pendidikan, budaya, lan media. bab menika tamtu mawon lebet nyugengaken malih regi-regi kemasyarakatan kagem urusan kalian tata abnormal ingkang ngicalaken tata krama lan regi-regi ingkang sae.

    Video Syekhul Azhar Lebet Wantos-wantos Persatuan Lan Kesatuan Antawis Umat Agami, saget dipuntingal lan dipunklik mriki

    Lebet video ingkang dipunkintun dening Al-Azhar lebet kanal resminipun wonten YouTube, Imam Ageng ngaturaken wilujeng ingkang tulus dhateng sadherek-sadherek Kristen, kalih ndonga supados warsa puniki dados warsa ingkang kebak kaliyan kebahagiaan. "kula ngajeng-ajeng dhateng Allah subhanahu wa ta’ala supados ndadosaken wiwiting warsa puniki dados warsa ingkang kebak kaliyan kebahagiaan. Lan mugi-mugi, kula lan panjenengan sami tansah dipunparingaken kesarasan, kesaenan, kebahagiaan, lan ketentreman." tuturipun.

    Kejawi punika, Imam Ageng Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib ugi negasaken menawi saleresipun regi ketentreman lan pasedherekan kelebet salah setunggaling risalah samawi ingkang kedah diimani, nggih dening kaum muslimin utawi kristiani. Lebeting bab punika, panjenenganipun ngemut-emut tembung as-salam (ketentreman) kalih ngendika, "kula saestu, menawi tembung punika wonten ing lebet saben ngibadah dintenan kaum mukmin utawi kristiani. Mekaten-a kita, ingkang saben bibar salat ndedonga, allahumma Anta as-salam wa minka as-salam ... 'Duh, Gusti, naming Panjenengan ketentreman niku lan saking Panjenengan ugi sedaya sangkaning ketentreman'. Donga punika ugi kita aturaken nalika saweg tindak dhateng siti suci kalih ndedonga, 'gesangaken kita, duh Gusti, kanthi rasa tentrem'."

    Lebet sambutan punika, Imam Ageng ugi ngendika, "wonten ngrika wonten oyod kolektif ingkang kula lan panjenengan tepang kaliyan agama-agama. Sanadyan ing dhasaripun, wonten lebeting Al-Qur'an mboten wonten ingkang naminipun agama-agama. Bilih kula lan panjenengan ningali ukanten ad-din (agami) wonten lebeting Al-Qur'an, mboten dipunpanggihaken kejawi agami ingkang setunggal. Lan agami punika piyambak nggadhahi wujud ingkang warna-warni lan risalah ingkang benten-benten ingkang dipunbekta dening para nabi saking Nabi Adam ngantos Nabi Muhammad — mugi-mugi tetesan rahmat lan ketentreman tansah dipuncucurakan dhateng piyambakipun sedaya.

    "Kula ugi ngemut-emut menawi saleresipun kita menika sadherek wonten bumi. Kita menika putra keturunan saking bumi ingkang setunggal. Kejawi punika, kula ugi ngemut-emut oyod kolektif ingkang sanes, inggih punika menawi saleresipun sedaya kawula menika sadherek. Rasul (Kanjeng Nabi Muhammad) kita tansah nyakseni saben bibar nindaaken salat, 'Duh, Gusti, kula nekseni kados niki lan niku,' ngantos ingkang pungkasan panjenenganipun ngendika, 'kula nekseni menawi saleresipun sedaya kawulo niku sadherekan'.", lajengipun.

    Syekh Ahmad Ath-Thayyib ugi wangsul negasaken menawi gineman wilujeng (tahniah) sanes namung ing lati mawon. Panjenenganipun ngendika, "nalika kita rawuh, nenun welas asih, lan nuduhake, samestine kita mboten naming nindakaken sawates kulitan mawon, utawi namung sawates dipuntepang minangka kamanunggalan lebeting handuweni negara (nasionalisme) mawon. Ananging, sedaya niki sangkaning agami ingkang estu ndhawuhaken lan ngiseni bab kasebat supados kita tumindak asih marang saben liyane."

    Kejawi bab wonten inggil, panjenenganipun (Imam Ageng) ugi ngaturaken babakan wigatos, menawi saleresipun tiyang ingkang nggadahi iman kedah saged nglawan kuwaos ingkang njajah regi-regi kamanungsan. Mekaten-a, panjenenganipun ugi negasaken menawi agami niku pondasi pungkasan kagem milujengaken manungsa saking sandiwara-sandiwara donya, kados ebahing hawa, pecahing keluwarga, lan tumindak ateisme marang agama. Amargi punika, panjenenganipun negasaken sanget kagem ngasuwantenaken  wigatosing agami. Langkung-langkung, naming agami setunggaling pondasi ingkang ketirah lan ingkang bakal dipunpundhut priksa tanggel jawabipun wonten ngarsanipun Gusti ing dinten kiamat mangke; agami, setunggaling prakawis kagem milujengaken manungsa wonten era modern puniki.

    Lebeting unjuk pungkasan, Imam Ageng ngendika dhateng Paus lan hadirin ingkang tumut rawuh ing wekdal punika, "gegayuhan kita sisah sanget lan awrat. Ananging, insyaAllah, kaliyan wontenipun tokoh kados panjenengan sedanten, para patriark, ugi para ulama, kita bakal nglampahaken punapa ingkang dados tanggungan kita. Wondene tirahipun, kita pasrah dhateng Gusti. Mugi-mugi panjenengan sami tansah lebet kawontenan sae. InsyaAllah, pepanggihan kita salajengipun tanpa ngagem masker malih." Mekaten dipuntumuti kaliyan esemanipun Imam Ageng lan Paus.

    More reading just click here
    View Full
  • ndadakpos
    05.01.2022 - 3 weeks ago

    Panggantosan Warsa: Benahi Syukur Kita

    Satemene nikmat kang diparingake dening Allah subhanahu wa ta’ala marang manungsa, marang kulo lan panjenengan sedanten niku kathah sanget lan mboten saget dietang setunggal baka setunggal. Awak seger waras, bandha ingkang barokah lan migunani, panca indera: mripat kangge sumerep, talingan kangge mireng, ilat kangge nyicipi, irung kangge ngambu, lan kulit kangge nyepeng.

    Kejawi puniku, Allah subhanahu wa ta’ala ugi tasih maringi kula lan panjenengan anak-anak ingkang sholih-sholihah, urip bebrayan ingkang harmonis, kekancan-tetanggan ingkang sae, lan tasih kathah melih; niku nikmat ingkang diparingake dening Allah marang kita sedaya.

    Ananging ngoten, kathah umume manungsa niku mboten syukur lan matur nuwun; kathah ingkang mboten mangertos bilih perkawis-perkawis menika mujudaken berkah saha kanugrahan saking Allah subhanahu wa ta’ala. Kathah saking kita ingkang mboten mangertos sifat syukur lan kados pundi caranipun bersyukur. Allah subhanahu wata'ala ngandika:

    اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ (غافر: ٦١)

    Artosipun: "Saestunipun Allah subhanahu wa ta’ala inggih punika dzat ingkang maringaken anugerah ing umat manungsa. Namung mawon, kathah-kathah umat manungsa mboten bersyukur (dhateng Allah subhanahu wa ta’ala)" (Q.S. Ghafir: 61)

    Syukur niku wonten kalih macem; inggih punika wonten syukur ingkang wajib lan wonten syukur ingkang sunnah.

    Nopo niku syukur ingkang wajib? Inggih punika mboten migunaaken nikmat ingkang pun diparingi Allah subhanahu wa ta’ala dhateng kula lan panjenengan kagem tumindak maksiat dhateng Allah subhanahu wa ta’ala.

    Umpaminipun, nalika kula lan panjenengan dipunparingi nikmat lesan, mila kita mboten migunaaken lesan kita kagem ngujar punapa-punapa ingkang tercela; kados misuh utawi nyakiti manah liyan.

    Umpaminipun, nalika kula lan panjenengan dipunparingi nikmat rupinipun talingan, mila kita mboten migunaaken talingan kita kagem punapa-punapa ingkang mboten gadhah gina kados mirengake; midhanget aib saking sadherek kita.

    Umpaminipun, nalika kula lan panjenengan dipunparingi nikmat mripat, mila mboten migunaaken mripat kita namung kagem sumerep kanca kita susah lan kita namung mendel mboten gadhah usaha kangge nulung.

    Umpaminipun kula lan panjenengan dipunparingi banda ingkang melimpah, mila kita mboten kesupen anggone kita bersedekah.

    Dene syukur ingkang sunnah inggih punika zikir. Nopo niku? Inggih puniko tansah ngemut-emut Allah kanthi tansah muji Allah nalika kita keparingan nikmat lan tansah sabar lan sadar menawi sedaya musibah lan baliyyah menika saking Allah subhanahu wa ta’ala.

    Zikir mboten betah zikir ingkang angel, ingkang abot, ingkang ndadeake kulo lan panjenengan mengkis-mengkis; cekap kula lan panjenengan maos subhanalloh, wal hamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil adhzim wonten saben tumindak kula lan panjenengan; mila, insyaAllah kula lan panjenengan bakale kelebet dados abdan syakuro; inggih puniko kawulanipun Allah subhanahu wa ta’ala ingkang pinter lan pandai bersyukur.

    Sanadyan mekaten hadirin ingkang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, betah kula lan panjenengan ngertosi sesarengan, menawi sedaya nikmat ingkang dipunparingi dhateng kita sanes amargi kula lan panjenengan giyat ing dalem ngibadah, sanes amargi kula lan panjenengan giyat ndonga, sanes amargi kula lan panjenengan niku sholih, ananging estu Allah niku inggih punika dzat ingkang maha mulia; ingkang kuwawi nyukani [maringaken] anugerah lan karunia dhateng sedaya makhluqipun tanpa pandang wulu. Allah ngendika ing dalem al-Quran,

    وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ (النحل: ٥٣)

    Artosipun: "lan nikmat opo wae sing ana nang siro kabeh kui tekane saking Allah. Lajeng bilih siro kabeh kenging mara bebaya, mila namung dhateng Allah kedahipun siro kabeh nedha lan nyenyuwun" (Q.S. an-Nahl: 53).

    Wonten sebagian tiyang niku babar blas mboten bersyukur. Tiyang-tiyang ingkang babar pisan mboten bersyukur dhateng Allah punika kasebat tiyang ingkang takabbur, ingkang yamlikuuna sifata Iblis, ingkang ngagungi sifatipun Iblis; tegese mboten kersa nampi keleresan ingkang dipunbekta [dipunasta] dening para nabi. Piyambakipun sedaya mboten kersa beriman dhateng Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para anbiya’ wal mursalin, para wali-wali Allah, para sepuh, saha para ulama’; pada kufur lan nolak tauhid; mboten syukur dhateng Allah subhanahu wa ta'ala babar pisan, jalaran sampun nilaraken kewajiban ingkang paling dhasar lan paling utami, inggih punika al-imanu billah wal mahabbah ilaih; inggih punika iman dhateng Allah lan raos tresna kagem wusul dhateng Allah subhanahu wa ta’ala. Piyambakipun sedaya punika kelebet ingkang dipunmaksud kaliyan firman Allah ta'ala:

    وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا (الفرقان: ٢٣)

    Artosipun: "Lan Kita (Allah) bakale maring priksa sedaya amal kesaenan (ingkang dipuntindaaken kalian wong-wong kui kabeh) banjur Kita (Allah) dadosaken amal puniko kados bledug ingkang sami mabur" (Q.S. al-Furqon: 23).

    Tegesipun, sedaya amal kesaenan ingkang dipuntindaaken teng alam donyo niku mboten dipuntampi kalian Allah subhanahu wa ta’ala menawi amal kasebat mboten wonten jalaran iman dhateng Allah subhanau wa ta’ala.

    Allah sampun muji Nabi Ibrahim ing lebet firmanipun:

    اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ شَاكِرًا لِّاَنْعُمِهِ ۖ (النحل: ١٢٠-١٢١)

    Artosipun: "Saestunipun Ibrahim menika setunggaling imam (ingkang dados panutan); (ingkang) taat dhateng Allah saha hanif (mboten nate mbalelo saking agami ingkang lurus). Lan piyambakipun niku mboten nate kelebet saking (golonganipun) tiyang-tiyang musyrik. Piyambakipun menika tiyang ingkang syukur kalian nikmat-nikmatipun (Allah subhanahu wa ta’ala)" (Q.S. an-Nahl: 120-121).

    Wonten lebet tafsir at-Thabari dipunaturaken, menawi Ibrahim menika kawula ingkang tulus bersyukur dhateng Allah; kalian nikmat ingkang dipunparingaken dhateng piyambakipun; lan lebeting syukur kasebat, Ibrahim mboten nate menyekutukan Allah.

    Dene tiyang-tiyang ingkang syukur, dereng sempurna syukur piyambakipun sedaya bilih taksih nilaraken kewajiban lan nglampahaken prakawis ingkang diharamkan. Kawontenan piyambakipun sedaya wonten akhirat gumantung kersa Allah. Bilih Allah kersa, saget langsung dipunlebetaken suwarga, utawi sak wangsulipun;  saget langsung dipunlebetaken neraka. Sanadyan mekaten, percaya-a siro kabeh menawi sadayaning tiyang mukmin niku bakale mlebet dhateng suwarga kanthi rahmatipun Allah subhanahu wa ta’ala.

    Bilih keluhuran budi lan akhlak ingkang terpuji nuntut kita kagem mangsuli sesami kawulo ingkang lampah dhateng kita kanthi matur nuwun lan tumindak sae, mila langkung utami melih kita syukur dhateng Allah s.w.t. inggil nikmat-nikmatipun ingkang dipunkaruniakan dhateng kita. Imam al-Junaid nate dipuntakeni babakan syukur. Lajeng piyambakipun mangsuli:

    أَنْ لَا يُعْصَى اللهُ بِنِعَمِهِ

    "(Syukur ingkang wajib inggih punika mboten bermaksiat dhateng Allah kaliyan nikmat-nikmat-ipun)"

    Bilih, salah setunggaling tiyang ingkang menunaikan sedaya kewajiban lan nilaraken sadayaning prakawis ingkang diharamkan, mila tiyang puniko dados kawulo ingkang syaakir. Lajeng, bilih tiyang kasebat mboten disibukkan kaliyan donyo ingkang saget melalaikan syukur dhateng Allah, lan tansah rumaosi kepripun agungipun nikmat Allah lan saya kokoh ngatahi amal-amal kesaenan miyos saking kewajibanipun, mila tiyang niku dipunsebat dados kawulo ingkang syakuur (pinter bersyukur). Kawulo ingkang syakuur niku miyos sakedhik jumlahipun tinimbang kawulo ingkang syaakir. Allah ta'ala berfirman:

    وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ (سبأ: ١٣)

    Artosipun: "Lan sakedhik sanget saking kawula-kawulaKu ingkang dugi derajat syakuur" (Q.S. Saba': 13)

    Dados, tiyang-tiyang bertakwa ingkang resik saking dosa lan mboten disibukkan kaliyan donyo nganthi melalaikan syukur dhateng Allah, niku tiyang-tiyang ingkang awis sanget lan sakedhik ing antawis kaum muslimin.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    النَّاسُ كَإِبِلٍ مِائَةٍ لَا تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةً (رواه مسلم)

    Artosipun: "Umat manungsa niku ibarate satus ekor unta. Koyo tho ora nemu sopo siro ing antawis satus kui sing patut ditumpaki kanggo perjalanan” (H.R. Muslim).

    Lebet hadits puniko wonten setunggaling isyarat menawi kathah-kathah tiyang niku nggadhahi kekirangan.

    Dene tiyang-tiyang mulia ingkang zuhud kaliyan donya; mboten gagas donyo, lan naming gagas kebahagiaan akhirat kanthi ngebaki syukur, cacahing tiyang ngoten niku sakedhik sanget.

    Tiyang-tiyang pilihan niku ibarate setunggal unta ingkang patut dipundadosaken kewan titihan, ing antawis sekelompok unta ingkang wonten. Tegese, naming setunggal unta ing antawis satus unta ingkang sae lan prayogi kagem perjalanan tebih.

    Original writing by Ustadz Nur Rohmad, Syuriyah Preacher of MWCNU Dawarblandong, Mojokerto and Caregiver of Majelis Ta’lim Nurul Falah, Mojokerto
    More reading click here
    View Full
  • perakdunhill
    03.01.2022 - 3 weeks ago
    #djtiktok musictiktok djtiktokviral tiktok tiktokviral fullbass tiktokchallenge music musik musicdj tahunbaru #say something about love me
    View Full
  • donniykhristanto
    02.01.2021 - 3 weeks ago

    outdoor party full house music new year 2022 😍☝️

    https://youtu.be/ut-IxG7cHNM

    View Full
  • santrekonah
    01.01.2021 - 3 weeks ago

    Ziarah Maqbaroh Para Guru di Awal Tahun

    Hari ini Sabtu, 1 Januari 2021 adalah hari pergantian tahun atau umumnya disebut tahun baru, dalam hitungan kalender masehi. Tahun 2021 telah berlalu dan tahun 2022 baru saja dimulai. Banyak refleksi mengenai satu tahun kemarin dan mulai membangun resolusi tahun depan.

    Kondisi pandemi walaupun sudah menunjukkan penurunan yang signifikan tidak lantas membuat kita lalai. Oleh karena itu pemerintah membuat berbagai kebijakan mengenai pembatasan libur natal dan tahun baru (Nataru). Namun hal yang lebih penting adalah kesadaran dari masyarakat itu sendiri.

    Sudah hampir dua tahun tentu merupakan waktu yang cukup untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pandemi. Salah satunya adalah tidak berkerumun atau menimbulkan kerumunan.

    Saya dan keluarga memang tidak pernah merayakan tahun baru dengan jalan-jalan. Terlebih akhir-akhir ini. Walaupun kami juga tidak melarang bagi yang ingin berekreasi. Karena selain jalanan ramai, terutama jalan menuju berbagai tempat wisata, juga benyaknya pengendara atau pengemudi yang kurang waspada, sehingga cenderung membahayakan mereka dan sendiri juga orang lain.

    Bagi kami pergantian tahun atau tahun baru akan lebih baik kalau diisi dengan muhasabah, berdzikir dan berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala. Dimana hal itu senada dengan yang diingatkan oleh kakak kami sewaktu istighosah malam sebelumnya, malam Jum'at manis.

    Alhamdulillah tahun ini kami dapat melaksanakan hal tersebut di dua tempat yang keyakinan kami penuh dengan keutamaan. Pertama adalah maqbaroh KH. Baharuddin dan masyayikh Zainul Bahar. Kedua adalah maqbaroh KH. Husnan Bin Muhsin dan masyayikh Ra'iyatul Husnan. Kedua "Astah" Ini ada di Wringin Bondowoso, tempat kalahiran saya. Dan juga leluhur dari istri saya.

    Bagi kami sekeluarga berziarah ke makam para ulama dan awliya' adalah seperti menyembuhkan terhadap dahaga batin. Terutama yang bersambung (muttasil) kepada kami. Zainul Bahar adalah tempat saya dan istri menimba ilmu. Pada saat itu yang menjadi pengasuh sudah beliau KH. Moh. Nuh Bin KH. Baharuddin.

    Sementara KH. Husnan bin Muhsin adalah guru dari bapak kami. Dan tentu bapak adalah guru pertama saya walau ibu adalah masrasah pertamanya. Selain itu kami juga masih bisa sowan kepada beliau KH. Moh. Nuh Zainul Bahar dan juga KH. Faridul Ahsan Ra'iyatul Husnan atau akrab dengan sapaan Gus Dudung. Tentu yang paling utama adalah berkunjung kepada kedua orang tua kami.

    Wallahu a'lam bisshowab

    View Full
  • envirainy
    01.01.2021 - 3 weeks ago

    waktu yang berlalu, tak akan aku ucapkan selamat tinggal, aku masih membutuhkamu, akan selalu membutuhkanmu. dalam jalanku akan sering kali teringat, setiap hal yang telah aku rawat, setiap hal yang telah aku lewat. pentingku mengingat bukan untuk merawat rasa sesal, sekian banyak tertanam rasa kesal, telah banyak melewati jurang terjal, aku hanya perlu kembali mengingat tembok tebal, yang berkali aku kalahkan tanpa rasa jatuh yang fatal. aku hanya selalu takut di awal, memaki di akhir, namun hal baik yang ku ingat, aku selalu melawan di awal, meraih di akhir.

    View Full
  • siriusjaeger
    01.01.2021 - 3 weeks ago

    Kita semua adalah pengembara di dunia ini.

    Kita datang tidak membawa apapun. Sampai di dunia diberi nama, diberi hidup, diberi baju, rumah, tempat sekolah, teman dan cinta. Dari hari ke hari, satu persatu yang kita terima kembali, satu persatu kejadian tidak terulang, terus seperti itu sampai kita tiada.

    Kita adalah potongan-potongan cerita yang sudah tertulis sejak lama. Kita adalah serangkaian cerita yang tertulis berbeda.

    Selamat, kamu dipercaya untuk menggenapi tahun ini dengan ujian yang berbeda.

    View Full
  • daaralatsarindonesia
    01.01.2021 - 3 weeks ago

    📝 LARANGAN TASYABBUH

    Yaitu menyerupai orang-orang kafir dalam merayakan, memberi selamat, berpesta pora, meniup terompet dalam tahun baru dan lain-lainnya.

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum,

    maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.”

    HR. Ahmad & Abu Dawud, dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallâhu ‘anhuma, Shahihul Jaami’: 6149

    🔲Yayasan Daar Al Atsar Indonesia

    📎Instagram: @daaralatsar.indonesia

    📎Facebook : daaralatsarindonesia

    📎Twitter: daaralatsar_id

    📎Telegram: daaralatsar_indonesia

    📎Website: www.daaralatsarindonesia.com

    #nasihat #sunnah #islam #terompet #muslim #dakwah #hijrah #nasihatdiri #muslimah #kajiansunnah #nasihatislam #tauhid #petasan #kembangapi #sunnahrasul #nasihatislami #sunnahnabi #firework #fireworks #dirumahaja #hukumtahunbarudalamislam #hukumtahunbaru #laranganislam #dosa #tasyabbuh #2022 #happynewyear #pemudahijrah #salaf #tahunbaru

    View Full
  • yvkaribyronnakedgw
    31.12.2021 - 3 weeks ago

    "Mencoba tetap tegar di malam tahun baru, tanpa sedikitpun temu dan tanpa kamu"

    View Full
  • rumahkegalauan
    31.12.2021 - 3 weeks ago

    Selamat tahun baru 2022, semoga segala kegalauan kita di 2021 bisa menjadi kekuatan kita menjalani kegalauan2 di 2022. Dont worry gaes, ga ada sukses tanpa kegalauan. Sukses selalu untuk kita semua.

    View Full
  • liputan4
    31.12.2021 - 4 weeks ago

    Kapolres Blitar Tinjau Langsung Pengamanan Malam Tahun Baru di Sejumlah Titik Pos Pam Wilayah Kabupaten Blitar

    Kapolres Blitar Tinjau Langsung Pengamanan Malam Tahun Baru di Sejumlah Titik Pos Pam Wilayah Kabupaten Blitar

    Blitar, Jawa Timur Liputan4.com – Giat pengamanan perayaan malam tahun baru digelar oleh anggota Polres Blitar bersama unsur TNI dan Pemerintah Kabupaten dilaksanakan dengan melakukan penutupan di tempat-tempat pusat keramaian yang berada di tiga titik, diantaranya adalah alun-alun Kanigoro, alun-alun Lodoyo serta RPH Wlingi. Kapolres Blitar AKBP Adhitya Panji Anom, S.I.K., didampingi Kasat…

    View On WordPress

    #polresblitar tahunbaru kapolresblitar pemantauan
    View Full
  • nulisduluaja
    31.12.2021 - 4 weeks ago
    Progressku terlalu lamban pula dibumbui banyak dalih tak berguna, dan waktu tak mungkin menungguku atau memaklumiku. Sampai tak terasa, Tahun 2022 siap membersamai, siap menggertak antusiasku yang makin menyusut, tapi dilain sisi memberikan kembali kesempatan, untuk aku menyembuhkan lebam yg tak sengaja ku toreh pada jejak jejakku disepanjang jalan yg dinamai 'perjuangan'..

    ..

    Sebelumnya. Aku ingin menyampaikan satu hal. .

    _Teruntuk Desember...

    Maaf tidak banyak merekam jejak. Namun Terimakasih telah berupaya untuk terus menjejak, walau begitu lambat.

    Adapun,

    Tahun 2022 adalah tahun yang akan memberikan banyak kesan, harapan, pula ketakutan.

    Untuk kalian yang sedang ada diposisi yang sama, Salam se Perjuangan ya ^^..

    Bismillah kita yakinkan dalam hati, kedepan akan berjalan indah dan berakhir pula indah. Tak apa, ada terjal adalah biasa, hadapi saja dengan ikhtiar dan doa yang lapang

    .

    View Full